View My Stats

Sabtu, 22 Maret 2014

D. PROFIL TAFSIR AL-THABARI DAN TAFSIR IBNU KATSIR SEBAGAI REPRESENTATIF DARI TAFSIR BI AL-MA’TSUR



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
             
              Makna tafsir menurut bahasa adalah menjelaskan dan menerangkan. Contohnya pada firman Allah SWT.
Artinya : “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadami sesuatu yang paling benar dan paling baik penjelasannya”. QS : Al-furqan : 36. 
               Tafsir disini berarti penjelasan dan keterangan. Ia diambil dari kata Al-fasr yang bermakna menjelaskan dan membuka. Dalam kamus dikatakan bahwa makna Al-fasru adalah menjelaskan dan membuka sesuatu yang tertutup. Dari sini jelaslah bahwa kata Tafsir digunakan dalam bahasa arab dalam arti membuka secara indrawi. Seperti dikatakan oleh Tsa’lah dan dengan arti secara maknawi dengan memperjelas arti-arti dari dzahir redaksional.
              Sedangkan Tafsir menurut istilah yang paling cocok adalah yang dikutip oleh As-Suyuthi dari Az-Zarkasyi, “Ia adalah ilmu untuk memahami kitab Allah SWT, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan merupakan penjelasan makna-makna serta kesimpulan, hikmah dan hukum-hukum. Sebagian ulama juga memberikan definisi yang hampir sama. Ia adalah ilmu yang membahas redaksi-redaksi Al-qur’an, dengan memperhatikan pengertian-pengertiannya untuk mencapai pengetahuan tentang apa yang dikehendaki oleh Allah SWT, sesuai dengan keadaan manusia.[1]
Pembagian Tafsir secara ilmiah, tafsir terbagi menjadi tiga bagian:
Tafsir bil-ma’tsur ( bir-riwayah ) Tafsir bir-ra’yi ( bid-dirayah ) Tafsirul isyari ( bil-isyarah ) Tafsir bil Izdiwaji ( campuran ).
Tafsir merupakan salah satu pembahasan penting dalam ulumul qur’an. Karena tafsir merupakan sarana untuk mencapai tujuan daripada ulumul qur’an, yaitu mengetahui dan memahami isi al-Qur’an, mengambil hukum-hukum dan hikmah-hikmah yang terdapat didalamnya, dan lain sebagainya. Dari segi metodologi ilmiah, metode penafsiran al-Qur’an secara global dibagi menjadi dua macam: Tafsir bil-Ma’tsur dan Tafsir bil-Ra’yi. Adapun yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tafsir bil ma’tsur.
Tafsir bil ma’tsur adalah metode penafsiran al-Qur’an dengan teks atau penukilan: Mencakup penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, yaitu penafsiran ayat satu dengan ayat lainnya; penafsiran al-Qur’an dengan hadis nabi dan dengan qoul (ucapan/penjelasan) para sahabat nabi dan tabi’in atau hadis mauquf. Adapun mengenai penafsiran al-Qur’an dengan qoul tabi’in, sebagian ulama menganggap bahwa hal tersebut termasuk dalam metode tafsir bil ra’yi. Akan tetapi disini kami menganggapnya termasuk dalam metode tafsir bil ma’tsur.

Tafsir bil ma’tsur merupakan cabang ulumul qur’an pertama yang dikodifikasi. Adapun ulama yang berperan dalam pengkodifikasian tafsir bil ma’tsur, secara tidak langsung adalah mereka para rijalul hadits (orang-orang yang terlibat dalam periwayatan hadis). Dikatakan bahwa orang pertama yang mengkodifikasi tafsir bil ma’tsur melalui metode penafsiran al-Qur’an dengan hadis nabi adalah Imam Malik bin Anas. Kemudian pada abad selanjutnya, abad kedua hijriyah, muncul metode penafsiran dengan qaul para sahabat nabi dan tabi’in seperti pada tafsirnya Sufyan bin ‘Uyainah, Waki’ bin Jarah, Syu’bah bin Hajaj, dan lain sebagainya. Sedangkan Ibnu Jarir ath-Thabari mengumpulkan semua metode penafsiran al-Qur’an dengan teks tersebut; baik dengan al-Qur’an, hadis nabi maupun qaul para sahabat dan tabi’in dalam tafsirnya.[2]

Akan tetapi, metode tafsir bil ma’tsur ini dinilai lemah oleh para ulama, walaupun banyak pula kelebihan-kelebihannya. Karena termasuk dalam metode tersebut adalah penukilan qaul para sahabat dan tabi’in. Para ulama menilai hal tersebut hampir kurang dari derajat tsiqah (dapat dipercaya) jika tidak dengan kesungguhan para ulama dalam memverifikasi teks. Sampai-sampai Imam Syafi’i berkata demikian: “Tafsiran Ibnu Abbas itu tidak bisa ditetapkan sebagai pedoman, kecuali hanya keserupaan dengan seratus hadis”. Adapun mengenai metode penafsiran dengan al-Qur’an maupun al-Hadits, para ulama sepakat akan kebenarannya.
Secara global, ada tiga sebab penting yang menjadikan metode tafsir bil ma’tsur ini lemah, yaitu: dimasukkannya isra’iliyat dalam tafsir, penggelapan atau pembuangan sanad-sanad, dan yang ketiga adalah adanya al-wadl’u (karangan) dalam tafsir. Ketiga sebab ini sangat berakibat dan mempengaruhi terhadap lemahnya metode tafsir bil ma’tsur.
Beberapa kitab-kitab tafsir yang penting dan masyhur yang menggunakan metode penafsiran dengan tafsir bil ma’tsur, diantaranya: Jami’ul Bayan Fi Tafsiril Qur’an karya Imam al-Thabari, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim karya Imam Ibnu Katsir, Lubab al-Ta’wil Fi Ma’ani al-Tanzil karya Imam al-Khozin, dan al-Jawahir al-Hassan Fi Tafsir al-Qur’an karya Imam al-Tsa’alibi.[3]


















BAB II
PEMBAHASAN

AL-TAFSIR BI AL-MA’TSUR
(Tafsir Al-Thabari Dan Tafsir Ibnu Katsir)

A. PENGERTIAN TAFSIR BI  AL-MA’TSUR
Terkait dengan poin ini ada tiga istilah yang memiliki makna sama dan dipakai dalam tingkat keseringan yang hampir sama pula, yaitu: bi al-ma’tsûr, bi al-ma’qûl dan bi al-riwâyah.  Kata bi al-ma’tsûr dipakai sebagai antonim bi al-ra’yi, Kata bi al-manqûl/’naqli dipakai sebagai antonim bi ma’qûl/aqli dan bi al-riwâyah dihadapkan dengan bi al-dirâyah.
Tafsîr bi al-ma’tsûr secara bahasa terdiri dari dua kata yaitu tafsîr[4]  dan ma’tsûr. Kata ma’tsûr merupakan isim maf’ûl dari kata أثراً (atsran) dengan makna manqûl (sesuatu yang disampaikan dari seseorang pada yang lainnya). Jika dikatakan أثر الحديث   maka maksudnya adalah نقله و رواه عن غيره (menyampaikan atau meriwayatkannya dari orang lain).[5]
Sedangkanالأثر  adalah الخبر المرويّ و السنة الباقية  (khabar yang diriwayatkan atau sunnah berupa peninggalan)[6]. Di dalam Mu’jam al-Washît مأثور itu sendiri diartikan dengan  الحديث المروي، وما ورث الخلاف عن السلاف (hadîts  yang diriwayatkan, atau sesuatu yang diterima orang belakangan/khalâf dari orang-orang terdahulu/salâf). Ini juga sejalan dengan yang ditulis Ibn Manzhûr yaitu: يخبر الناس به بعضهم بعضا، أي ينقله خلاف عن سلاف   (hadîts  yang disampaikan antara sesama manusia atau sesuatu yang diterima orang belakangan/khalâf dari orang-orang terdahulu/salâf).[7]
Maka مأثور dapat didefenisikan sebagai istilah/penyebutan untuk sesuatu yang diterima khalâf dari salâf baik berupa ilmu, hadîts, riwayat, dan lain sebagainya.
Jadi dinamai dengan nama ma’tsûr (dari kata atsâr yang berarti sunnah, hadîts, jejak, peninggalan) karena dalam melakukan penafsiran seorang mufassir menelusuri jejak atau peninggalan masa lalu dari generasi sebelumnya terus sampai kepada Nabi Saw
Adapun manqûl merupakan berasal dari kata نقلا (نقل- ينقل-نقلا), ما علم من طريق الرواية أو السماع yang berarti (sesuatu yang diketahui lewat cara periwayatan atau proses mendengar)
Sedangkan secara terminologi tafsîr bi al-ma’tsûr adalah sebagaimana yang didefenisikan para ahli berikut ini: 
1) Muhammad Husain al-Dzahabiy
ما جاء في القرأن نفسه من البيان وتفصيل لبعض اياته، وما نقل عن الرسول الله صلى الله عليه وسلم، وما نقل عن الصحابة رضوان الله عليهم، وما نقل عن التابعين, من كل ما هو بيان وتوضيح   لمراد الله تعالى من نصوص كتاب الكريم.  
Artinya: Sesuatu yang berasal dari al-Qur’ân berupa penjelasan atau uraian bagi sebahagian ayatnya, atau sesuatu yang berasal dari Rasul (hadîts, penulis), atau  yang berasal dari para sahabat ra dan dari tabi’in, selama (semua itu) berupa penjelasan atau uraian mengenai maksud Allâh Swt dari nash kitab al-Qur’ân.
2) Muhammad ‘abd al-‘Azhîm al-Zarqâniy dan Muhammad ‘Âliy al-Shabûniy  
ما جاء في القرأن، أو السنة, أو كلام الصحابة، بيانا لمراد الله تعالى . 
Artinya: Sesuatu yang berasal dari al-Qur’ân, atau Sunnah maupun perkataan sahabat yang menjelaskan maksud Allâh Swt (di dalam al-Qur’ân)[8]
3) Shalâh ‘abd al-Fattâh al-Khâlidiy
ما روي عن الرسول الله صلى الله عليه وسلم، او الصحابة، او التابعين، من رواية نقلية مروية في تفسير القرأن
Artinya: Sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Saw, dari para sahabat atau tabi’in berupa riwayat yang terkait dengan penafsiran al-Qur’ân 
4) Fahd ‘abd al-Rahmân Sulaimân al-Rûmiy                             
التفسير بالمعثور هو التفسيرالذي يعتمد على صحيح المنقول والأثار الواردة في الاية فيذكرها، ولا يجتهد فى بيان معنى من غير دليل, ويتوقف عما لا طائل تحته, ولا فائدة في معرفة ما لم يرد فيه نقل صحيح   
Artinya: Tafsîr bi al-ma’tsur adalah tafsîr yang berdasarkan pada kutipan-kutipan/riwayat yang shahîh  atau atsâr yang datang sebagai penjelas ayat al-Qur’ân, yang tidak akan menjelaskan makna tanpa adanya dalil, menghindarkan diri dari pembicaraan yang tidak bermanfaat, selama tidak ada riwayat yang shahîh  tentang itu.[9]
5) Menurut Mana’ al-Qatthân
التفسير بالمعثورهو الذي يعتمد على صحيح المنقول...، من تفسير القرأن با القرأن، أو با لسنة لأنها جاءت مبينة لكتاب الله، أو بما روي عن الصحابة لأنهم أعلم الناس بكتاب الله، أو بما قاله كبار التابعين لأنهم تلقوا ذالك غالبا عن الصحابة. [10]   
Artinya: Tafsîr bi al-ma’sûr adalah tafsîr yang berdasarkan pada kutipan-kutipan/riwayat yang shahîh …, berupa tafsîr al-Qur’ân dengan al-Qur’ân, atau dengan Sunnah (karena Sunnah berfungsi sebagai penjelasan bagi kitab Allâh), atau dengan riwayat yang berasal dari para sahabat (karena mereka termasuk orang yang paling mengerti dengan kitab Allâh), atau dengan perkataan para tabi’in besar, karena mereka senantiasa mendapatinya dari para sahabat.
Jika dicermati lima buah defenisi di atas, maka terdapat beberapa persamaan, dan perbedaan. Tetapi meski demikian penulis dapat merumuskan beberapa poin:
1) Tafsîr bi al-ma’tsûr adalah tafsîr yang berdasarkan riwayat yang shahîh .
Terutama dengan defenisi yang disampaikan al-Rûmiy dan Mana’ Khalîl al-Qaththan, mereka telah mewanti-wanti pendapat banyak kalangan yang meragukan tafsîr bi al-ma’tsûr karena banyak dipengaruhi oleh riwayat isrâiliyât dan riwayat yang dha’îf. Maka bagi mereka sesuatu yang dikatakan dengan tafsîr bi al-ma’tsûr mestilah bersumber dari riwayat yang shahîh . [11]
2)  Penafsiran Tafsîr bi al-ma’tsûr dapat berupa al-Qur’ân, Sunnah dan perkataan sahabat.
3)   Khusus dengan perkataan tabi’in terdapat perbedaan di kalangan ulama. Di antara ulama yang menganggap perkataan ulama sebagai sumber tafsîrbi al-ma’tsûr adalah al-Dzahabiy dan al-Khâlidiy serta mana’ Khalil al-Qatthan. Sedangkan al-Shabuniy dan al-Zarqani cuma menjadikan al-Qur’ân, Sunnah dan perkataan sahabat sebagai sumber tafsîr bi al-ma’tsûr
4)  Di dalam tafsîr bi al-ma’tsûr sangat dihindari pembahasan yang tidak terkait langsung dengan makna ayat, serta pembahasan yang tidak memiliki dalil yang kuat. Ini sebagai mana yang dijelaskan oleh al-Rûmiy.
Singkatnya tafsîr bi al-ma’tsûr adalah tafsîr yang berdasarkan pada riwayat yang shahîh , berupa tafsîr al-Qur’ân dengan al-Qur’ân, dengan Sunnah, atau dengan riwayat yang berasal dari para sahabat, serta menghindari pembicaraan yang tidak terkait lansung dengan penafsiran, selama tidak ada riwayat yang shahîh  tentang itu.

Sebagaimana dijelaskan Al-Farmawi, tafsir bil al-ma’tsur (disebut pula bi ar-riwayah dan an-naql) adalah penafsiran Al-Quran yang mendasarkan pada penjelasan Al-Quran sendiri, penjelasan nabi, penjelasan para sahabat melalui ijthadnya , dan pendapat (aqwal) tabiin. Penafsiran dari Nabi Muhammad SAW, ayat-ayat tertentu juga berfungsi menafsirkan ayat yang lain. Ada yang langsung ditunjukan oleh Nabi bahwa ayat-ayat tersebut ditafsirkan oleh ayat lain; ini masuk kelompok tafsir bil ma’tsur (tafsir melalui  riwayat).
Menurut Kahar Mansyur tafsir bil ma’tsur ini berdasarkan sahih manquulnya Al-Quran dengan Al-Quran atau sunah atau dengan perkataan sahabat Rasul SAW atau tabiin.Tafsir ini mempertahankan atas atau peninggalan sahabat yang bertalian dengan pengertian ayatnya. Dia kaitkan dan tidak berijtihad dalam menerangkan pengertian asalnya dan bertahan pada hal yang tidak berguna. [12]Pada devirasi yang lain Said Agil Husin Al Munawar dalam bukunya yang berjudul Al-Quran membangun tradisi kesalehan hakiiki menjelaskan bahwa: “ penafsiran atau penjelasan ayat Al-Quran terhadap maksud ayat al-quran yang lain. Termasuk dalam tafsir bil matsur adalah penafsiran al-quran dengan hadis-hadis  yang diriwayatkan dari Rasullulah SAW. Penafsiran al-quran dengan pendapat para  sahabat berdasarkan ijtihad mereka , dan penafsiran al-quran dengan pendapat tabiin.[13]



B. BENTUK-BENTUK TAFSIR BI  AL-MA’TSUR

Bentuk-Bentuk Tafsir bil Ma’tsur atau bi Riwayah
a. Penafsiran Al-Qur’an Dengan Al-Qur’an
Contoh, seperti firman Allah :
وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ) .الطّارق:  1   (
Artinya : “Demi langit dan yang datang dimalam hari”.QS. Ath-Thariq : 1
النَّجمُ الثَّاقِبُ ).الطّارق: ۳ (
Artinya : “Ialah bintang yang bercahaya”. QS. Ath-Thariq : 3
Kemudian firman Allah ‘Azza wa jalla :
فَتَلَقّى ادَمُ مِن رَّبِّه كَلِمتٍ فَتَابَ عَلَيهِ‌ اِنَّه هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ‏ ﴿ البَقَرَة:  ۳۷
Artinya : “Kemudian Adam memperoleh beberapa kalimat dari tuhannya (ia mohon ampun), lalu Allah menerima tobatnya”. QS. Al-Baqarah : 37.
Ditafsirkan dengan firman Allah :
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمنَاأَنفُسَنَا وَإِن لَّمتَغفِرلَنَا وَتَرحَمنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلخَـسِرِينَ )الاٴعرَاف: ٢٣(
Artinya : “Keduanya berkata, ya tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, jika engkau tidak ampuni kesalahan kami dan tidak engkau asihi kami, tentulah kami orang yang merugi”. QS. Al-A’raf : 23.
Lagi firman Allah ‘Azza wa jalla :
إِنَّاأَنزَلنَـهُ فِى لَيلَةٍ مُّبَـرَكَةٍ‌ ) الدّخان:٣(
Artinya : “Sesungguhnya kami menurunkan dia pada malam yang penuh berkah”. QS. Ad-Dukhan : 3.
Ditafsiri dengan firman Allah :
إِنَّاأَنزَلنَـهُ فِى لَيلَةِ ٱلقَدرِ (القَدر: ١(
Artinya : “Sesungguhnya telah kami turunkan Al-qur’an pada malam Qadar (malam mulia atau taqdir”. QS. Al-Qadar : 1.
Penafsiran Al-qur’an dengan Al-qur’an adalah bentuk tafsir yang tertinggi. Keduannya tidak diragukan lagi untuk diterimanya yang pertama, karena Allah SWT. Adalah sumber berita yang paling benar, yang tidak mungkin tercampur perkara batil dari-Nya. Adapun yang kedua, karena himmah Rasul adalah Al-qur’an, yakni untuk menjelaskan dan menerangkan.[14]

b. Penafsiran Al-Qur’an dengan Hadits
Allah ‘Azza wa jalla berfirman :
وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا ٱستَطَعتُم مِّن قُوَّةٍ ) … الاٴنفَال: ٦٠(
Artinya : “Hendaklah kamu sediakan untuk melawan mereka, sekedar tenaga kekuatanmu … “. QS. Al-Anfal : 60.
                 Nabi SAW. Menafsirkan kata Al-quwwah ( القٌوَّةُ ) dengan Ar-Ramnya  ( الرَّمْيُ ) yang artinya panah. Sabda Nabi : “ingat, sesungguhnya kekuatan adalah anak panah, ingat, sesungguh-Nya kekuatan adalah anak panah”.

c. Tafsir Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it-Tabi’in
Sesungguhnya tafsir para sahabat yang telah menyaksikan wahyu dan  turunya adalah memiliki hukuman marfu’ artinya, bahwa tafsir para sahabat mempunyai kedudukan hukum yang sama dengan Hadits Nabawi yang diangkat dari Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, tafsir sahabt itu termasuk ma’tsur.
Adapun tafsir para tabi’in dan tabi’it-tabi’in ada perbedaan pendapat dikalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat, tafsir itu termasuk ma’tsur, karena tabi’in itu bejumpa dengan sahabat. Ada pula yang berpendapat, tafsir itu sama saja dengan tafsir bi ra’yi (penafsiran dengan pendapat). Artinya, para tabi’in dan tabi’it-tabi’in itu mempunyai kedudukan yang sama dengan Mufasyir yang hanya menafsirkan berdasarkan kaidah bahasa arab.[15]
                  
Kelemahan-Kelemahan Tafsir bil Ma’tsur Diantaranya :
a.    Adanya riwayat dhoif, dan mungkar dari riwayat yang didapat dari Rasulullah, sahabat dan tabi’in
b.    Pertentangan riwayat satu sama lain. Misalnya, kita mendapat riwayat dari Ibnu Abbas tentang tafsir firman Allah SWT.
     “ …… dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali  yang (biasa) tampak darinya ……” (an-Nur : 31).
     Ia adalah celak mata dan cincin, atau wajah dan kedua telapak tangan. Kemusian darinya diriwayatkan tentang satu ayat dalam surat al-Ahzam.    “ …. Hai…,Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka …” (al-Ahzab : 59).
c.    Diantara riwayat adalah pendapat seseorang yang tidak terjaga dari kesalahan. Oleh karena itu, kita mendapati para sahabat dan tabi’in kadang-kadang berbeda satu sana lain. Dalam banyak kesempatan itu adalah perselisian benturan. Ini menunjukan bahwa mereka menafsirkan dengan rasio mereka.[16]
d.   Tafsir bil ma’tsur, seperti diriwayatkan kepada kita bukan tafsir yang mengkaji surat persurat, dan dalam satu surat mengkaji ayat perayat, dan dalam satu ayat dikaji kalimat perkalimat.
e.    Riwayat-riwayat tersebut penuh dengan cerita-cerita Israiliyah yang memuat banyak Khurafat yang bertentangan dengan akidah islam.
f.     Sebagian ulama madzhab memuratbalikan beberapa pendapat. Mereka berbuat kebatilan, lalu menyandarkan kepada sebagian para sahabat seperti para ulama madzhab Syi’ah.
g.    Sesungguhnya musuh islam dari golongan kafir Zindiq bersembunyi dibelakang para sahabat dan para tabi’in sebagaimana mereka bersembunyi dibelakang Rasulullah SAW. Dalam rangka menjalankan misinya, merobohkan agama denagan cara “ bersembunyi dan menyusup “. Maka dari segi ini, perlu adanya penelitian yang sungguh-sumgguh terhadap pendapat-pendapat yang disandarkan kepada para sahabat dan tabi’in.[17]


C. SUMBER-SUMBER TAFSIR BI  AL-MA’TSUR DAN URUTAN PENGGUNAANNYA

Di dalam menentukan sumber tafsîr bi al-ma’tsûr para ulama berbeda pendapat, di antaranya al-Rûmiy menjadikan sumber tafsîr be al-ma’tsûr itu menjadi 4 macam yaitu: al-Qur’ân, Sunnah Nabi, Perkataan sahabat dan penafsiran tabi’in[18]. Al-Khâlidiy menjadikan sumber tafsîr bi al-ma’tsûr menjadi 5 macam –dengan tidak memasukkan al-Qur’ân- yaitu: Hadîts  Shahîh  yang marfû’ kepada Nabi, Perkataan shahîh  sahabat yang terkait dengan penafsiran ayat al-Qur’ân, Perkataan tabi’in yang shahîh , al-qirâ’ât al-syâdz dan al-qirâ’ât al-tafsîriah.
Berikut penulis jelaskan satu-persatu sumber-sumber tafsîr bi al-ma’tsûr, yang merupakan gabungan dari beberapa pendapat ulama:

1)      AYAT AL-QUR’ÂN
Maksudnya sesuatu ayat menjadi penjelas atau tafsîr bagi ayat lainnya. Menurut al-Zarqaniy al-Qur’ân adalah sumber tafsîr paling utama, mengingat Allâh adalah yang paling tahu dengan maksud ayat, dibanding yang lainnya, dan sebenar-benar perkataan tentulah kitab Allâh.[19] 
Tafsîr al-Qur’ân dengan al-Qur’ân dengan merupakan sebaik-baik tafsîr. Terkait dengan hal ini Ibn Taimiyah berkata:
أصح الطرق في ذالك أن يفسر القرأن بالقرأن، فما أجمل في مكان فانه قد فسّر في موضع اخر، وما اختصر في مكان فقد بسط في موضع اخر... [20]  
Artinya: Metode yang paling shahîh  dari cara menafsirkan Al-Qur'an adalah menafsirkan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an. Karena sesuatu yang mujmal di suatu tempat (ayat), terkadang dijelaskan di tempat (ayat) lainnya. Apa yang diringkas dalam suatu ayat, dirinci di tempat (ayat) yang lain… 
Perkataan Ibn Taimiyah ini sangat benar, tetapi meski demikian menurut penulis penafsiran al-Qur’ân dengan al-Qur’ân ini, tetap tidak tertutup akan kesalahan, karena bagaimanapun usaha menafsirkan ayat dengan ayat juga membutuhkan ijtihâd dari seorang mufassir (yaitu dalam menentukan mana ayat yang paling tepat menjadi tafsîr bagi ayat tertentu). Jadi untuk menentukan sebuah ayat yang akan menjadi tafsîr bagi ayat lain, mestilah seorang mufassir betul-betul memahami kedua ayat, sehingga tidak salah di dalam pemahaman dan penafsiran.
Tepatnya –menurut penulis- penafsiran al-Qur’ân dengan al-Qur’ân barulah dikatakan tafsîr terbaik, dan terhindar dari kesalahan, jika penafsiran itu di dasarkan pada riwayat yang shahîh pula. Seperti adanya riwayat yang menjelaskan jika Nabi atau para sahabat memang menafsirkan sebuah ayat dengan ayat tertentu. Maka selama penafsiran itu tidak bersumber dari riwayat yang betul-betul shahîh, kemungkinan salah di dalam penafsiran tersebut tetap ada. Berdasarkan hal ini pulalah, Makanya penulis sangat tertarik dengan defenisi tafsîr bi al-ma’tsûr yang dituliskan al-Khâlidiy -ما روي عن الرسول الله صلى الله عليه وسلم، او الصحابة، او التابعين، من رواية نقلية مروية في تفسير القرأن – yang tidak menjelaskan penafsiran al-Qur’ân dengan al-Qur’ân sebagai salah satu bentuk tafsîr bi al-ma’tsûr, karena memang di dalam menentukan sebuah ayat menjadi tafsîr bagi ayat lain merupakan sebuah ijtihâd dari mufassir, dan bukan sebuah atsâr/manqûl.
Contoh penafsiran al-Qur’ân dengan al-Qur’ân, ungkapan (فَتَلَقَّى ءَادَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ) dalam firman Allâh QS. al-Baqarah: 37, dijelaskan lewat ayat lain, QS. al-A’raf: 23 berikut: 
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Maka dapat dipahami bahwa كَلِمَاتٍ yang dimaksud di dalam surat al-Baqarah di atas maksudnya adalah kalimat do’a yang terdapat di dalam surat al-A’raf tersebut.

2)      HADÎTS  SHAHÎH  YANG MENJELASKAN MAKNA AYAT AL-QUR’ÂN.
Sebagaimana dimaklumi, salah satu fungsi hadîts  Nabi adalah sebagai penjelas bagi ayat al-Qur’ân. Maka jalan utama mendapatkan pemahaman yang benar terhadap kitab Allâh adalah dengan merujuk kepada hadîts  Nabi Saw, ini sesuai dengan firman Allâh: بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِوَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ  Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44) [21]
Selain ayat ini Nabi juga pernah bersabda
اوتيت الكتاب ومثله معه [22]
Artinya: “Ketahuilah aku telah diberi Al-Qur'an dan yang semisalnya (yaitu Al-Sunnah) bersamanya.”
Satu hal yang mesti digarisbawahi adalah bahwa hadîts  Nabi yang dijadikan sumber tafsîr bi al-ma’tsûr tersebut haruslah hadîts  marfû’ yang shahîh, bukan hadîts  yang dha’îf, apalagi hadîts  yang palsu. Untuk itu sangat dibutuhkan usaha men-takhrîj hadîts  tersebut sebelum tergesa-gesa menjadikannya sebagai sumber tafsîr. Di antara contoh tafsîr dengan hadîts  Nabi yang shahîh  adalah penafsiran ayat al-Qur’ân surat al-Baqarah: 22 فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ  dengan hadîts  dari ‘abd Allâh yang bertanya kepada Nabi terkait dosa besar, maka beliau menjawab: أن تجعل لله ندا وهو خلقك [23]

3)      PERKATAAN SAHABAT[24]  YANG TERKAIT DENGAN PENAFSIRAN AYAT AL-QUR’ÂN
Menjadikan perkataan sahabat sebagai sumber tafsîr bi al-ma’tsûr dengan alasan, mengingat para sahabat merupakan orang yang lebih tahu dan menyaksikan bagaimana kondisi ayat al-Qur’ân tersebut diturunkan,  serta mereka memiliki pemahaman yang sempurna terhadap makna ayat. [25] Alasan lain adalah bahwa mereka adalah orang yang hari-harinya banyak bersama Rasul, mengetahui asbâb al-nuzûl dan memiliki nilai lebih terkait fashahah dan bayân.   [26]Maka penafsiran sahabat berada pada posisi kedua setelah hadîts  Rasul.
Mengenai bagaimana pengetahuan sahabat terhadap ayat al-Qur’ân, berikut penulis kemukakan beberapa perkataan ulama, termasuk perkataan sahabat itu sendiri:
a)      Ibn Mas’ûd Berkata:
سلوني، فو الذي لا إله غيره ما نزلت اية من كتاب الله تعالى إلا وأنا اعلم فيم نزلت، وأين نزلت، ولو أعلم مكان أحد أعلم بكتاب الله مني تناله المطايا لأتيته  [27]
Artinya: “Tanyakanlah kepadaku, demi Allâh yang tidak ada Tuhan Selain Dia, Tidaklah sesuatu ayat yang diturunkan Allâh, kecuali saya mengetahui bagaimana kondisi ayat itu turun dan di mana ayat itu diturunkan. Jikalaulah  Saya mengetahui  ada seseorang di suatu tempat yang lebih mengetahui kitab Allâh (al-Qur’ân) dibanding saya, niscaya saya akan menemuinya.”
b)      Abu ‘abd al-Rahmân al-Sullâmiy berkata:
حدثنا الذين كانوا يقرؤوننا القرأن، كعثمان ابن عفّان و عبد الله بن مسعود، انهم كانوا إذا تعلموا من انبي صلي الله عليه و سلم عشر لم يجاوزها حتى يتعلم ما فيها من العلم و العمل. قالوا: فتعلمنا القرأن  والعلم والعمل معا [28] 
Artinya: “Telah meriwayatkan/ menceritakan kepada kami mereka yang senantiasa mengajarkan al-Qur’ân kepada kami –yaitu para sahabat Nabi seperti ‘Usmân ibn ‘Affân dan ‘abd Allâh in Mas’ûd, bahwasanya jika mereka mempelajari 10 ayat al-Qur’ân dari Nabi, mereka tidak akan menambah hingga mereka dapat mengetahui dan mengamalkannya, mereka berkata: ‘Kami mempelajari al-Qur’ân, sekaligus mengetahui dan mengamalkannya”
Meski demikian para ulama juga tetap mewanti-wanti bahwa perkataan sahabat yang dianggap sebagai tafsîr bi al-ma’tsûr adalah perkataan mereka yang terkait dengan tafsîr dan diriwayatkan dengan jalur sanad yang shahîh.  Secara umum bentuk-bentuk penafsiran sahabat itu adalah: menafsirkan al-Qur’ân dengan al-Qur’ân, dengan Sunnah, dengan ungkapan/riwayat yang di-marfu’-kan kepada Nabi tetapi tidak secara sharih, dengan kaidah bahasa Arab, dengan ijtihâd ataupun dengan pendapat sahabat lainnya serta berdasarkan pengetahuan mereka dengan kondisi turunnya ayat. [29]
Di antara contoh perkataan sahabat di dalam tafsîr adalah ketika Ibn ‘Abbâs menafsirkan ayat Allâh berikut:
وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا ءَاتَيْتُمُوهُنَّ
Kata تَعْضُلُوهُنّ beliau artikan dengan لاتقهروهنّ  [30]
4)      PERKATAAN TABI’IN TERKAIT DENGAN PENAFSIRAN AYAT AL-QUR’ÂN
Banyak para ulama yang menjadikan perkataan tabi’in yang shahîh  sebagai sumber tafsîr bi al-ma’tsûr, mengingat para tabi’in tersebut adalah murid para sahabat Nabi, yang paling memahami al-Qur’ân setelah sahabat itu sendiri.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Dan kita mengetahui bahwa al-Qur'ân telah dibaca oleh para sahabat, tabi’in dan orang-rang yang mengikuti mereka. Dan bahwa mereka paling tahu tentang kebenaran yang dibebankan Allâh kepada Rasûl Allâh untuk menyampaikannya.” [31] 
Di antara tabi’in tersebut adalah Mujâhid bin Jabir, Sa'id bin Jubair, Ikrimah, Atho' bin abi Rubah, Al-Hasan Al-Bashri, Masrûq bin Al-Ajda', Sa'id bin Al-Musayyib, Abu 'Aliyah, Rhabi' bin Anas, Qotadah, Adh-Dhahak bin Muzâhim dan lain-lainya. [32]
Berikut akan penulis kemukakan beberapa perkataan ulama yang bisa dijadikan penguat bahwa perkataan tabi’in tersebut memang sangat patut dijadikan sumber tafsîr:
-          Ibn Abi Malikah berkata:
رأيت مجاهداً يسأل ابن عباس عن تفسير القرأن، فيقول له ابن عباس: اكتب. حتى سأله عن تفسير كله!  [33]
Artinya: “Saya melihat Mujâhid (seorang tabi’in, penulis) bertanya kepada Ibn ‘Abbâs mengenai tafsîr al-Qur’ân, sehingga ibn ‘Abbâs berkata kepadanya, ‘Tulislah!’, Sehingga ia menanyakan semuanya tentang tafsîr (kepada Ibn ‘Abbâs)”
-          Sufyân al-Tsauri berkata:
 إذا جاءك التفسير عن مجاهد فحسبك به
Artinya:“jika kamu mendapati tafsîr dari Mujâhid, maka  yang demikian telah memadai bagimu. [34]
-          Mujâhid berkata:
 عرضت المصاحف على ابن عباس ثلاث عرضات، من فاتحة إلى خاتمته، أوقفه عند كل اية منها، وأسأله عنها فيما أنزلت، وكيف أنزلت
Artinya: “Saya telah menyodorkan mushhaf kepada Ibn ‘Abbâs sebanyak tiga kali –dari awal sampai akhir- maka saya memperhatikan ayat perayatnya, dan saya bertanya kepadanya tentang bagaimana kondisi dan dimana ayat itu diturunkan [35]
 Secara umum bentuk-bentuk penafsiran tabi’in itu adalah: menafsirkan al-Qur’ân dengan al-Qur’ân, dengan Sunnah, dengan perkataan sahabat, dengan kaidah bahasa Arab, dengan ijtihâd, dengan pendapat tabi’in lainnya serta berdasarkan pengetahuan mereka dengan kondisi masyarakat waktu turunnya ayat.[36]
Di antara contoh tafsîr yang berasal dari perkataan tabi’in adalah perkataan Mujâhid terkait ayat Allâh di dalam al-Naba’ “لَا يَرْجُونَ حِسَابًا” menurut Mujâhid berarti  [37]لا يخافون حسابا

5)      AL-QIRÂ’ÂT AL-SYÂDZ
Al-Qirâ’ât al- Syâdz yaitu Qirâ’ât yang dinisbahkan kepada imam-imam qurra’ dari kalangan tabi’in dan tabi’ tabi’in yang tidak memenuhi syarat Qirâ’ât Shahîh .[38]  Menurut Mana’ Khalîl al-Qaththan al-qirâ’ât syâdz adalah: ما لم يصح سنده (Qirâ’ât yang sanadnya tidak shahîh ). [39] 
   Di antara yang termasuk al-qirâ’ât syâdz tersebut adalah Qirâ’ât yang disandarkan kepada imam qurra’ yang empat yaitu:
a)      Ibn Muhaishin, yaitu Muhammad ibn ‘abd al-rahman al-Sahm al-makiy, yang merupakan imam qurra’ bagi masyarakat Makkah
b)      Al-A’masy, yaitu Sulaiman ibn Mihran al-Kûfiy, yang merupakan imam qurra’ bagi masyarakat Kufah
c)      Hasan ibn Yasâr al-Bashriy, yaitu yang merupakan imam qurra’ dari Bashrah
d)     Al-Yazidiy, yaitu Yahya ibn Mubârak al-‘Adawiy al-Bashriy yang juga merupakan imam Qurra’ dari Bashrah.
Qirâ’ât yang empat ini, telah disepakati ulama bahwa ia bukanlah al-Qur’ân, tetapi ini akan membantu di dalam menafsirkan dan menjelaskan makna ayat. Dari sisi ini,  al-qirâ’ât al-syâdz dapat digolongkan sebagai sumber tafsîr bi al-ma’tsûr. Di antara ulama yang menjadikan al-qirâ’ât al-syâdz sebagai sumber tafsîr bi al-ma’tsûr adalah Syaikh abd al-Fatâh al-Qâdhiy. Beliau mengungkapkan
: واذ قد علمت أنّ القراءة الشاذة لا تجوز القراءة بها مطلقا، فاعلم انه يجوز تعلّمها و تعليمها، وتدوينها في الكتاب، وبيان وجهها من حيث اللغة و الإعراب و المعنى، والإستنباط الأحكام الشرعية منها  [40]
Di antara contoh al-qirâ’ât al-syâdz yang dijadikan tafsîr bagi ayat Allâh adalah sebagai berikut: Firman Allâh Surat al-Baqarah: 104
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Dalam Qirâ’ât yang shahîh  kata رَاعِنَا ditulis dengan tidak memakai tanwin. Sehingga dipahami jika kata tersebut adalah fi’il amr dari kata راعي – يراعي, yang fa’il-nya adalah dhamir mustatir yang takdir-nya adalah أنت (kamu), sedangkan  ناadalah dhamir muttashil pada posisi nashb sebagai maf’ul bihi (objek). Maka menurut Qirâ’ât yang shahîh  kata رَاعِنَا berarti أمهلنا و أنظرنا ولا تعجل علينا (tangguhkanlah/ tunggulah dan jangan segerakan atas kami).
Namun di dalam Qirâ’ât yang syâdz –yaitunya Qirâ’ât Ibn Muhaishin dan Hasan al-Bashriy-  kata رَاعِنَا dibaca dengan tanwin yaitu رَاعِنًا. Maka menurut Qirâ’ât ini kata رَاعِنًا merupakan shifat bagi mashdar yang mahdzûf yang taqdir-nya adalah لا تقول قولا راعنا (janganlah kamu mengatakan perkataan yang râ’inan/kotor.
Jadi makna ayat ini adalah: “Allâh melarang orang yang beriman untuk mengatakan perkataan yang kotor, dan menganjurkan mereka untuk mengatakan perkataan yang baik lagi lembut.
Makna ayat ini telah benar, tetapi Qirâ’ât-nya adalah syadz, dan Qirâ’ât tersebut tidak dapat dikatakan sebagai ayat al-Qur’ân

6)      AL-QIRÂ’ÂT AL-TAFSÎRIYYAH
Al-Qirâ’ât al-tafsîriyyah menurut sebahagian ulama dikenal dengan istilah al-mudrâj. Menurut Mana’ Khalîl al-Qaththan mudrâj adalah: ما زيد في القراءات على وجه التفسير (adanya penambahan [kata] di dalam Qirâ’ât yang berfungsi sebagai tafsîr). [41]
Dan pengertian lebih rinci –sebagai pengertian yang penulis perpegangi- adalah pengertian yang diberikan oleh al-Khâlidiy, yaitu:
 هي ما يضيفه بعض الصحابة من بعض الكلمات، تفسيرا منه لبعض الأيات، وهم يعلمون أنها كلمات منهم، وأنها ليست من القرأن  
Artinya: al-qirâ’ât al-tafsîriyyah adalah sebahagian kalimat atau kata yang dimasukkan oleh sahabat di dalam Qirâ’ât-nya sebagai penjelasan bagi ayat tersebut, dan ia menyadari kalau kalimat tersebut bukanlah ayat al-Qur’ân.
Jadi pada dasarnya –menurut penulis- menerima al-qirâ’ât al-tafsîriyyah, sebagai sumber tafsîr bi al-ma’tsur adalah menerima perkataan sahabat sebagai sumber tafsîr. Maka al-qirâ’ât al-tafsîriyyah inipun harus berasal dari jalur sanad yang shahîh  sebagaimana perkataan sahabat.
Berikut penulis kemukakan al-qirâ’ât al-tafsîriyyah  sebagai bentuk tafsîr dari ayat al-Qur’ân, yaitu Qirâ’ât ibn ‘Abbâs yang diriwayatkan oleh Abu ‘abd Allâh Muhammad  ibn Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin Al-Mughîrah bin Bardizbah Al-Ju’fiy al-Bukhâriy [42] dan Abu Dâwud Sulaimân ibn al-‘Asy’ats al-Sijistâniy al-Azdiy[43] mengenai ayat Allâh لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ , Ibn ‘Abbâs menambahkannya dengan kata في مواسم الحج  .[44]

   URUTAN PENGGUNAAN POSISI DAN HUKUM TAFSÎR BI AL-MA’TSÛR
Tafsîr bi al-ma’tsûr merupakan sumber tafsîr yang paling utama. Ini dapat dinilai demikian karena beberapa alasan di antaranya:
a. Karena ia menafsirkan ayat al-Qur’ân dengan ayat al-Qur’ân yang lainnya, dan Allâh tentu lebih mengetahui maknanya
b. Karena ia juga menafsirkan dengan hadîts  Rasul Allâh, dan sebagaimana dimaklumi beliau memang berfungsi untuk menjelaskan al-Qur’ân,
c.  Atau Karena menafsirkan dengan menggunakan atsâr sahabat, yang mereka jelas telah menyaksikan turunnya al-Qur’ân dan memahami kejadian-kejadian dan kondisi turunnya ayat tersebut.[45]
Namun meski demikian, kesalahan-kesalahan masih mungkin terjadi, diantaranya: kesalahan di dalam memahami makna suatu ayat yang akan dijadikan tafsîr bagi ayat lain, kesalahan di dalam mengambil riwayat yang ternyata tidak shahîh  ataupun yang dipengaruhi oleh riwayat isrâiliyât,[46] dan berbagai bentuk kesalahan lainnya.  
Tafsîr bi al-ma’tsûr adalah yang wajib diikuti dan diambil jika terbukti shahîh . Karena terjaga dari penyelewengan makna kitab Allâh. Ibnu Jarîr berkata, “Ahli tafsîr yang paling tepat mencapai kebenaran adalah yang paling jelas hujjah-nya terhadap sesuatu yang dia tafsir-kan dengan dikembalikan tafsir-nya kepada Rasûl Allâh dengan khabar-khabar yang tsâbit dari beliau dan tidak keluar dari perkataan salâf.” 


D. PROFIL TAFSIR AL-THABARI DAN TAFSIR IBNU  KATSIR SEBAGAI REPRESENTATIF DARI TAFSIR BI  AL-MA’TSUR
A.  TAFSIR IBNU JARIR AT-THABARI
Nama lengkap Ibnu Jarir adalah Abu Ja'far Muhammad Ibn Jarir Ibn Yazid Ibn Khalib al-Tabary al-Amuli. Nama ini disepakati oleh al-Khatib al-Bagdadi (392-463/1002-1072), Ibn Katsir dan al-Zahabi. Tanah kelahirannya di kota Amul, ibukota Thabaristan, Iran. sehingga nama paling belakangnya sering disebutkan al-Amuli­ penisbatan tanah kelahirannya. la dilahirkan 223 H (838-839 M), sumber lain menyebutkan akhir 224 H atau awal 225 H (839-840), dan meninggal 311/923, sementara dari sumber informasi lain disebutkan pada 310.[47]
Nama asli tafsir ini adalah Jami’ Al-bayan fi Tafsir Al-Qur’an, penulisnya adalah Imam Ibnu Jarir At-Thabari. Beliau dikenal dengan Abu Ja’far. Lahir 224 H dan wafat 310 H. Kitab beliau ini adalah kitab terbaik dalam ilmu tafsir. Bahkan menurut penilaian Imam An-Nawawi, kitab tafsir yang tidak ada bandingnya.
Keutamaan tafsir Ibnu Jarir ini diantaranya, karena ia bersumber dari hadis-hadis Nabi saw, komentar para sahabat dan tabiin. Juga karena keluasan penafsirannya yang meliputi nasikh dan mansukh, tarjih riwayat, keterangan kualitas hadis antara shahih dan dhaif, I’rob Al-qur’an dan istinbath (memberi kesimpulan) terhadap ayat-ayat hukum. Memang tak dapat dipungkiri ada beberapa kekurangan dalam tafsir ini seperti terdapatnya riwayat Israiliat yang tidak jelas. Walaupun demikian, para mufassir setelah Imam Ibnu Jarir menjadikan tafsir beliau sebagai referensi utama. Karena memang kualitas dan validitas tafsir ini tidak diragukan lagi.
Al-Tabari dipandang sebagai tokoh penting dalam jajaran mufassir klasik pasca tabi’ al-tabi’in, karena lewat karya monumentalnya Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an mampu memberikan inspirasi baru bagi mufassir sesudahnya. Struktur penafsiran yang selama ini monolitik sejak zaman sahabat sampai abad III H. kehadiran tafsir ini memberikan aroma dan corak baru dalam blantika penafsiran. Eksplorasi dan kekayaan sumber yang heterogen terutama dalam hal makna kata dan penggunaan bahasa Arab yang telah dikenal secara luas di kalangan masyarakat. Di sisi lain, tafsir ini sangat kental dengan riwayat-riwayat sebagai sumber penafsiran (ma’sur) yang disandarkan pada pendapat dan pandangan para sahabat, tabi’ tabi’in melalui hadis yang mereka riwayatkan.
Penerapan metode secara konsisten ia tetapkan dengan tahlili menurut perspepsi sekarang. Metode ini memungkinkan terjadinya dialog antara pembaca dengan teks-teks al-Qur’an dan diharapkan adanya kemampuan untuk menangkap pesan-pesan yang didasarkan atas konteks kesejarahan yang kuat.Itulah sebabnya Tafsir ini memili karakteristik tersendiri dibanding dengan tafsir-tafsir lainnya. Paling tidak analisis bahasa yang sarat dengan syair dan prosa Arab kuno, variant qira’at, perdebatan isu-isu bidang kalam, dan diskusi seputar kasus-kasus hukum tanpa harus melakukan klaim kebenaran subyektifnya, sehingga al-Tabari tidak menunjukkan sikap fanatisme mazhab atau alirannya. Kekritisannya mengantarkan pada satu kesimpulan bahwa ia termasuk mufassir professional dan konsisiten dengan bidang sejarah yang ia kuasai.

Keistimewaan Metode Penafsiran At-Thabari
Sebagai orang yang berpegang pada tafsir bil ma’sur, konsekuensinya tafsir Ibnu Jarir mempunyai keistimewaan tersendiri. Sebagaimana disebutkan oleh Shidqy al ’Athar dalam muqaddimah tafsir ibnu Jarir sebagai berikut :[48]
a. Mengikuti jalan sanad dalam silsilah riwayat.
b. Menjauhi tafsir bil ra’yi.
c. Apik dalam menyampaikan sanad.
d. Berpegang pada ilmu bahasa.
e. Banyak meriwayatkan hadis-hadis Nabawiyyah.
f. Memperkuat dengan syair dalam menjelaskan maksud kalimat.
g. Perbendaharaan qira’at.
h. Mengkomprontirkan dan mengkompromikan pandangan-pandangan fiqhiyyah.
i. Menghimpun dalam tafsirnya antara riwayat dan dirayat.

Inilah karakteristik utama metode tafsir Ibn Jarir. Namun demikian, ada sejumlah kritikan, antara lain:
la menyebutkan sejumlah Isra'iliyyat dalam tafsirnya. meski ia sering memberikan komentar terhadap lsra'iliyyat itu, tetapi sebagian tidak dikomentarinya. karena itu dibutuhkan peneli­tian lebih lanjut untuk membedakan yang baik dari yang buruk. Alasan yang bisa membelanya adalah bahwa ia menuturkan sanadnya secara lengkap. Ini memudahkan peneliti terhadap hal-ihwal para periwayatnya dan memberikan penilaian. Karena itu kita harus mengkaji sanadnya agar kita bisa menge­tahui yang shahih dari yang dla'if. Ada ungkapan yang me­nyatakan bahwa orang yang menuturkan sanadnya kepada anda berarti telah memberi kesempatan kepada anda untuk menilainya.
Umumnya la tidak menyertakan penilaian shahih atau dla’if terhadap sanad-sanadnya, meski kadang-kadang la memposisi­kan diri sebagai seorang kritikus yang cermat.

B.  TAFSIR IBNU KATSIR
Kitab tafsir buah karya Al-Hafizh Imaduddin Ismail bin Amr bin Katsir (700-774 H) ini adalah kitab yang paling masyhur dalam bidangnya. Kedudukannya berada pada posisi kedua setelah Tafsir Ibnu Jarir At-Thobari. Nama aslinya adalah Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim. Tafsir yang diterima di khalayak ramai umat Islam.
Beliau menempuh metode tafsir bil ma’tsur dan benar-benar berpegang padanya. Ini diungkapkan sendiri oleh beliau dalam muqaddimah tafsirnya : “bila ada yang bertanya, apa metode penafsiran yang terbaik? Jawabannya, metode terbaik ialah dengan menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Sesuatu yang global di sebuah ayat diperjelas di ayat lain. Bila engkau tidak menemukan penafsiran ayat itu, carilah di As-Sunnah karena ia berfungsi menjelaskan Al-Qur’an. Bahkan Imam Syafi’I menegaskan bahwa semua yang ditetapkan oleh Rasulullah saw, itulah hasil pemahaman beliau terhadap Al-Qur’an. Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab dengan kebenaran, agar engkau memutuskan perkara di antara manusia dengan apa yang Allah ajarkan kepadamu. (QS. An-Nisa’ 105) dan Rasul saw bersabda: sesungguhnya aku diberikan Al-Qur’an dan bersamanya yang semisal (As-sunnah).
Murid Imam Ibnu Taimiyah ini menafsirkan dengan menyertakan ilmu al-Jarh wa at-ta’dil. Hadis-hadis mungkar dan dhoif beliau tolak. Terlebih dahulu beliau menyebutkan ayat lalu ditafsirkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan ringkas. Kemudian disertakan pula ayat-ayat lainnya sebagai syahidnya. Beberapa ulama setelah beliau telah mengambil inisiatif menulisnya dalam bentuk mukhtasar (ringkasan). Bahkan hingga saat ini.  

Keistimewaan Metode Penafsiran Ibnu Katsir
Keistimewaan tafsir ibn katsir ini bisa kita abtraksikan ke dalam beberapa poin:
Pertama, nilai (isi) tafsir tersebut tidak hanya tafsir Atsari saja (bilma’tsur), yang menghimpun riwayat serta khabar. Tapi beliau juga menghimpun referensi yang lain.
Kedua, menghimpun ayat-ayat yang serupa dengan menjelaskan rahasia yang dalam dengan keserasiannya, keselarasan lafadnya, kesimetrisan uslubnya serta keagungan maknanya.
Ketiga, menghimpun hadits dan khabar baik itu perkataan sahabat dan tabi’in. Dengan menjelaskan derajat hadits atau riwayat tersebut dari shahih dan dla’if, dengan mengemukakan sanad serta mata rantai rawi dan matannya atas dasar ilmu jarh wa ta’dil. Pada kebiasaannya dia rajihkan aqwal yang shahih dan menda’ifkan riwayat yang lain.
Keempat, Ibnu Katsir ahli tafsir, tapi diakui juga sebagai muhaddits, sehingga dia sangat mengetahui sanad suatu hadits. Oleh karenanya, ia menyelaraskan suatu riwayat dengan naql yang shahih dan akal sehat. Serta menolak riwayat yang munkar dan riwayat yang dusta, yang tidak bisa dijadikan hujjah baik itu di dunia ataupun di akhirat kelak.
Kelima, jika ada riwayat israiliyat Ia mendiskusikannya serta menjelaskan kepalsuannya, juga menyangkal kebohongannya dengan menggunakan konsep jarh wa ta’dil. Dan Keenam, mengekspresikan manhaj al-salafu al-shaleh dalam metode dan cara pandang, sebagaimana yang tertera dalam Qur’an dan Sunnah. [49]


*     Tafsir As-Samarqandi
Ditulis oleh Imam Nasr bin Muhammad As-Samarqandi, dikenal dengan Abu Laits (Wafat 373 H). Kitab tafsir ini berjudul Bahrul Ulum dan tergolong sebagai tafsir bil ma’tsur. Dalam menulis tafsir ini, Al-Imam menempuh jalan penafsiran para sahabat dan tabiin. Beliau banyak mengutip komentar mereka tetapi tidak menyebut sanad-sanadnya. Beliau menegaskan bahwa seseorang tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an semata-mata dengan rasionya sendiri sedang ia tidak mengerti kaedah-kaedah bahasa dan kondisi di saat Al-Qur’an itu turun. Ia harus memahami betul ilmu tafsir terlebih dahulu.
Manuskrip tafsir ini terdapat dalam dua jilid dan tiga jilid. Naskah aslinya terdapat di perpustakaan universitas Al-Azhar dan di Darul Kutb Al-Misriyah.

*     Tafsir Al-Baghawi
Pengarang tafsir ini adalah Imam Husain bin Mas’ud Al-Farra’ Al-Baghawi. Beliau juga seorang faqih lagi muhaddist, bergelar Muhyi As-sunnah (yang menghidupkan sunnah). Beliau wafat tahun 510 H. Beliau memberi nama tafsirnya dengan Ma’alim At-Tanzil.
Dalam menafsirkan Al-Qur’an beliau mengutip atsar para salaf dengan meringkas sanad-sanadnya. Beliau juga membahas kaedah-kaedah tata bahasa dan hukum-hukum fiqh secara panjang lebar. Tafsir ini juga banyak memuat kisah-kisah dan cerita sehingga kita juga bisa menemukan diantaranya kisah-kisah Israiliyat yang ternyata batil (menyelisihi syariat dan tak rasional). Namun secara umum, tafsir ini lebih baik dan lebih selamat dibanding sebagian kitab-kitab tafsir bil ma’tsur lain.
Imam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang tafsir yang paling dekat dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah diantara Al-kassyaf, Al-Qurtubi atau Al-Baghawi. Beliau menjawab:”Adapun diantara tiga tafsir yang ditanyakan, tafsir yang paling selamat dari bid’ah dan hadis dhaif adalah Tafsir Al-Baghawi, bahkan ia adalah ringkasan tafsir Atsa’labi dimana beliau menghapus hadis palsu dan bid’ah di dalamnya.”

*     Tafsir Ibnu Atiyyah
Al-Muharrar Al-Wajiz fi Tafsir Al-Kitab Al-Aziz ialah nama asli tafsir ini. Penulisnya adalah Imam Abu Muhammad Abdul Haq bin gholib bin ‘Atiyyah Al-Andalusy. Beliau adalah seorang Qodhi yang adil, cerdas dan terkenal faqih. Ahli dalam hukum, hadis dan tafsir. Ibnu Khaldun menilai tafsir ini paling tinggi validitasnya. Adapun Ibnu Taimiyah dalam fatwanya mengungkapkan,”tafsir Ibnu ‘Atiyyah lebih baik dibandingkan tafsir Az-Zamakhsyari, lebih shahih dalam penukilan dan pembahasannya. Juga lebih jauh dari bid’ah…”
Namun sayang, kaum muslimin belum dapat mengkaji tafsir ini lebih jauh karena masih dalam bentuk manuskrip klasik dan kini masih tersimpan di Darul Kutb Al-Misriyah berjumlah sepuluh jilid besar.

    
*     Tafsir As-Suyuthi
Kitab yang bernama Ad-Dur Al-Mantsur fi Tafsir bi Al-Ma’tsur ini ditulis oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi, ulama produktif yang memiliki ratusan karya cemerlang. Beliau lahir tahun 749 H dan wafat tahun 911 H.
Tafsir ini pada dasarnya adalah ringkasan dari kitab Tarjuman Al-Qur’an yang beliau karang sendiri. Beliau bermaksud meringkas hadis-hadis dengan hanya menyebutkan matannya saja tanpa menyertakan sanad yang panjang. Ini untuk menghindari kebosanan.
Imam As-Suyuthi menulis tafsir ini dengan mengutip riwayat-riwayat dari Al-bukhori, Mulim, An-Nasa’I, At-Tirmizi, Abu Daud, Ibnu Jarir, Ibnu Hatim dan lain-lain. Namun beliau tidak memilah antara riwayat shahih dan dhaif bahkan mencampur keduanya. Padahal beliau terkenal sebagai ahli riwayat dan sangat memahami seluk beluk ilmu hadis. Sehingga terkesan aneh bila kemampuan tersebut tidak dioptimalkan dalam tafsir ini. Namun berbeda dengan kitab tafsir lainnya, tafsir ini merupakan satu-satunya tafsir bil matsur yang hanya memuat hadits-hadits saja.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dalam kajian ini penulis menyimpulkan bahwa  “Tafsir bi al Ma’tsur”  dapat dilihat dari beberapa Aspek, yaitu:
1.      Tafsir bil al-ma’tsur (disebut pula bi ar-riwayah dan an-naql) adalah penafsiran Al-Quran yang mendasarkan pada penjelasan Al-Quran sendiri, penjelasan nabi, penjelasan para sahabat melalui ijthadnya , dan pendapat (aqwal) tabiin.
2.      Nabi Muhammad SAW bukan hanya bertugas menyampaikan Al-Quran melainkan sekaligus menjelaskannya kepada umat.Para sahabat menerima dan meriwayatkan tafsir nabi SAW secara musyafahat (dari mulut ke mulut), demikian pula generasi berikutnya sampai dating masa tadwin (pembukuan) sekitar abad ke-3 H.Metode penafsiran (cara penafsiran) itulah yang merupakan cikal bakal tafsir bil matsur atau disebut juga tafsir bil al riwayyat.
3.      Para ulama berbeda pendapat mengenai batasan tafsir bil matsur. Sebagian besar besar para ulama menerima tafsir bil matsur dari tabiin namun sebagian besar ulama lain menolak dengan alas an yang bermacam-macam.
4.      Kitab tafsir bil matsur yang terkenal antara lain; Jami al Bayan fi tafsir Al-Quran,karya ibn Jaris ath-thabari,, Anwar at-Tanzil karya Al-Baidhawi, Ad-dhur AL-Mantsur fi Al-Tafsir bi AL-Matsur karya Jalal ad-Din As-Suyuti, Tanwir Al Miqbas fi Tafsir ibn abbas karaya Fairud zabadi, dan Tafsiir Al-Quran Al-Azhim karya ibnu katsir.
5.      Mengingat corak tafsir yang merujuk diantaranya kepada Al-Quran dan Al-Hadis maka dapat dipastikan tafsir bil matsur memiliki keistimewaan tertentu dibandingkan corak penafsiran lainnya Dengan mempertimbangakan keistimewaandan kelemahan dalam tafsir bil matsur maka dapatlah dikatakan bahwa corak itu dipandang lebih baik daripada corak lainnya jika kelemahan-keleemahannya dapat dihindari.

B.     Saran
Saya selaku pemakalah mohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam makalah ini, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman semua agar makalah ini dapat dibuat dengan lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Al-Bukhâriy, Abu ‘abd Allâh Muhammad  ibn Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin Al-Mughîrah bin Bardizbah Al-Ju’fiy, Al-Jâmi’ al-Shahîh al-Musnad al-Mukhtashar min Hadîts Rasûl Allâh Shala Allâh ‘Alaihi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayyâmihi, Qahirah: Maktabah Salafiyah, 1400 H
Baidan, Nasruddin, Metode Penafsiran al-Qur’an, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001

Al-Damîniy, Musfir ‘Azm Allâh, Maqâyis Naqdi Mutun al-Sunnah, Riyad: Jâmi’ah Imam Muhammad bin Su’ud al-Islâmiyah, 1984

Al-Dzahabiy, Muhammad Husain, al-Tafsîr wa all-Mufassirûn, Qahirah: Maktabah al-Wahbah, 1995

Haqqiy, Muhammad Shafa Ibrâhîm, ‘Ulûm al-Qur’ân min Khilâl Muqaddimah al-Tafsîr, Beirut: Maktabah al-Risâlah, 2004

Al-Khâlidiy, Shâlah abd al-Fattâh, Ta’rif al-Dârisîn bi Manâhij al-Mufassirîn, Damaskus: Dar al-Qalam, 2002
Ibn Manzhûr, Lisân al-‘Arâb, Qahirah, Dar al-Ma’arif, [t.th]

Al-Qaththân, Mana’ Khalîl, Mabâhits fi ‘Ulûm al-Qur’ân, [t.kt]: Mansyûrât al-Ashr al-Hadîts, 1973

Al-Rûmiy, Fahd ibn ‘abd al-Rahmân ibn Sulaimân, Buhûts Ushl al-Tafsîr wa Manâhijuhu, Riyadh: Maktabah al-Taubah, 1422 H

Al-Sabtiy, Khâlid ‘Usmân, Qawâ’id al-Tafsîr Jam’an wa Dirâsatan, Su’udiyah: Dar Ibn ‘Affân, 1997

Al-Shabûniy, Muhammad ‘Aliy, Al-Tibyân fi ‘Ulum al-Qur’ân, Jakarta: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2003

Ibn Shalâh, Abiy ‘Amru ‘Usmân ibn ‘abd al-Rahmân al-Syahrazûriy, ‘Ulum al-Hadîts li Ibn al-Shalâh, Beirut: Maktabah al-‘Ilmiyah, 1991

Al-Zarkâsyi, Al-Imâm Badr al-Dîn Muhammad ibn ‘abd Allâh, Al-Burhân fi ‘Ulûm al-Qur’aîn, Qahirah: Dar al-Turâts, 1984

Al-Zarqâniy, Muhammad ‘abd al-‘Azhim, Manâhil al-‘Irfân fi ‘Ulûm al-Qur’ân, Beirut: Dar al-Kitâb al-‘Arabiy, 1995


[1] Yusuf al-qaradhawi, Berinteraksi dengan al-qur’an. (Jakarta : Gema Insani 1999). Hal 294

[2] Yusuf al-qaradhawi, Berinteraksi dengan al-qur’an. (Jakarta : Gema Insani 1999). Hal 298
[3] ‘Ulumul Qur’an al-Karim karya al-Duktur Nuruddin ‘Itr
[4] Manna Al-Qathan, mahabits fi ulum Al-Quran,Mansyurat Al-Ashr Al_hadits,1973,hlm.324
[5] Nashruddin Baidan,Metode penafsiran Al-Quran,(Yogyakata,Pustaka pelajar,2002),hlm.41
[6] Kahar Mansur, Pokok-pokok Ulumul Quran, (Jakarta, Rineka Cipta:1992), hlm173
[7] Said Agil Husin AL Munawwar. Al-Quran membangun tradisi kesalehan hakiiki,(Jakarta, ciputat press;2002), hlm.71
[8] Muhammad Ali adh-Shaibuni. Ikhtisar Ulumul qur’an. (Jakarta : Pustaka Amani. 2001) hal. 107
[9] Baidan, Nasruddin, Metode Penafsiran Al-Quran; Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002
[10] Manna Al-Qathan, mahabits fi ulum Al-Quran,Mansyurat Al-Ashr Al_hadits,1973,hlm.329
[11] Yusuf al-qaradhawi, Berinteraksi dengan al-qur’an. (Jakarta : Gema Insani 1999). Hal 302
[12] Mansyur, Kahar, Pokok-Pokok Ulumul Quran, Jakarta; Rineka Cipta, 1992
[13] Al Munawwar, Said Agil Husin. Al-Quran membangun tradisi kesalehan hakiiki,Jakarta:ciputat press,2002
[14] Yusuf al-qaradhawi, Berinteraksi dengan al-qur’an. (Jakarta : Gema Insani 1999). Hal 294
[15] Ibid. hal 297
[16] Yusuf al-qaradhawi, Berinteraksi dengan al-qur’an. (Jakarta : Gema Insani 1999). Hal 297
[17] Muhammad Ali adh-Shaibuni. Ikhtisar Ulumul qur’an. (Jakarta : Pustaka Amani. 2001) hal. 107
[18] Al-Rumiy, Op cit, h. 73-78
[19] Lihat al-Zarqani, Manâhil al-‘Irfân, Op Cit, h. 13
[20] Al-Rumiy, Op cit, h. loc Cit
[21] Meski al-Khalidiy memposisikan al-sunnah sebagai sumber tafsir bi al-ma’tsur yang pertama, namun Ibn Taimiyah memposisikannya sebagai sumber kedua setelah al-Qur’an. Ini Tampak dari ungkapan beliau berikut ini:
فإن أعياك ذالك- تفسير القرأن بالقرأن- فعليك بالسنة، فإنها شارحة للقرأن و موضحة له 
Kalau hal ini menyulitkanmu –tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an-, maka wajib bagimu mencarinya dalam sunnah Rasulullah, karena sunnah adalah pemberi keterangan Al-Qur'an dan penjelas baginya. Al-Imâm Badr al-Dîn Muhammad ibn ‘abd Allah al-Zarkhâsyi, al-Burhân fi ‘Ulûm al-Qur’aîn, (Qahirah: Dar al-Turats, 1984), Cet. III, Jilid. II, h. 167

[22] Musfir ‘Azm Allâh al-Damîniy, Maqâyis Naqdi Mutun al-Sunnah, (Riyad: Jâmi’ah Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah, 1984), h. 117  
[23] Abu ‘abd Allâh Muhammad  ibn Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin Al-Mughîrah bin Bardizbah Al-Ju’fiy al-Bukhâriy (selanjutnya ditulis dengan al-Bukhâriy) , Al-Jâmi’ al-Shahîh al-Musnad al-Mukhtashar min Hadîts Rasûl Allâh Shala Allâh ‘Alaihi wa Sallam wa Sunanihi wa Ayyâmihi, (Qahirah: Maktabah Salafiyah, 1400 h), Juz. III, h. 190-191
[24] Di antara  defenisi sahabat yang diberikan ulama adalah: من لقي النبي صلى الله عليه و سلم مؤمنا به، ومات .    على الإسلام. Lihat Khâlid ‘Usmân al-Sabtiy, Qawâ’id al-Tafsîr Jam’an wa Dirâsatan, (Su’udiyah: Dar Ibn ‘Affân, 1997), Jilid. I, h. 158. Sebagai perbandingan Lihat Abiy ‘Amru ‘Usmân ibn ‘abd al-Rahmân al-Syahrazûriy (Ibn Shalâh), ‘Ulum al-Hadits li Ibn al-Shalâh, (Beirut: Maktabah al-‘Ilmiyah, 1991), h. 263
[25] Ibid, Terkait dengan ini Ibn Taimiyah berkata: “Wajib diketahui bahwa Nabi telah menjelaskan makna-makna Al-Qur'an kepada para sahabat sebagaimana telah menjelaskan lafadz-lafadznya kepada mereka”
[26] Al-Shabûniy, Op Cit, h. 70
[27] Al-Khâlidiy, Op Cit, h. 201
[28] Ibid
[29] Ibid, h. 212
[30] Al-Bukhâriy, Op Cit, Juz. III, h. 216
[31] Al-Rûmiy, Op Cit, h. 78
[32] Ibid
[33] Al-Khalidiy, h. 203
[34] Ibid
[35] Ibid , Lihat juga al-Shabûniy, Op Cit, h. 78
[36] Ibid, h. 213
[37] Al-Bukhâriy, Op Cit, h. 320
[38] Di antara syarat qira’at yang shahih itu ada tiga yaitu: Memiliki jalur sanad yang shahih, sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan tidak menyalahi rasm al-‘Usmaniy  
[39] Mana’ al-Qaththan, Op Cit, h. 178 
[40] Dan sungguh telah diketahui bahwa  al-qirâ’ât al-syâdz, tidak boleh membaca (al-Qur’an) dengannya, tetapi ketahuilah bahwa ia boleh dipelajari dan diajarkan, begitu juga membukukannya ke dalam sebuah kitab, atau menjelaskannya dari sudut pandang bahasa, i’rab dan makna, serta meng-istinbath-kan hukum syar’i darinya. Lihat al-Khâlidiy, h. 204   
[41] Mana’ Khalîl al-Qaththân, Loc Cit
[42] Beliau masyhur dengan sebutan Imam al-Bukhâriy, pengarang kitab jami’ al-Shahih/ shahih al-Bukhâriy
[43] Beliau lebih masyhur dengan sebutan abu Dâwud yang pengarang kitab Sunan abiy Dâwud.   
[44] Al-Khâlidiy, h. 206-207
[45] Menurut al-Shabûniy, ada 4 sebab yang menyebabkan dha’îf-nya tafsir bi al-ma’tsûr yaitu: a. Tercampurnya antara riwayat yang shahih dengan yang tidak, b. adanya riwayat isrâ’iliyat, c. adanya usaha kelompok mazhab yang menisbahkan perkataan/pendapat mereka kepada para sahabat nabi, dan d. Adanya usaha dari kaum zindiq untuk merusak agama dengan menisbahkan perkataan dusta kepada nabi dan para sahabat ataupun tabi’in. Al-Shabûniy, Op Cit, h. 70-71   
[46] Isrâiliyât adalah istilah yang diberikan ulama untuk riwayat atau kisah masa lalu yang tidak berasal dari Islam, tetapi justru didapatkan dari berita ahl al-kitab (Yahudi dan Nasrani), Al-Khâlidiy, Op Cit, h. 218   
[47] Muhammad Bakar Ismail, Ibn Jarir al-Tabari wa Manhajuhu f`i al-Tafsir (Kairo: Dar al-Manar,1991), h. 9-10 dalam Muhammad Yusuf, Studi Kitab Tafsir (Yogyakarta: Teras, 2004), 20.
[48] Tafsir Ibnu Jarir, 11.
[49] Katsir Ibn r, Tafsîr al-qur`ân al-’azhim li`ibni katsir, yang di tahqiq oleh Mushthafa as-sayyid Muhamad, Muhamad sayyid rasyad, Muhamad fashl al-’ajami, Ali Ahmad Abdul Baqi. Hasan Abbas Quthb, 2000, vol I, Muasasah Qurtubah, Kairo, cet I, hal 10.

Tidak ada komentar: