View My Stats

Minggu, 26 September 2010

TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG RISALAH (Q.S, AN-NAHL: 36) DAN (Q.S, AL-JUMU’AH: 2 ) = = = Mata kuliah TAFSIR-

TAFSIR




TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG RISALAH
(Q.S, AN-NAHL: 36)
DAN
(Q.S, AL-JUMU’AH: 2 )





DISUSUN OLEH :
KELOMPOK IV

MUHAMMAD TSABIRIN ( 220 818 011 )
FAZLIAH ( 220 818 009 )


DOSEN PEMBIMBING :
TGK. M. WAHYU MIMBAR S.Pd,i











FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN BAHASA ARAB
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JAMI’AH AR-RANIRY
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2009





KATA PENGANTAR
بِــسْـمِ اللهِ الرَّحْـمَنِ الرَّحِـيْمِ

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Kemudian shalawat dan salam kami sanjungkan ke pangkuan Nabi Besar Muhammad SAW, yang dengan izin Allah telah membawa kita dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu bahan penunjang materi pembelajaran “Ilmu Tafsir”. Melalui makalah ini kami mencoba memberikan definisi dan pembahasan mengenai “Tafsir Ayat-Ayat Tentang Risalah (Q.S. An-Nahl(36) dan Al-Jumu’ah(2))” dari beberapa sumber yang berbeda.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Tgk. M. Wahyu Mimbar S.Pd,i , atas kesediaan beliau untuk menjadi Dosen Pembimbing kami, dan kepada teman-teman sekalian yang selalu membantu dalam proses pembuatan makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca semua. Sebagai manusia biasa, kami meminta maaf atas ketidaksempurnaan makalah ini. Oleh karena itu pula, kritik dan saran dari para pakar, senior, teman sejawat, dan pembaca lainnya akan kami terima dengan senang hati.


Wassalam

(Penulis)






DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI .............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ....1

BAB II PEMBAHASAN
A. Surat An-Nahl ayat 36 …………………………………………………3
- Pembahasan Tafsir Surat An-Nahl ayat 36……………………..………..3
B. Surat Al-Jumu’ah ayat 2......................................................................... 5
- Pembahasan Tafsir Surat Al-Jumu’ah ayat 2.............................................6


BAB III PENUTUP
Kesimpulan ... 9

DAFTAR PUSTAKA . 10









BAB I
PENDAHULUAN

Sebagaimana yang terkandung dalam surat An-Nahl(36) dan Al-Jumu’ah(2) menerangkan tentang inti daripada penyampaian Risalah. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini banyak mengandung masalah kenabian, ketuhanan, dan peribadatan terhadap Allah Swt Ilmu taubat adalah ilmu yang penting, bahkan urgen. Keperluan atas ilmu itu amat mendesak, terutama dalam zaman kita ini. Karena manusia telah banyak tenggelam dalam dosa dan kesalahan. Mereka melupakan Allah SWT sehingga Allah SWT membuat mereka lupa akan diri mereka. Banyak sekali godaan untuk melakukan kejahatan, dan banyak pula penghalang manusia untuk melakukan kebaikan.
Beragam cara dipergunakan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah SWT. Beragam media setan, perangkat canggih, yang dapat dibaca, didengar (audio), dan disaksikan ( visual ) dimanfaatkan untuk tujuan itu. Semua itu dilakukan oleh setan-setan yang berada dalam negeri kita, maupun yang berada di luar. Diperkuat oleh jiwa dan nafsu ammarah bis su, yang mengajak kepada keduniawian, melupakan maut dan perhitungan akhirat, neraka dan surga, dan melenakkan diri dari mengingat Allah SWT. Sehingga mereka meninggalkan salat dan mengikuti hawa nafsu. Melanggar janji yang telah ditekan bersama Allah SWT. Melewati batas-batas yang telah digariskan oleh Allah SWT, dan menabrak hak-hak manusia. Dengan tenang mereka memakan harta manusia dengan kebatilan. Dan tidak memperdulikan lagi dari mana harta yang ia dapatkan: dari barang dan cara yang halal atau haram.
Manusia amat membutuhkan orang yang memberi peringatan dan berteriak kepada mereka: Bangkitlah dari mabuk kalian, bangunlah dari tidur kalian, berjalanlah di jalan yang lurus, bertaubatlah kepada Rabb kalian, sebelum datang hari yang padanya tidak bermanfaat lagi harta dan sanak keluarga, kecuali mereka yang datang kepada Allah SWT dengan hati bersih.
Dalam struktur diri manusia tersimpan dua kecenderungan. Dan setiap orang, jika ditelusuri nasabnya akan sampai kepada: malaikat, Adam atau kepada syetan. Maka orang yang melakukan taubat, secara jelas telah mengajukan bukti bahwa ia adalah keturunan Adam, karena ia telah menjalankan sikap sebagaimana layaknya seorang manusia. Dan orang yang terus melakukan keburukan, tanpa kesadaran sedikitpun untuk melakukan taubat, dengan jelas telah mengajukan bukti bahwa ia adalah keturunan syetan.
Sedangkan peruntunan nasab hingga sampai ke nasab malaikat, dengan semata mengisi diri dengan kebaikan, adalah di luar batas kemampuan manusia. Karena kejahatan telah terpatri secara kuat bersamaan dengan kebaikan dalam struktur diri manusia. Hanya ada dua api yang dapat memisahkan dua unsur itu, yaitu api penyesalan atau api neraka jahanam".
Oleh karena itu, dorongan dan anjuran untuk bertobat sebagaimana Al Qur'an mengemukakan bahwa:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS. Al Baqarah: 222).























BAB II
PEMBAHASAN


A. SURAT AN-NAHL AYAT 36
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلالَةُ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (النحل: ٣٦ )

Artinya :
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. An-Nahl: 36).


- PEMBAHASAN TAFSIR SURAT AN-NAHL AYAT 36

Dalam Surat An-Nahl Ayat 36, ayat ini menghibur nabi muhammad SAW, dalam menghadapi para pembangkang dari kaum beliau, seakan-akan ayat ini menyatakan: Allah pun telah mengutusmu, maka ada diantara umatmu yang menerima baik ajakanmu dan ada juga yang membangkang. Dan keadaan yang engkau alami itu sama juga dengan yang dialami oleh para Rasul sebelummu, karena sesungguhnya kami telah mengutus rasul pada setiap umat sebelum kami mengutusmu, lalu mereka menyampaikan kepada kaum mereka masing-masing bahwa: “sembahlah Allah, yakni tunduk dan patuhlah dengan penuh pengagungan kepada tuhan yang maha Esa saja. Jangan menyembah selainnya, apa dan siapapun, dan jauhilah taghut, yakni segala macam yang melampaui batas seperti penyembahan berhala dan kepatuhan kepada tirani. Ajakan para Rasul itu telah diketahui oleh umat masing-masing Rasul maka diantara mereka, yakni umat para rasul itu ada orang yang hatinya terbuka dan pikirannya jernih sehingga Allah menyambutnya dan dia diberi petunjuk oleh Allah, dan ada pula diantara mereka yang keras kepala lagi bejat hatinya sehingga mereka menolak ajakan Rasul mereka dan dengan demikian menjadi telah pasti atasnya sanksi kesesatan yang mereka pilih sendiri itu. Wahai umat Muhammad, jika kamu ragu menyangkut apa yang disampaikan Rasul, termasuk kebinasaan para pembangkang maka berjalanlah kamu semua dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan para pendusta Rasul-Rasul.

Kata ( طاغوت ) thaghut terambil dari kata (طغى ) thagha yang pada mulanya berarti melampaui batas. Ia biasa juga dipahami dalam arti berhala-berhala, karana penyembahan berhala adalah sesuatau yang sangat buruk dan melampui batas. Dalam arti yang lebih umum, kata tersebut mencakup segala sikap dan perbuatan yang melampaui batas, seperti kekufuran kepada Tuhan, pelanggaran , dan sewenang-wenangan terhadap manusia.
Hidayah (petunjuk) yang dimaksud diatas adalah hidayah khusus dalam bidang agama yang dianugerahkan Allah kepada mereka yang hatinya cenderung untuk beriman dan berupaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Secara panjang lebar macam-macam hidayah Allah dikemukakakan bahwa dalam bidang petunjuk keagamaan, Allah menganugerahkan dua macam hidayah. Pertama, hidayah menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Cukup banyak ayat-ayat yang menggunakan akar kata hidayah yangh mengandung makna ini, misalnya:
وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (wahai Nabi Muhammad) memberi hidayah kejalan yang lurus” (QS, Asy-syura’ :52 ), atau :
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى
“Adapun kaum Tsamud maka kami telah memberi mereka hidayah, tetapi mereka lebih senang kebutaan (kesesatan) daripada hidayah” QS. Fushshilat: 17).
Kedua hidayah (petunjuk) serta kemampuan untuk melaksanakan isi hidayah itu sendiri. Ini tidak dapat dilakukan kecuali Allah SWT, karena itu diteaskan bahwa:
إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau (wahai Nabi Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk (walaupun) orang yang engkau cintai, tetapi Allah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya” (QS. Al-Qashash: 56).
Allah menganugerahan hidayah kedua ini kepada mereka yang benar-benar ingin memperolehnya dan melangkahkan kaki guna mendapatkannya.
Ketika berbicara tentang hidayah, secara tegas ayat diatas menyatakan bahwa Allah yang menganugerahkannya, berbeda ketika menguraikan tentang kesesatan. Sumber yang digunakan ayat ini adalah telah pasti atasnya sanksi kesesatan, tanpa menyebut siapa yang menyesatkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kesesatan tersebut pada dasarnya bukan bersumber pertama kali dari allah ta’ala, tetapi dari mereka sendiri. Memang ada ayat-ayat yang menyatakan bahwa: “allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki”, tetapi kehendaknya itu terlaksana setelah ang bersangkutan sendiri sesat.
فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ
“Maka ketika mereka berpaling dari kebenaran, Allah memalingkan hati mereka dan Allah tidak memberi hidayah orang-orang fasik.” (QS. Ash-Shaf: 5).



B. SURAT AL-JUMU’AH AYAT 2
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (الجمعة: ۲ )

Artinya :
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Al-Jumu’ah: 2).


- PEMBAHASAN TAFSIR SURAT AL-JUMU’AH AYAT 2

Dalam surat Al-jumu’ah ayat 2 menerangkan :
) هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ (
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka”. Yang dimaksud dengan kaum yang buta huruf adaalah bangsa arab. Disebutkan kata Ummiyyin (kaum buta huruf) secara khusus, tidak secara otomatis menafikan kaum lainnya, hanya saja nikmat yang telah diberikan kepada mereka tentu lebih banyak dan sempurna. Hal ini sebagaimana yang Allah firmankan:
( وأنذر عشيرتك الأقربين ) “Dan berikanlah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat”. Ayat ini dan juga yang lainnya sama sekali tidak menafikan fiman-Nya:
( قل يايها الناس إني رسول الله إليكم جميعاا ) “Katakanlah: wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua."

Dan ayat-ayat lainnya yang menunjukkan pengutusan nabi muhammad Saw kepada seluruh umat manusia, baik yang berkulit merah maupun hitam. Dan telah dikemukakan penafsiran hal tersebut dalam surat Al-An’am dengan dilandasi beberapa ayat al-qur’an dan hadits shahih. Sebagaimana dalam Al-qur’an disebutkan bahwa:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ.
Artinya: Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Aazar: "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata".
Selanjutnya pada ayat lain pada surat yang sama menyebutkan:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ.
Artinya: Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Ayat ini merupakan bukti dikabulkannya permohonan Nabi Ibrahim As ketika dia mendoakan penduduk mekkah agar Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang dapat membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka. Mensucikan dan mengajarkan mereka al-kitab dan al-Hikmah. Kemudian Allah Saw mengutus Rasul-Nya kepada mereka, segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah. Setelah sekian lama Rasul tidak muncul dan tidak adanya bimbingan yang lurus, padahal kebutuhan terhadapnya begitu mendesak. Dan Allah telah murka terhadap penduduk Bumi, baik kepada orang arab maupun non Arab. Kecuali beberapa orang dari Ahlul kitab yang masih berpegang teguh pada apa yang dibawa oleh Isa putra Maryam As. Oleh karena itu, Allah swt berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (الجمعة: ۲ )
Artinya:
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Yang demikian itu karena orang-orang Arab dahulu berpegang teguh kepada agama Ibrahim As, namun mereka mengganti, merubah, memutarbalikkan, menyimpangkan darinya, serta menukar tauhid dengan syirik, dan merubah keyakinan dengan keraguan. Mereka membuat perkara-perkara baru yang tidak diizinkan oleh Allah ta’ala sebagaimana yang tela dilakukan oleh Ahlul Kitab yang mengganti menyelewengkan, dan merubah kirab-kitab mereka, serta menakwilkannya. Kemudian Allah swt mengutus Nabi Muhammad Saw dengan membawa syari’at yang agung, lengkap lagi mencakup seluruh kebutuhan makhluk.
Di dalamnya terdapat petunjuk dan penjelasan segala sesuatu yang mereka butuhkan, baik yang menyangkut kebutuhan dunia maupun akhirat mereka kelak, sekaligus mengajak mereka kepada amalan yang mendekatkan mereka kepeda syurga dan keridhaan Allah Ta’ala serta menjauhi segala sesuatu yang mendekatkan mereka kepada Neraka dan kemurkaan Allah.

Kitab itu pula yang memberikan keputusan dan penjelasan konkret tentang berbagai subhat, keraguan dan kebimbangan dalam masalah-masalah pokok (ushul) maupun cabang (furu’). Dan Allah telah mengum pulkan didalamnya berbagai macam kebaikan dari orang-orang terdahulu. Kitab ini pula menceritakan tentang apa-apa yang diberikan kepada orang-orang terdahulu yang tidak diberikan kepada orang-orang yang hidup terakhir, atau sebaliknya. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada beliau sampai hari kiamat.

































BAB III
PENUTUP




KESIMPULAN:

a. Dalam Surat An-Nahl Ayat 36, ayat ini menghibur nabi muhammad SAW, dalam menghadapi para pembangkang dari kaum beliau, seakan-akan ayat ini menyatakan: Allah pun telah mengutusmu, maka ada diantara umatmu yang menerima baik ajakanmu dan ada juga yang membangkang.

b. Kata ( طاغوت ) thaghut terambil dari kata (طغى ) thagha yang pada mulanya berarti melampaui batas. Ia biasa juga dipahami dalam arti berhala-berhala, karana penyembahan berhala adalah sesuatau yang sangat buruk dan melampui batas. Dalam arti yang lebih umum, kata tersebut mencakup segala sikap dan perbuatan yang melampaui batas, seperti kekufuran kepada Tuhan, pelanggaran , dan sewenang-wenangan terhadap manusia.

c. Disebutkan kata Ummiyyin (kaum buta huruf) secara khusus, tidak secara otomatis menafikan kaum lainnya, hanya saja nikmat yang telah diberikan kepada mereka tentu lebih banyak dan sempurna

d. Surat Al-jumu’ah Ayat 2 ini merupakan bukti dikabulkannya permohonan Nabi Ibrahim As ketika dia mendoakan penduduk mekkah agar Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang dapat membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka. Mensucikan dan mengajarkan mereka al-kitab dan al-Hikmah.




DAFTAR PUSTAKA


Al-Mahali, Imam Jalaluddin dan Imam Jamaluddin As-Suyuti. 2006. Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul. Bandung: Sina Baru Al-Gesindo.
Al-Su’ud, Fadh bin Abdul Aziz. 2005. Al-Qur’anul Karim wa Tarjamatu Ma’aniyah ilal Lughatul Indunisiyyah. Madinah Munawwarah: Qur’an compleks.
Al-Syeikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq. 2003. Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir. Bogor : Pustaka Imam Asy-Syafi’i
Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi. 2000. Tafsir Al-Qur’anul Majid An-Nuur. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zilalil-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.
Shihab, Muhammad Quraish, Muhammad. 2007. Tafsir Al-Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB = = = PKBA- semester V-

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembangan Kurikulum



1. Perguruan Tinggi
Kurikulum minimal mendapat dua pengaruh dari Perguruan Tinggi. Pertama, dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi umum. Kedua, dari pengembangan ilmu pendidikan dan keguruan serta penyiapan guru-guru di Perguruan Tinggi Keguruan. Jelas sekali bahwa teknologi banyak memberikan sumbangan bagi isi kurikulum serta proses pembelajaran. Jenis pengetahuan yang dikembangkan di Perguruan Tinggi akan mempengaruhi isi pelajaran yang akan dikembangkan dalm kurikulum.
Kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan juga mempengaruhi pengembangan kurikulum, terutama melalui pengusaan ilmu dan kemampuan keguruan adri guru-guru yang dihasilkan. Penguasaan ilmu, baik ilmu pendidikan maupun bidang studi serta kemampuan mengajar dari guru-guru akan sangat mempengaruhi pengembangan dan implementasi kurikulum di sekolah.
Karakteristik guru Mari kita mulai dengan mendefinisikan "kurikulum". Saya mendefinisikan kelas desain kurikulum sebagai sequencing dan mondar-mandir isi bersama dengan pengalaman siswa dengan konten (Marzano). Seorang guru efektif dan kurikulum perencana harus memahami beberapa konsep sentral, alat-alat penyelidikan, dan struktur dari disiplin dia mengajar dan juga dapat membuat pengalaman belajar yang membuat aspek-aspek pokok yang bermakna bagi siswa. Guru harus memahami bagaimana anak-anak belajar dan berkembang dan mereka harus mampu mendukung intelektual, sosial, dan pengembangan pribadi. Seorang guru yang bijak menggunakan berbagai strategi pengajaran untuk mendorong semua siswa beragam 'pembangunan pemecahan masalah, berpikir kritis, dan kinerja keterampilan. Seorang guru berpikir positif akan memahami pentingnya motivasi dan akan menyampaikan sikap positif mereka ke siswa di dalam kelas. Menjadi panutan positif bagi siswa sangat penting. Seorang guru harus benar-benar orang yang dinamis yang selalu mengevaluasi dampak nya pilihan dan tindakan orang lain (siswa, orang tua, dan profesional lain dalam komunitas pembelajaran).
2. Masyarakat
Sekolah merupakan bagian dari masyarakat dan mempersiapkan anak untuk kehidupan di masyarakat. Sebagai bagian dan agen dari masyarakat, sekolah sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dimana sekolah tersebut berada. Isi kurikulum hendaknya mencerminkan kondisi dan dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat disekitarnya. Masyarakat yang ada di sekitar sekolah mungkin merupakan masyarakat masyarakat homogen atau heterogen, masyarakat kota atau desa, petani, pedagang atau pegawai dan sebgainya. Sekolah harus melayani aspirasi-aspirasi yang ada di masyarakat. Salah satu kekuatan yang ada dalam masyarakat adalah dunia usaha. Perkembngan dunia usaha yang ada di masyarakat mempengaruhi pengembangan kurikulum sebab sekolah bukan hanya mempersiapkan anak untuk hiup, tapi juga untuk bekerja dan berusaha. Jenis pekerjaan yang ada di masyarakat mmenuntutu persiapannya di sekolah.
Siswa latar belakang, status, dan kekuatan sosial Semua anak yang datang dari latar belakang yang berbeda dan ada peningkatan jumlah siswa yang berasal dari beragam budaya dan latar belakang etnis. Masyarakat multikultural kita adalah faktor utama yang dipertimbangkan untuk desain kurikulum. Beberapa faktor termasuk keragaman agama, ras, gender, etnisitas, status sosial ekonomi, usia, dan juga anak-anak dengan berbagai jenis cacat. Kurikuler perencana bekerja untuk membangun pendidikan yang sesuai dengan masyarakat multikultural dan kami yang akan membantu setiap anak dari berbagai latar belakang yang berbeda tinggal, bekerja, dan melanjutkan untuk memimpin kesuksesan hidup dalam multi masyarakat. Peran sekolah dalam masyarakat dan tujuan kurikulum telah mayor, terkait erat, isu sekolah sejak pertama kali didirikan. Harapan masyarakat untuk sekolah dan sekolah terhadap masyarakat keduanya tercermin dalam kurikulum sekolah. Kurikulum mencerminkan masyarakat yang kompleks, sebuah masyarakat di mana tidak pernah ada kesepakatan sempurna pada karakteristik masyarakat yang Orlosky & Smith). Beberapa melihat tujuan utama dari kurikulum adalah akuisisi pengetahuan kognitif. Beberapa orang lain akan menganggap itu sebagai program untuk membantu siswa mengembangkan sifat-sifat manusiawi dan rasional. Kurikulum ini disusun menurut kelas dan tingkat usia.
3. Sisitem Nilai
Dalam kehidupan masyrakat terdapt sistem nilai, baik nilai moral, keagamaan, sosial, budaya maupun politis. Sekolah sebagai lembaga masyarakat juga bertanggung jawab dalm pemeliharaan dan penerusan nilai-nilai. Sisitem nilai yang akan dipelihara dan diteruskan tersebut harus terintegrasikan dalam kurikulum. Masalah pertama yang dihadapai pengembang kurikulum menghadapi nilai ini adalah, bahwa dalam masyarakat nilai itu tidak hanya ada satu. Masyarakat umumnya heterogen dan multifaset. Masyarakat mempunyai kelompok-kelompok etnis, kelompok vokaional, kelompok
Pengelolaan kelas
Pengelolaan kelas adalah agar mencapai pembelajaran produktif sehingga dapat terjadi. Tujuan akhir pengelolaan kelas adalah untuk mempromosikan belajar. Jika belajar adalah guru dicapai maka semakin-nya di kurikulum kepada siswa. Efektif guru-guru memberikan kesempatan siswa untuk membuat keputusan sendiri. Baik guru kelas tidak tergantung pada lingkungan tetapi lebih independen arena pembelajaran siswa. Excellent pemimpin instruksional dengan beberapa siswa memberikan kesempatan untuk membuat pilihan dan menerima konsekuensi dari pilihan-pilihan (Frederick). Guru-guru yang memberdayakan siswa dalam pengambilan keputusan yang independen dan bertanggung jawab memfasilitasi peserta didik. Menetapkan Rutinitas bagi siswa memberikan mereka rasa tanggung jawab dan memungkinkan mereka untuk membuat keputusan-keputusan yang mereka daripada guru.

intelek, kelompok sosial, spritual dan sebagainya yang tiap kelompok sering memiliki
nilai yang berbeda. Dalam masyarakat juga terdapat aspek-aspek sosial, ekonomi, politik, fisik, estetika, etika, relegius, dan sebgainya. Aspek-aspek tersebut sering juga mengandung nilai-nilai yang berbeda. Ada bebrapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam mengajarkan nilai.
1.Guru hendaknya mengetahui dan memperhatikan semua nilai yang ada dalam masyarakat.
2.Guru hendaknya berpegang pada prinsip demokrasi, etis dan moral.
3.Guru berusaha menjadikan dirinya sebagai teladan yang patut ditiru.
4.Guru menghargai nilai-nilai kelompok lain.
5.mamahami dan menerima keberagaman kebudayaan sendiri.

C. Artikulasi dan Hambatan Pengembangan Kurikulum
Atikulasi dalam pendidikan berarti “kesatupaduan dan koordinasi segala pengalaman belajar”. Untuk merealisasikan artikulasi kurikulum, perlu meneliti kurikulum secara menyeluruh, membuang hal-hal yang tidak di perlukan, menghilangkan duplikasi, merevesi metode serta isi pengajaran, mengusahakan perluasan, dan kesinambungan kurikulum. Bila artikulasi dilaksanakan dengan baik akan terwujud kesinambungan pengalaman belajar sejak TK sampai Perguruan Tinggi, juga antara satu bidang studi lainnya secara horizontal. Tanpa artikulasi akan terdapat keragaman baik dalam isi, metode maupun perhatian terhadap perkembangan anak.
Untuk menyusun artikulasi kurikulum diperlukan kerja sama dari bebagai pihak; para administrator, kepala sekolah, TK sampai rektor Universitas, guru-guru dari setiap jenjang pendidikan, orang tua murid dan tokoh masyarakat. Dalam mengusahakan artilukasi kurikulum tersebut murudpun pelu dimintakan pendapatnya tentang hubungan pelajaran yang satu dengan lainnya, hubungan antara satu tingkat dengan tingkat berikutnya. Salah satu hal yang perlu sering dipandang menghambat artikulasi adalah pembagian menurut tingkat belajarnya. Hal itu menyebabkan tersusunnya organisasi mata pelajaran yang kaku. Untuk menjamin kesinambungan belajar bebrapa sekolah menggunakan sistem pendidikan tidak berkelas.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PEMBENTUKAN KURIKULUM MATEMATIK
Oleh:
Tengku Zawawi b Tengku Zainal
Unit Matematik MPKTBR

________________________________________
PENGENALAN
Kurikulum adalah rancangan pendidikan yang sentiasa mengalami perubahan. Dalam konteks pendidikan di Malaysia, perancangan dan pembentukan kurikulum ( khususnya KBSR dan KBSM ) adalah didasari oleh falsafah dan matlamat pendidikan negara yang menentukan arah haluan, asas dan sumber inspirasi kepada semua usaha dan rancangan dalam bidang pendidikan.
Kurikulum atau pun skop kandungan sesuatu pelajaran adalah asas penting dalam sistem pendidikan sesebuah negara. Sebagai sebuah negara yang sedang pesat membangun, Malaysia memerlukan suatu kurikulum yang kemas dan sesuai untuk mewujudkan sistem pendidikan yang dinamik serta selaras dengan cita-cita dan kehendak negara ( Kamaruddin Haji Hussin, 1994 )
Perkembangan kurikulum tidak berlaku dengan sendiri tanpa sebab yang mempengaruhinya. Ia berlaku sejajar dengan kemajuan masyarakat dan negara dan ia dianggap sebagai satu proses yang dinamik dan seimbang.
________________________________________
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN KURIKULUM
1.0 Falsafah pendidikan
Falsafah pendidikan negara memainkan peranan yang penting dalam mencorak sistem pendidikan di sesebuah negara, khususnya di Malaysia. Falsafah pendidikan kebangsaan kita adalah seperti berikut :
" Pendidikan di Malaysia adalah suatu usaha berterusan ke arah memperkembangkan lagi potensi individu secara menyeluruh dan bersepadu untuk mewujudkan insan yang harmoni dan seimbang dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani berdasarkan kepercayaan dan kepatuhan kepada Tuhan. Usaha ini adalah bagi melahirkan rakyat Malaysia yang berilmu pengetahuan, berketrampilan, berakhlaq mulia, bertanggungjawab dan berkeupayaan mencapai kesejahteran diri serta memberi sumbangan terhadap keharmonian dan kemakmuran masyarakat dan negara "
( PPK, 1988 )
Falsafah pendidikan negara mempunyai implikasi yang besar terhadap pembentukan kurikulum. KBSR dan KBSM adalah hasil perubahan yang diaspirasikan dalam Falsafah Pendidikan Negara. Antara perubahan-perubahan yang jelas terdapat dalam kedua-dua tersebut ialah ;
i. Sukatan pelajaran yang digubal memberi penekanan kepada aspek kesepaduan dan keseimbangan. Oleh itu konsep-konsep seperti penggabungjalinan ( penyatuan kemahiran-kemahiran ) dan penyerapan ( penyatuan isi ) sentiasa dititik beratkan.
ii. Penekanan baru diberikan kepada penerapan nilai-nilai murni. Ia seharusnya diserapkan dalam setiap mata pelajaran yang diajar di sekolah.
iii. Program pendidikan disusun agar dapat melahirkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani berdasarkan kepercayaan dan kepatuhan kepada Tuhan.
iv. Program pendidikan yang menitik beratkan pendidikan umum diperkenalkan.
v. Penekanan diberikan kepada pendidikan teknik dan vokasional.
vi. Penekanan juga diberikan kepada bahasa merentasi kurikulum.
vii. Pemupukan budaya sains dan teknologi terus ditekankan.
viii. Pemupukan budaya keusahawanan dan budaya niaga ditegaskan.
ix. Pengukuhan dan perluasan bahasa Melayu sebagai satu cabang ilmu pengetahuan.
x. Peningkatan pendedahan dan penguasaan bahasa Inggeris.
xi. Penekanan kepada melahirkan individu yang berkeyakinan diri dan bersikap berdikari.
( Kamaruddin Haji Husin, 1994 )
________________________________________
2.0 Kehendak masyarakat
Kurikulum digubal dan dilaksanakan mengikut kehendak dan desakan masyarakat. Masyarakat juga menentukan samada kurikulum itu sesuai atau pun tidak dengan kehendak mereka. Namun begitu bukanlah mudah untuk memenuhi semua tuntutan masyarakat terhadap kurikulum dan sumbangannya pada budaya, lebih-lebih lagi dalam masyarakat yang kompleks dan mengalami perubahan yang pesat.
Hilda Taba ( 1962 :24) menyatakan :
" It is not an easy task to establish what demands society makes on education and what contribution education can or should make to culture, especially in a complex society in which vast and rapid changes are occuring."
Penilaian atau kajian berterusan adalah diperlukan untuk memastikan matlamat dan kehendak masyarakat terhadap pendidikan benar-benar terlaksana. Misalnya dalam masyarakat industri, pendidikan harus mempunyai strategi terhadap ciri-ciri ekonomi, politik, sosial dan budaya masyarakat tersebut. Dalam masyarakat pertanian pula, ciri-ciri kurikulumnya adalah berbeza.
Masyarakat mengkehendaki murid-murid mempelajari kemahiran-kemahiran asas seperti membaca, menulis dan mengira; konsep-konsep asas cara hidup masyarakat dari segi politik, sosial dan ekonomi; serta teknik-teknik asas untuk menyertai kehidupan sesuatu masyarakat, seperti mengambil bahagian dalam perbincangan, kepimpinan dan pemikiran kritis dalam suatu sistem demokratik.
KBSR telah digubal dengan tujuan untuk membolehkan murid-murid :
- menguasai bahasa Melayu dengan memuaskan.
- menguasai kemahiran asas berbahasa seperti bertutur, membaca dan menulis.
- menguasai kemahiran mengira
- menguasai Bahasa Inggeris
- membina dan memupuk akhlak yang mulia
- meningkatkan ilmu pengetahuan tentang manusia dan alam
- dapat bergaul dalam masyarakat
o mengembangkan bakat dan daya kepimpinan
________________________________________
3.0 Faktor politik
Francis P. Hunkin (1987) dalam bukunya "Currikulum Planning menyatakan " :
"Curriculum Development is also a political process. It requires dealing with people and their various power bases and their views of what makes for good education"
Wiles Bondi (1989) dalam bukunya `Curriculum Development : A Guide to Practice’ turut menjelaskan pengaruh politik dalam pembentukan dan perkembangan sesuatu kurikulum.
Ini jelas menunjukkkan bahawa perkembangan kurikulum dipengaruhi oleh proses politik, kerana setiap kali pucuk pimpinan sesebuah negara itu bertukar, maka setiap kali itulah kurikulum pendidikan akan dikaji semula. Kurikulum pendidikan menjadi saluran penting bagi setiap badan pemerintahanmenguatkan pengaruh mereka. Kerajaan bertanggungjawab menetapkan Dasar Pendidikan Negara sejajar dengan hasrat pemerintah.
Di Malaysia misalnya, ketika British berkuasa di negara ini, dasar pelajaran hanya bertujuan menjadikan anak-anak Melayu petani dan nelayan yang lebih baik daripada ibubapa mereka. Pihak British tidak langsung menitikberatkan perpaduan rakyat berbilang kaum di negara ini. Apabila negara mencapai kemerdekaan, Dasar Pelajaran Kebangsaan turut berkembang dan berubah. Dasar Pelajaran Kebangsaaan yang termaktub dalam Akta Pelajaran 1961 menitikberatkan aspek-aspek yang berkaitan dengan perpaduan negara dan penghasilan tenaga kerja. Melalui kurikulum Pendidikan disalurkan aktiviti-aktiviti yang boleh membentuk keperibadian dan perwatakan individu yang baik dan oleh membawa ke arah perpaduan. Sukatan pelajaran yang sama isi kandungannya yang disyorkan oleh Penyata Razak 1956 dianggap sebagai salah satu asas sistem pendidikan kebangsaan bagi mewujudkan perpaduan negara itu.
________________________________________
4.0 Faktor pembangunan negara dan perkembangan dunia
Perkembangan kurikulum juga dipengaruhi oleh faktor pembangunan negara dan perkembangan dunia. Negara yang ingin maju dan membangun tidak seharusnya mempunyai kurikulum yang statik. Oleh itu ia harus diubahsuai mengikut peredaran masa dan kemajuan sains dan teknologi. Menurut Hida Taba (1962) :
"Technology has changed and is changing not only the face of the earth and the institutions of our society, but man itself "
Kenyataan di atas jelas menunjukkan bahawa perkembangan teknologi telah membawa perubahan yang pesat pada kehidupan manusia di muka bumi ini. Oleh itu perkembangan kurikulum haruslah sejajar dengan pembangunan negara dan perkembangan dunia. Kandungan kurikulum pendidikan perlu menitikberatkan mata pelajaran sains dan kemahiran teknik atau vokasional kerana tenaga kerja yang mahir diperlukan dalam zaman yang berteknologi dan canggih ini. (Ee Ah Meng, 1995)
5.0 Faktor perubahan sosial
Selain menjadi tempat menyalurkan pengetahuan dan melatih kemahiran akademik, sekolah juga merupakan agen sosial. Melalui pendidikan di sekolah, nilai-nilai sosial yang diperlukan dalam dan negara diserapkan.
Dewasa ini masalah keruntuhan moral dan jenayah di kalangan remaja dan murid-murid semakin meningkat. Mereka terdedah dengan masalah penagihan dadah, minum minuman keras, merokok, pergaulan bebas dan melakukan perkara-perkara jenayah seperti mencuri, merompak, merogol dan sebagainya. Masalah ini jika tidak dibendung dengan segera, akan merosak dan menghalang pembangunan negara.
Menyedari hakikat ini, negara telah mewujudkan Falsafah Pendidikan Negara yang bertujuan memperkembangkan lagi potensi individu secara menyeluruh dan bersepadu untuk mewujudkan insan yang harmonis dan seimbang dari segi intelek, rohani, emosi dan jasmani.. Dengan itu perkembangan kurikulum harus sejajar dengan perubahan sosial agar nilai-nilai murni dalam diri individu tidak pupus ditelan arus pembangunan (Mohammad Nor, 1990; Kamaruddin Hj. Husin, 1994).
________________________________________
6.0 Faktor perancang dan pelaksana kurikulum
Perubahan yang begitu pesat dalam masyarakat dan dunia membuat kurikulum hari ini perlu disesuaikan mengikut peredaran masa. Sehubungan dengan itu perancang kurikulum bertanggungjawab menyemak semula dari masa ke semasa. Pengguguran, perubahan atau pertambahan terhadap kurikulum harus dilakukan mengikut peredaran masa, kehendak masyarakat dan kemajuan negara.
Kita hidup dalam masyarakat yang berubah-ubah, iaitu pengetahuan baru sentiasa ditemui, sementara pengetahuan lama yang dibuktikan kurang tepat diperkemaskinikan. Masalah pertambahan pengetahuan yang banyak menimbulkan masalah pemilihan apa yang hendak dipelajari serta pertimbangan semula bagaimana pembelajaran harus berlaku. Dengan menyedari bahawa murid-murid harus disediakan untuk menyesuaikan diri dengan permintaan masyarakat yang cepat berubah, guru-guru dan perancang kurikulum harus menyemak semula apa yang mereka kemukakan kepada murid-murid (Kamaruddin Hj. Husin, 1994).
Berdasarkan maklumat yang diperolehi daripada pelaksana kurikulum harus sentiasa peka dengan perubahan yang timbul serta bersedia mencari penyelesaian dalam mengubah kurikulum merupakan orang yang penting dalam
________________________________________
7.0 Faktor murid , kehendak , dan keperluan masyarakat
Pelajar sebagai individu mempunyai kehendak dan keperluan asas ytang melibatkan kehendak dan keperluan asa yang melibatkan keselamatan, kasih sayang, bermasyarakat dan kehendak penyempurnaan kendiri. Kurikulum yang akan dibentuk sewajarnya dapat memberi ilmu pengetahuan dan kemahiran agar kehendak dan keperluannya sebagai muriod dan individu dapat dipenuhi. Ini bermakna, kurikulum yang dibentuk akan menyediakan segala ilmu pengetrahuan dan kemahiran yang merangsang perkembangan potensi mereka secara menyeluruh iaitu merangkmi intelek, jasmani, rohani dan sosial( Ee Ah Meng, 1995).
Perancangan kurikulum yang baik sentiasa mengambil kira keperluan murid serta mampu memberi faedah secara menyeluruh. Ini bermakna faktor minat dan perkembangan individu dalam bidang kognitif, psikomotor dan afektif perlu difikirkan semasa membentuk kurikulum tersebut.
Kajian hendaklah dilakukan terhadap keperlun individu, sekurang-kurangnya dari peringkat bayi hingga remaja. Hasilnya, segala keperluan tersebut dapat diserapkan ke dalam sistem pendidikan itu dan dilaksanakan di sekolah-sekolah dengan berkesan.
Murid adalah individu yang bakal menjadi sebahagian daripada anggota masyarakat. Oleh itu, kurikulum haruslah bertanggungjawab menyediakan murid-murid dengan pendidikan yang berkaitan dengan masyarakat di mana mereka tinggal dan juga bentuk masyarakat yang akan mereka hadapi kelak.
________________________________________
8.0 Faktor perkembangan ilmu dan kepentingannya
Masa yang berlalu turut membawa perubahan kepada masyarakat yang seterusnya menuntut mereka menerima pendidikan yang lebih sempurna selaras dengan keperluan kemajuan yang kian pesat. Ilmu yang bersifat dinamik menyebabkan ia sentiasa berkembang. Perkembangan ini disebarkan kepada masyarakat menerusi perancangan kurikulum 6yang lebih kemas dan sesuai dengan kehendak masyarakat dan negara.
Penemuan baru dalam pelbagai bidang seperti perubatan, teknologi dan sebagainya menjadikan bidang itu terus berkembang. Perekembangan ini penting dalam pembentukan kurikulum supaya ia dapat dikemaskini dari masa ke semasa agar ilmu -ilmu baru ini dapat dissalurkan kepada murid-murid bagi mengimbangi keperluan zaman.
Selain itu, pengenalan ilmu atau bidang-bidang baru ke dalam pendidikan membantu meningkatkan taraf pendidikan itu sendiri. Contohnya, mem[erkenalkan ilmu pengurusan dan perhubaungan ke dalam biodang pendidikan, khususnya ke dalam bidang kurikulum, meningkatkan lagi keberkesanan proses perkembvangan kuriklum itu sendiri.
________________________________________
9.0 Pengaruh psikologi pendidikan
Teori disiplin mental yang berlandaskan konsep falsafah yang dimajukan oleh Plato dan Aristotle banyak mempengaruhi pengajaran aritmetik pada abad ke 19. Salah satu aspek disiplin mental yang penting ialah psikolgi fakulti. Psikologi Fakulti mempunyai pengaruh yang begitu kuat terhadap isu mengapa matematik perlu dipelajari oleh kanak-kanak. Manakala ahli ` fahaman perkaitan’ mengaggap pembelajran sebagai pembinaan unit-unit kecil yang terdiri daripada rangkaian R-G untuk menghasilakn tingkah laku. Fahaman ini telah menghasilakn startegi pengajaran aritmatik kepada fakta dan kemahiran kecil untuk diajar dan dinilai secara berasingan. Kesan utama pendekatan ini bterhadap sekolah ialah matematik diajar semata-mata dengan menggunakan teknik latih tubi ( Nik Aziz Nik Pa, 1992).
Pemikiran psikologi `behaviourisme’ telah bertapak dalam kurikulum pendidikan matematik sejak awal 60’an. Dalam pemikiran ini murid telah dianggap sebagai gelas kosong. Guru berperanan memasukkan pengetahuan matematik ke dalam gelas tersebut. Pendekatan ini mengenepikan aktiviti pengembangan intelek yang sekaligus membina sikap negatif dalam diri pelajar terhadap matematik.
Untuk mengatasi masalah itu, satu kurikulum matetamati yang memberikan tumpuan kepada penyelesaian masalah dan pemikiran kritis telah diperkembangkan pada penghujung tahun 70’an. Seterusnya dalam KBSM pengajaran dan pembelajran Matematik ditekankan kepada fahamanb binaan (konstuktivm) dan kemahiran berfikir secara kreatif dan kritis.
(Nik Aziz Nik Pa, 1992)
________________________________________
PENUTUP
Proses perkembangan kurikulum sebagai sifatnya yang sentiasa berubah turut dipengaruhi oleh faktor-faktor persekitaran yang merangsang reaksi manusia yang terlibat dalam kepentingannya. Hasrat terhadap perubahan kurikulum itu menggambarkan keperluan pendidikan yang menjadi wadah peneerusan kepada kemajuan tamadun bangsa dan negara itu sendiri.
Sebenarnya, faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan [perkembangan kurikulum adalah elemen yang saling berkait antara satu sama lain. Dapatlah dikatakan bahawa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kurikulum itu sendiri mencerminkan idealisme dan perubahan keperluanmasyarakat dan negara, melalui institusi persekolahan yang akan meneruskan kebudayaan atau mencetuskan tamadun baru.

Faktor sosiologis merupakan dinamika masyarakat, terutama keinginan dan kecenderungan mereka untuk semakin maju, meskipun dalam beberapa hal juga disertai dengan sejumlah ekses yang tidak diharapkan, baik di bidang ekonomi maupun sosial budaya. Di antara kecenderungan paling menonjol adalah tuntutan ekonomi yang semakin besar sejalan dengan proses modernisasi dan industrialisasi yang semakin pesat, sehingga pendidikan sering diidentikkan dengan pembangunan sumber daya manusia yang siap terjun di bidang ekonomi. Sedangkan faktor psikologis adalah peserta didik yang menjadi obyek dari proses belajar mengajar. Dalam konteks IAIN/STAIN peserta didik adalah mahasiswa yang nota bene sudah memasuki usia dewasa, yang berarti sudah mengalami kematangan emosional dan intelektual, sehingga mereka tidak hanya perlu diisi materi pelajaran saja, tetapi juga diberi kesempatan untuk dapat mengembangkan diri.6 Adapun faktor epistimologi berkaitan dengan hakekat ilmu yang diajarkan yang dalam hal ini adalah bidang studi ilmu agama.
Fenomena saat ini menunjukkan bahwa bidang studi ilmu pengetahuan umum dan teknologi, yang didasarkan hanya pada rasionalisme dan empirisme, mengalami perkembangan atau perubahan secara cepat. Di sisi lain, meskipun juga mengalami perkembangan (al-tathawwur), bidang studi ilmu agama yang dasar utamanya adalah wahyu di samping rasionalisme dan empirisme nampak berjalan lambat, karena ada dimensi tertentu dalam ilmu agama yang bersifat abadi atau tetap (al-tsubut).

Kurikulum adalah seperangkat materi pendidikan dan pengajaran yang diberikan kepada peserta didik. Definisi lain, "suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar-mengajar di bawah bimbingan dan tanggungjawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya."l Ralp Tayler dalam Basic Principles of Curriculum and Instruction, berpendapat ada empat faktor penentu dalam perencanaan kurikulum, yakni faktor filosofis, sosiologis, psikologis dan epistimologis.2 Faktor-faktor ini, terutama faktor sosiologis, mengalami perkembangan sangat dinamis, sehingga menuntut evaluasi untuk melakukan pengembangan serta perubahan kurikulum secara periodik. Namun, karena aspek sosiologis ini juga berbeda antara satu tempat dengan tempat lain, maka di samping penyeragaman kurikulum secara nasional, perlu juga pengembangan kurikulum sesuai dengan kondisi dan potensi lokal masing-masing lembaga pendidikan.

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBANGAN KURIKULUM

Ada berbagai faktor yang mempengaruhi pengembangan kurikulum, yaitu :

a. Filsafat dan Tujuan Pendidikan

Filsafat pada dasarnya adalah suatu pandangan hidup yang dianut oleh setiap orang, yang menjadi dasar untuk memandang dan melandasi suatu tindakan/ perbuatan.
Manakala suatu filsafat sudah menjadi sistem nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka ia dapat menjadi acuan yang tentu sangat mempengaruhi segala apa yang dibuat dan dilakukan oleh bangsa itu, termasuk penentuan tujuan pendidikannya.
Selanjutnya Tujuan Pendidikan itu akan terus mempengaruhi dan menentukan arah pendidikan di negara itu, termasuk pembuatan dan pengembangan kurikulum di negara itu.

b. Sosial Budaya Penyusunan Kurikulum

Karena sekolah sebagai suatu institusi sosial dibentuk dan dikembangkan untuk memenuhi tuntutan dan harapan masyarakat, maka dengan sendirinya kekuatan sosial budaya akan sangat berpengaruh bagi kurikulum suatu sekolah.
Ada berbagai kekuatan sosial yang sangat berpengaruh terhadap kurikulum yang menurut Ganjar Nugraha Jiwa Praja adalah unsur pokok kebudayaan, yaitu :

1) Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan
2) Organisasi ekonomi
3) Sistem norma-norma yang memungkinkan kerjasama antar para anggota masyarakat agar menguasai alam sekitar.
4) Perlengkapan dan peralatan hidup manusia
5) Sistem kemasyarakatan
6) Bahasa
7) Kesenian
8) Sistem Pengetahuan
9) Relegi ( sistem kepercayaan )

c. Psikologi Penyusunan Kurikulum

Kurikulum merupakan acuan dan pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik, maka muatan kurikulum yang merupakan pengalaman belajar harus selaras dengan perkembangan kejiwaan peserta didik yang disesuaikan dengan faktor yang mempengaruhi belajar mereka.

Ada berbagai landasan psikologis, yang manakala ditetapkan sebagai penyusunan kurikulum akan mempengaruhi terus menerus dalam pengembangan kurikulum itu, yaitu :

1) Pandangan tentang pengertian belajar
2) Teori belajar
d. Siswa sebagai dasar Penyusunan Kurikulum

Pendidikan akan lebih menarik dan bermakna bagi peserta didik manakala ia disesuaikan dengan kebutuhan jasmani, sosial dan intelektual peserta didik.
Segala hal yang berhubungan dengan siswa yang harus diperhatikan dan tentu akan berpengaruh bagi pengembangan kurikulum yaitu :

1) Siswa sebagai anggota masyarakat

2) Siswa sebagai individu yang sedang tumbuh dan berkembang, baik aspek pertumbuhan dan perkembangan fisiologisnya, aspek psikologisnya atau pun perubahan yang datang dari pengaruh lingkungan dan kultur dimana ia hidup.

3) Siswa sebagai indvidu yang memiliki kebutuhan pokok yang menurut Tyler , meliputi : kesehatan, hubungan sosial, hubungan sosial, hubungan dengan kewajiban sebagai warga negara, konsumen, jabatan dan kedudukan serta rekreasi.

4) Deplopmental Task
Deplopmental Task yaitu tugas-tugas yang muncul dalam periode tertentu dalam kehidupan seseorang, yang biasanya merupakan dasar bagi kebahagiaan dan keberhasilan menjalankan tugas-tugas tertentu dalam perkembangan dan pertumbuhan dia selanjutnya.

e. Prinsip, Organisasi, Bentuk dan Struktur Kurikulum

Suatu prinsif, organisasi, bentuk atau pun struktur kurikulum yang ditetapkan untuk penyusunan kurikulum, tentu akan sangat mempengaruhi pengembangan kurikulum selanjutnya.
Misalnya pada penyusunan kurikulum ditetapkan berorientasi kepada tujuan sebagai salah satu prinsipnya, maka secara otomatis pengembangan kurikulum tersebut sampai tingkat aktualisasinya harus berorientasi kepada tujuan itu, dan begitulah seterusnya, termasuk organisasi, bentuk dan struktur kurikulum itu jika kita tetapkan sebagai sesuatu hal yang harus jadi landasan utamanya.


Hambatan-hambatan Pengembangan Kurikulum

Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan. Hambatan pertama terletak pada guru. Guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal itu disebabkan beberapa hal. Pertama kurang waktu. Kedua kekurangsesuaian pendapat, baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator. Ketiga karena kemampuan dan pengetahuan guru sediri.

Hambatan lain datang dari masyarakat. Untuk pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan. Masyarakt adalah sumber input dari sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepatan kurikulum yang digunakan membutuhkan bantuan, seta input fakta dan pemikiran dari masyarakat.

Hambatan lain yang dihadapi oleh pengembang adalah biaya. Untuk prngembangan kurikulum, apalagi yang berbentuk kegiatan eksperimen baik metode, isi atau sisitem secara keseluruhan membutuhkan biaya yang sering tidak sedikit.

Hambatan-hambatan Pengenbagan Kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum terdapat beberapa hambatan. Hambatan pertama trletak pada guru. Guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal itu disebabkan beberapa hal. Pertama kurang waktu. Kedua kekurangsesuaian pendapat, baik antara sesama guru maupun dengan kepala sekolah dan administrator. Ketiga karena kemampuan dan pengetahuan guru sediri.
Hambatan lain datang dari masyarakat. Untuk pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan atau kurikulum yang sedang berjalan. Masyarakt adalah sumber input dari sekolah. Keberhasilan pendidikan, ketepatan kurikulum yang digunakan membutuhkan bantuan, seta input fakta dan pemikiran dari masyarakt.
Hambatan lain yang dihadapi oleh pengembang adalah biaya. Untuk prngembangan kurikulum, apalagi yang berbentuk kegiatan eksperimen baik metode, isi atau sisitem secara keseluruhan membutuhkan biaya yang sering tidak sedikit.
Berdasarkan data lapangan dapat diinterpretasikan bahwa hanya sebagian guru yang memahami tuntutan pentingnya kreativitas guru dalam implementasi kurikulum dengan pendekatan mutual-adaptive. Sebagai konsekuensinya adalah hanya sebagian guru yang membuat persiapan-persiapan pembelajaran sesuai dengan hakekat mutual-adaptive dari kurikulum, sedangkan sebagian lagi membuat persiapan hanya untuk memenuhi tuntutan administratif dalam manajemen sekolah. Guru-guru menggunakan kurikulum (GBPP) sebagai pedoman dalam pembuatan perencanaan program pembelajaran. Alat, media dan sumber-sumber pembelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah belum sesuai dengan yang diharapkan.
Kesulitan-kesulitan penerapan pendekatan mutual-adaptive dalam implementasi kurikulum bersumber dari kurangnya pemahaman guru terhadap hakekat mutual-adaptive tersebut, dan penerimaan sekolah dan masyarakat terhadap tuntutan perubahan sesuai dengan hakekat kurikulum yang berlaku. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan guru antara lain membuat rencana-rencana pembelajaran tahunan, caturwulan, dan harian, termasuk di dalamnya menganalisis keterampilan-keterampilan yang akan dicapai melalui kegiatan-kegiatan pembelajaran. Penerapan pendekatan mutual-adaptive memberikan dampak pada perubahan tingkah laku siswa dalam dimensi-dimensi kognitif, psikomotor, dan afektif. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa pemahaman guru terhadap hakikat kurikulum pada dasarnya mempengaruhi keberhasilannya memenuhi tuntutan-tuntutan perubahan melalui penerapkan pendekatan mutual-adaptive dalam pembelajaran siswa.
Berdasarkan temuan-temuan penelitian tersebut dapat dirumuskan beberapa kaidah yang mempengaruhi keberhasilan implementasi oleh guru sebagai pihak pelaksana dan pengembang kurikulum: (1) guru dituntut untuk kreatif menerapkan prinsip-prinsip behavioristik (S-R) dalam situasi nyata, dalam pengertian bahwa guru harus kreatif merespon berbagai stimulus yang mempengaruhi keberhasilannya dalam implementasi kurikulum, yakni dengan cara menerapkan pendekatan mutual-adaptive; (2) tujuan-tujuan instruksional merupakan sentral dalam desain dan implementasi pembelajaran siswa; dan (3) guru harus kreatif dalam seleksi konten, KBM, alat, media, dan sumber-sumber belajar, serta dalam kegiatan evaluasi dan tindak lanjutnya.
Temuan-temuan penelitian ini memiliki implikasi bagi pihak-pihak yang terkait dan bertanggung jawab pada keberhasilan implementasi kurikulum, yaitu: (1) perlunya upaya-upaya peningkatan kualifikasi guru dalam memahami dan mengimplementasikan kurikulum; (2) kepemimpinan kepala sekolah untuk mendorong guru-guru meningkatkan mutu pemahaman dan implementasi sesuai dengan hakikat kurikulum; (3) pengawasan dari dinas terkait hendaknya lebih mendorong guru-guru dan kepala sekolah meningkatkan mutu implementasi kurikulum; dan (4) pentingnya penelitian lanjutan yang berkaitan dengan implikasi hakekat mutual-adaptive kurikulum dalam setiap bidang kurikulum.

HADITS TENTANG PERGAULAN

HADITS KELIMA BELAS




HADITS TENTANG PERGAULAN


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. [رواه البخاري ومسلم]
Kosa kata :
(لـِ)يَصْمُتْ : (hendaklah) dia diam يُكْرِم : Memuliakan
جار(ه) : Tetangga-(nya) ضَيْفَـ(هُ) : Tamu-(nya)

Terjemah hadits :
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya" (Riwayat Bukhari dan Muslim)



Pelajaran:
1. Iman terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.
2. Islam menyerukan kepada sesuatu yang dapat menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang dikalangan individu masyarakat muslim.
3. Termasuk kesempurnaan iman adalah perkataan yang baik dan diam dari selainnya.
4. Berlebih-lebihan dalam pembicaraan dapat menyebabkan kehancuran, sedangkan menjaga pembicaraan merupakan jalan keselamatan.
5. Islam sangat menjaga agar seorang muslim berbicara apa yang bermanfaat dan mencegah perkataan yang diharamkan dalam setiap kondisi.
6. Tidak memperbanyak pembicaraan yang diperbolehkan, karena hal tersebut dapat menyeret kepada perbuatan yang diharamkan atau yang makruh.
7. Termasuk kesempurnaan iman adalah menghormati tetangga dan memperhatikan serta tidak menyakitinya.
8. Wajib berbicara saat dibutuhkan, khususnya jika bertujuan menerangkan yang haq dan beramar ma’ruf nahi munkar.
9. Memuliakan tamu termasuk di antara kemuliaan akhlak dan pertanda komitmennya terhadap syariat Islam.
10. Anjuran untuk mempergauli orang lain dengan baik.
Tema hadits dan ayat-ayat Al Quran yang terkait :
1. Iman dan pengaruhnya dalam prilaku keseharian: 16: 97
2. Menjaga perkataan: 50 : 18,
3. Hubungan baik dengan tetangga : 4 : 36,
4. Sikap mulia terhadap tamu : 51 : 24-27


HADITS KEDUA PULUH

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. [رواه البخاري ]

Kosa kata :
أدرك : Diketahui, didapatkan النبوة : Kenabian
لم : Huruf nafi, artinya: tidak تستح (تستحي) : (engkau) malu .
(فـ)ـاصنع : (maka) perbuatlah شِئْـ(ـت) : (yang engkau) sukai


Terjemah hadits:
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshary Al Badry radhiallahuanhu dia berkata, Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu perbuatlah apa yang engkau suka. (Riwayat Bukhari).

Kandungan Hadist :
1. Malu merupakan tema yang telah disepakati oleh para nabi dan tidak terhapus ajarannya.
2. Jika seseorang telah meninggalkan rasa malu, maka jangan harap lagi (kebaikan) darinya sedikitpun.
3. Malu merupakan landasan akhlak mulia dan selalu bermuara kepada kebaikan. Siapa yang banyak malunya lebih banyak kebaikannya, dan siapa yang sedikit rasa malunya semakin sedikit kebaikannya.
4. Rasa malu merupakan prilaku dan dapat dibentuk. Maka setiap orang yang memiliki tanggung jawab hendaknya memperhatikan bimbingan terhadap mereka yang menjadi tanggung jawabnya.
5. Tidak ada rasa malu dalam mengajarkan hukum-hukum agama serta menuntut ilmu dan kebenaran. Allah ta’ala berfirman: “ Dan Allah tidak malu dari kebenaran “ (33 : 53).
6. Di antara manfaat rasa malu adalah ‘Iffah (menjaga diri dari perbuatan tercela) dan Wafa’ (menepati janji).
7. Rasa malu merupakan cabang iman yang wajib diwujudkan.

Tema hadits :
1. Menumbuhkan rasa malu sesuai proporsinya: 33:53






HADITS KEDUAPULUH LIMA

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ نَاساً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَيتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ : أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ : إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ .
[رواه مسلم]

Kosa kata :
الدثور Bentuk jamak dari دثر : harta yang banyak الأجور: jamak الأجر : pahala
فضول : Sesuatu yang berlebih وزر : Dosa
بضع:Kemaluan (maksudnya adalah: jima’)
Terjemah hadits:
Dari Abu Dzar radhiallahuanhu: Sesungguhnya sejumlah orang dari shahabat Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam ) berkata kepada Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam: “ Wahai Rasululullah, orang-orang kaya telah pergi dengan membawa pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka (sedang kami tidak dapat melakukannya). (Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam) bersabda: Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian jalan untuk bersedekah? Sesungguhnya setiap tashbih ) merupakan sedekah, setiap takbir merupakan sedekah, setiap tahmid merupakan sedekah, setiap tahlil merupakan sedekah, amar ma’ruf nahi munkar merupakan sedekah dan setiap kemaluan kalian ) merupakan sedekah. Mereka bertanya: Ya Rasulullah masakah dikatakan berpahala seseorang di antara kami yang menyalurkan syahwatnya? Beliau bersabda: Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan di jalan yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada jalan yang halal, maka baginya mendapatkan pahala. (Riwayat Muslim)



Kandungan Hadist :
1. Sikap bijak dalam menanggapi berbagai kondisi serta mendatangkan kabar gembira bagi jiwa serta menenangkan perasaan.
2. Para shahabat berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan.
3. Luasnya keutamaan Allah ta’ala serta banyaknya pintu-pintu kebaikan yang dibuka bagi hamba-Nya.
4. Semua bentuk zikir sesungguhnya merupakan shadaqah yang dikeluarkan seseorang untuk dirinya.
5. Kebiasaan-kebiasaan mubah dan penyaluran syahwat yang disyariatkan dapat menjadi ketaatan dan ibadah jika diiringi dengan niat saleh.
6. Anjuran untuk meminta sesuatu yang dapat bermanfaat bagi seorang muslim dan yang dapat meningkatkan dirinya ke derajat yang lebih sempurna.
7. Di dalam hadits ini terdapat keutamaan orang kaya yang bersyukur dan orang fakir yang bersabar.
8. Iri terhadap kebaikan orang lain (agar dirinya seperti orang tersebut) adalah hal yang diperbolehkan dalam agama.
9. Sebagaimana menggunakan sesuatu yang tidak diperbolehkan syariat mendapatkan dosa maka menggunakannya sesuai dengan petunjuk syariat akan mendatangkan pahala.


Tema hadits dan ayat-ayat Al Quran yang terkait:
1. Iri terhadap kebaikan orang lain : 2: 148, 3: 114
2. Pintu-pintu kebaikan terbuka luas : 2 : 177, 5 : 2
3. Mencari yang halal dan menjauhi yang haram: 7: 157.











HADITS KEDUAPULUH ENAM

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلُّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَمْشِيْهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَ تُمِيْطُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ . [رواه البخاري ومسلم]
Kosa kata :
سلامَى : Tulang pada telapak tangan dan jari-jari (yang dimaksud adalah semua anggota tubuh) تعدل: Berlaku adil, mendamaikan
ترفع : Mengangkat
تعين : Menolong خطوة : Langkah
متاعـ(ـه) : Harta benda (nya) الأذى: Gangguan, rintangan
تميط : Menyingkirkan, menghilangkan

Terjemah hadits :
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda : Setiap anggota tubuh manusia dapat melakukan sedekah, setiap hari dimana matahari terbit lalu engkau berlaku adil terhadap dua orang (yang bertikai) adalah sedekah, engkau menolong seseorang yang berkendaraan lalu engkau bantu dia untuk naik kendaraannya atau mengangkatkan barangnya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah ketika engkau berjalan menuju shalat adalah sedekah dan menghilangkan gangguan dari jalan adalah sedekah. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kandungan Hadist :
1. Bersyukur kepada Allah ta’ala setiap hari atas kesehatan anggota badan.
2. Allah telah menjadikan -sebagai rasa syukur terhadap ni’mat-Nya- setiap anggota badan untuk menolong hamba-hamba Allah ta’ala, bersedekah kepada mereka dengan menggunakannya sesuai kemaslahatannya.
3. Temasuk sedekah adalah: Menahan tangan dan lisan untuk tidak menyakiti orang lain, justru seharusnya digunakan untuk menunaikan hak-hak setiap muslim.
4. Jasad harus dikeluarkan zakatnya sebagaimana harta ada zakatnya. Zakat badan adalah melakukan perbuatan baik, bersedekah dan pintu-pintunya banyak.
5. Anjuran untuk mendamaikan kedua belah pihak, tolong-menolong, mengucapkan kalimat yang baik, berjalan menuju shalat dan menyingkirkan penghalang dari jalan.
6. Anjuran untuk membersihkan sarana-sarana umum.
7. Anjuran untuk melakukan keadilan, karena dengan keadilanlah ditegakkan langit dan bumi.

Tema-tema hadits:
1. Menolong sesama manusia: 5 : 2, 107 : 1-7
2. Menjaga kepentingan bersama : 7: 56, 85
3. Perkataan yang baik: 17 : 23, 33 : 32, 4 : 9




HADITS KETIGAPULUH

عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِي جُرْثُوْمِ بْنِ نَاشِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْداً فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا. [حديث حسن رواه الدارقطني وغيره] .

Dari Abi Tsa’labah Al Khusyani Jurtsum bin Nasyir radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam dia berkata: Sesungguhnya Allah ta’ala telah menetapkan kewajiban-kewajiban, maka janganlah kalian mengabaikannya, dan telah menetapkan batasan-batasannya janganlah kalian melampauinya, Dia telah mengharamkan segala sesuatu, maka janganlah kalian melanggarnya, Dia mendiamkan sesuatu sebagai kasih sayang terhadap kalian dan bukan karena lupa jangan kalian mencari-cari tentangnya. (Hadits hasan riwayat Daruquthni dan lainnya).
(Hadits ini dikatagorikan sebagai hadits dha’if ). Lihat Qowa’id wa Fawa’id Minal Arbain An Nawawiah, karangan Nazim Muhammad Sulthan, hal. 262. Lihat pula Misykatul Mashabih, takhrij Syekh Al Albani, hadits no. 197, juz 1. Lihat pula Jami’ Al Ulum wal Hikam, oleh Ibnu Rajab).


HADITS KETIGAPULUH LIMA

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَهُنَا –وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسَبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
[رواه مسلم]
Kosa kata :
تحاسدوا : (kalian) saling dengki تناجشوا : (kalian) saling menipu
تباغضوا: (kalian) saling membenci تدابروا :(kalian) saling memu-tuskan hubungan
يبع (يبيع) : Menjual يخذلـ(ـه) : Merendahkan-(nya)
يحقر(ه) : Menghina-(nya) صدر(ه) : Dada (nya)
بحسب : Cukup

Terjemah hadits:
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, (dia) tidak menzaliminya dan mengabaikannya, tidak mendustakannya dan tidak menghinanya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya sebanyak tiga kali). Cukuplah seorang muslim dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain; haram darahnya, hartanya dan kehormatannya “ (Riwayat Muslim).

Kandungan Hadist:
1. Larangan untuk saling dengki.
2. Larangan untuk berbuat keji dan menipu dalam urusan jual beli.
3. Diharamkan untuk memutuskan hubungan terhadap muslim. Sebaliknya harus dijaga persaudaraan dan hak-haknya karena Allah ta’ala.
4. Islam bukan hanya aqidah dan ibadah saja, tetapi juga di dalamnya terdapat urusan akhlak dan muamalah.
5. Hati merupakan sumber rasa takut kepada Allah ta’ala.
6. Taqwa merupakan barometer keutamaan dan timbangan seseorang.
7. Islam memerangi semua akhlak tercela karena hal tersebut berpengaruh negatif dalam masyarakat Islam.


Tema-tema hadits:
1. Menciptakan pergaulan yang baik dan harmonis : 49 : 10
2. Realisasi ukhuwah Islamiyah : 9 : 71
3. Barometer kehidupan; Taqwa : 49 : 13
4. Dihormatinya hak dan martabat seorang muslim: 5 : 32, 22 : 30


HADITS KETIGAPULUH ENAM

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَأَ فِي عَمَلِهِ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ. [متفق عليه]

Kosa kata :
نفَّس : Meringankan atau
menghilangkan كربة (كرب) : Cobaan berat
مُعْسِر : Orang yang kesulitan
يسَّرَ : Memudahkan عون : Pertolongan
ستَرَ : Menutupi
سلك : Menempuh
اجتمع : Berkumpul
السكينة : Ketenangan سهّل : Memudahkan
يتدارسونـ(ـه): (Mereka) saling
mempelajari-(nya)
غشيتـ(هم) : Liputi, curahkan
حفتـ(هم) : mengelilingi (mereka) (kepada mereka)
يسرع : Segera بطأ : Lambat

Terjemah hadits :
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di Hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitann niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Suatu kaum yang berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitab-kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk disisi-Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya. (Muttafaq alaih).
Kandungan Hadist:
1. Siapa yang membantu seorang muslim dalam menyelesaikan kesulitannya, maka akan dia dapatkan pada hari kiamat sebagai tabungannya yang akan memudahkan kesulitannya di hari yang sangat sulit tersebut.
2. Sesungguhnya pembalasan disisi Allah ta’ala sesuai dengan jenis perbuatannya.
3. Berbuat baik kepada makhluk merupan cara untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’ala.
4. Meluruskan niat dalam rangka mencari ilmu dan ikhlas di dalamnya agar tidak menggugurkan pahala sehingga amal dan usahanya sia-sia.
5. Memohon pertolongan kepada Alla ta’ala dan kemudahan dari-Nya, karena ketaatan tidak akan terlaksana kecuali karena kemudahan dan kasih sayang-Nya.
6. Selalu membaca Al Quran, memahaminya dan mengamalkannya.
7. Keutamaan duduk di rumah Allah untuk mengkaji ilmu.

Tema-tema hadits:
1. Menumbuhkan kepekaan sosial : 107 : 1-7, 70 : 24
2. Menjaga nama baik seseorang : 49 : 11
3. Menumbuhkan tradisi ilmiah : 96 : 1, 170 : 36.
4. Berinteraksi terhadap Al Quran: 73 : 4, 47 : 24, 33:36


HADITS KEEMPAT PULUH SATU

عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ [حَديثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ وَرَوَيْنَاهُ فِي كِتَابِ الْحُجَّة بإسنادٍ صحيحٍ ]
Dari Abu Muhammad Abdillah bin Amr bin ‘Ash radhiallahuanhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa “ (Hadits hasan shahih dan kami riwayatkan dari kitab Al Hujjah dengan sanad yang shahih).
(Hadits ini tergolong dha’if. Lihat Qawa’id Wa Fawa’id minal Arba’in An-Nawawiyah, karangan Nazim Muhammad Sulthan hal. 355, Misykatul Mashabih takhrij Syekh Al Albani, hadits no. 167, juz 1, Jami’ Al Ulum wal Hikam oleh Ibn Rajab).

- bahasa arab II- اثـار الثقـافـة الإسلامـية = = == = اللغة العربية الثاني

اللغة العربية الثاني


اثـار الثقـافـة الإسلامـية


تــألــــف
فرقة الربعة :
مـحمد ثابريـن (۲۲٠٨۱٨٠۱۱)
عـبد الرحمن (۲۲٠٨۱٨٠۱٠)
عـبيدالله (۲۲٠٨۱٨٠۱۲)
مـحمد ازويـر (۲۲٠٨۱٧٩٧۲)

مرشدالمعلم :
حلمي الماجستير










كلية التربية القسم اللغة العربية
جامعة الرانري الإسلا مية الحكومية
دارالسلام – بندا أتشية
۲٠٠٩ هـ





الدرس الخامس
اثار الثـقافة الإسلامية
قامت الثـقافة الإسلامية على الإيمان باالله وتوحيده, فأصبح المسلمون خير أمة, قال الله تعالى ( كنتم خير أمة اخرجت للناس تأمرون باالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون باالله ), وإلى جانب هذه المزية العظيمة, كان من اثار الثقافة الإسلامية الأصيلة, أنـها قدمت للفكر الإنسانى جديدا فى كل جانب من الجوانب نشاطه. تعتمد هذه الثقافة الأصلية على الكتاب والسنة, وعلى نظرة الإسلام إلى الإنسان وتكريـمه, لوتسهم أي أمة من أمم الأرض بقدر ماأسهم المسلمون فى التقدم البشري خلال عصر ازدهار العلوم عند العرب والمسلمون. وظلت اللة العربية لغة العلوم والأداب, والتقدم الفكري عدة قرون فى جميع انحاء العالم المتمدن انذاك.
لقد نشأت الحاجة عند المسلمين إلى التعرف إلى القران, وسيرة الرسول- صلى الله عليه وسلم- وأصول هذه المعرفة, فظهرت علوم التفسير والسيرة وعلم الرجال, ونشأت الحاجة إلى فهم أصول التشريع, فظهرة علوم الفقه والأصول. وطمح المسلمون إلى مزيد من التعرف إلى أحوال الكون, لتسخيره وإعماره, فظهرت العناية باالعلوم التجربية والمجردة كاالرياضيات والفلك والكيمياء.
إن المنهج العلمي التجربي الذي تدين له الحضارة الحديثة بما وصلت إليه من كشف واختراع يعد أحد منجزات السلمون. فقد كانت الحضارات القديمة وخاصة اليونانية التي عرفها المسلمون أكثر من غيرها, تجهل الطريقة التجربية وتـحتقرها, ولا تعنى إلا باالدراسات النظرية المجردة. وكان الفلك والرياضيات أول العلوم التي لفتت أنظار العلماء المسلمين حتى لقد تعدى الاهتمام باالفلك العلماء أنفسهم إلى الخلفاء والأمراء والسلاطين.
أما فى الرياضيات فقد اكتشف العلماء المسلمون الكثير من المبادئ الأساسية للحساب والجبر والهندسة. إن الجبر- على أغلب الأقوال- من اختراع المسلمين, وإن الأعداد وطريقة العد التي تستعمل فيه حتى الان من اختراع إسلامي. وحين نذكر إسهام المسلمين فى الرياضيات, والصفر بصورة خاصة, لانستطيع أن ننسى رئيس بيت الحكمة الخوارزمي, وما أسهم به فى علم الجبر. واذا كان غير المسلمين فقد سبقوا إلى دراسة لفلك والرياضيات. فإن المسلمين قد أوجدوا علم الفيزياء, ولا شك أن كتاب البصريات لابن الهيثم يعد من أهم منجزات العلماء المسلمين فى هذا الفرع من العلوم. فقد كان بداية علم الضوء والمرئيات الحديث. ويدل على أثار المسلمين فى هذا العالم أن كثيرا من المصطلحات المستعملة فيه حتى الان من أصل عربي. ومن الاختراعات التي كانت ذات فائدة كبيرة فى الصناعة: ملح البارود, وصناعة الورق من القطن والكتان والخرق.
أما الطب فقد كان مجال عناية فاشقة منهم. ولعل ذلك أحد الدلائل على عناية المسلمين بالإنسان وجميع متطلباته. وكان للإطباء المسلمين أثرهم البالغ فى الدراسات الطيبة, وطريقة المعالجة فى الغرب. فقد ظلت مؤلفات الرازي وابن سينا وابن زهر أساس الدراسات الطبية فى الجامعات اللأوروبية قرونا عديدة. اما ابن سينا, فلا شك انه كان أعظم طبيب عرفه العالم فى زمنه. وقد استعمل كتابه القانون فى الطب فى الجامعات الإيطالية والفرنسية, طيلة ستة قرون كاملة: أي من القرن الثاني عشر إلى القرن الثامن عشر الملاديـين.
أما فى الميدان الدراسات الجغرافية فقد برز المسلمون بروزا واضحا. وفى زمن المأمون رسم الخوارزمي ومساعدوه خريطة للسماء والأرض. وقاموا بمحاولة ناجحة لقياس محيط الكرة الأرضية, ثم صنع الإدريسي كرة سماوية وخريطة للعالم. وكان من أبرز ما وصل إليه أنه رسم خريطة للنيل, أبرز عليها منابع النيل الأصلية التي اكتشفها الأوروبيون بعد ذلك.

Terjemahan :

Pelajaran kelima
Jejak Kebudayaan Islam
Kebudayaan Islam telah berdiri atas iman kepada Allah dan ke Esa’an-Nya, maka orang-orang islam menjadi umat yang terbaik, firman Allah Swt, (kamu sekalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan atas manusia yang ber amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran serta beriman kepada Allah), disamping keuntungan yang besar ini, sudah ada dari jejak kebudayaan yang menjadi dasar, sesungguhnya kemajuan untuk berfikir manusia yang baru di setiap aspek dari beberapa aspek ketangkasannya. Kebudayaan dasar ini bergantung pada kitab dan sunah. Dan atas pandangan islam kepada manusia dan memuliakannnya. Jika peran Setiap umat dari sebagian umat yang lain dibumi, dengan ketetapan apa kontribusi Islam dalam kemajuan manusia di era kesejahteraan melalui ilmu ilmu bagi orang arab dan orang-orang islam.dan bahasa arab telah menjadi bahasa beberapa ilmu dan sastra, Dan kemajuan berfikir beberapa abad diseluruh bagian dunia yang serupa/pada sa’at itu.

Sungguh muncul keperluan umat Islam untuk mengetahui Al-Quran dan Jejak/biografi Nabi - Saw - dan asal pengetahuan ini, maka muncul ilmu tafsir dan sirah dan arrijal. Dan muncul keinginan perlunya untuk memahami dasar hukum syara’ maka muncul ilmu fiqih dan ushul dan dan orang-orang islam ingin menambah pengertian untuk memahami hal-hal tentang dunia, tentang perjalanan/perkembangan dan keramaiannya, maka muncul bantuan dalam ilmu-ilmu yang bersifat empiris dan tersembunyi seperti matematika, falak, dan kimia.

Metode ilmiah yang empiris yang berpedoman pada kehadiran sesuatu yang baru dengan sesuatu yang berhubungan dengan pengungkapan dan penemuan dan merupakan salah satu prestasi Islam. Maka sungguh adanya kehadiran kemajuan khususnya yunani yang diketahuinya dari orang muslim lebih banyak dari pada selain muslim., tak diketahui cara percobaan dan menghinakannya, dan tidak memberi kepada pelajaran pandangan yang tersembunyi. Dan Astronomi dan matematika adalah yang ilmu-ilmu yang pertama yang meliputi pandandangan ulama’-ulama muslim hingga sungguh menarik perhatian dalam bidang astronomi kepada para ulama sendiri sendiri, khalifah, umara’ dan para sultan.

Adapun dalam bidang Matematika umat Islam yang memiliki banyak ulama’ dari dasar prinsip hitung, aljabar dan teknik. Aljabar – atas mengalahkan perkataan - dari penemuan orang Muslim, dan angka-angka dan metode penghitungan yang digunakan didalamnya hingga sekarang dari penemuan Islam. Saat kita ingat kontribusi umat Islam dalam matematika, dan nol pada khususnya, jangan lupa bahwa kepala baitul hikmah KHUWARIZMI, dan sesuatu yang sumbangkan dalam aljabar. Jika non-Muslim adalah pendahulu untuk ilmu astronomi dan matematika. Muslim telah membuat ilmu fisika, Tidak ada keraguan bahwa Kitab Optik dari IBN AL-HAYTHAM merupakan bagian yang paling penting prestasi Muslim dalam cabang ilmu ini. sungguh Itu adalah awal dari pengetahuan tentang cahaya dan visual. Banyak dampak dari jejak umat Islam di dunia yang bermaslahat dan berguna didalamnya sampai saat ini yang dasarnya dari arab. Dari beberapa penemuan yang mempunyai faedah dalam industri. Garam laut, pembuat kertas dari kapas dan linen, dan perca.

Adapun dalam bidang kedokteran telah ada generasi penolong terhadap orang fasiq dalam kedokteran. Dan mudah-mudahan itu salah satu dasar Muslim atas menolong manusia dan seluruh yang mencarinya. Dan dokter-dokter muslim jejaknya besar dalam studi kedokteran, dan bagaimana proses berobat di bagian barat. Maka RAZI, IBNU SINA DAN IBNU ZAHR menulis dasar studi medis di beberapa perguruan tinggi Eropa selama berabad-abad. Adapun IBNU SINA, tidak ada keraguan bahwa ia adalah dokter yang paling besar di dunia telah dikenal pada zamannya. Buku hukum telah digunakan dalam kedokteran di perguruan tinggi italia dan Perancis, sepanjang enam abad, dari abad kedua belas sampai abad kedelapan belas masehi.

Dalam bidang studi geografis maka sungguh orang-orang muslim sudah mengeluarkan beberapa pengeluaran yang jelas. Pada zaman AL-MAKMUN, ALKHUWARIZMI telah menggambar dan menggunakan peta untuk langit dan bumi. Dan mereka telah berdiri dengan membawa keberhasilan untuk mengukur keliling dari bumi, dan kemudian al-idrissiy membuat astronomis(Bundaran langit) dan peta dunia. Telah melahirkan atasnya munculnya dasar yang terbukanya eropa setelah itu.





إستيعاب
تدريب ۱. ضع علامة ( V ) أو ( X ) ثم صحح الخطأ.
١- قدمت الثـقافة الإسلامية للفكر الإنسان جديدا فى كل الجوانب. ( V )(paragraph I, baris 5).
٢- تعتمد اثـقافة الأصيلة على العلوم التجربية. ( X ) .
==== تعتمد هذه الثـقافة الأصيلة على الكتب والسنة.(paragraph I, baris 6).
٣- نشأت الحاجة إلى التشريع فظهرت علوم التفسير والسيرة. ( X ).
==== ونشأت الحاجة الى فهم أصول التشريع, فظهرت علوم الفقه والأصول.(paragraph II, baris 3).
٤- المنهج العلمي التجربي من منجزات المسلمين. ( V )(paragraph III, baris 1).
٥- كتاب القانون فى الطب للرازي درس فى اوروبا. ( X ).
===== كان الكتاب القانون فى الطب للإبن سينا, درس الأوروبا.(paragraph VI, baris 7).

تدريب ٢. أجب باختصر عمايلى :
١- ما أول العلوم التي اهتم بها المسلمون ؟
==== أول العلوم التي اهتم بها المسلمون وهو كاالعلوم فى القران السنة, ثم أنواع العلوم وغيرهما اومما العلوم يوجد بهما, ومعا غيره.
٢- ما العلم الذي أوجده المسلمون ؟
==== العلم الذي أوجده المسلمون وهو كاالعلوم الفقه والأصول, والعلوم التفسير والسيرة وعلم الرجال, والعلوم التجربي والمجردة, كاالرياضيات والفلك والكيمياء, والعلوم الضوء, والعلوم الطب, والعلوم الجغرافية, ومعا غيره.
٣- ما اسم الكتب الذي كان بداية لعلم الضوء الحديث ؟
==== اسم الكتاب الذي كان بداية لعلم الضوء الحديث وهو الكتاب البصريات لإبن الهيثم.
٤- أذكر ثلاثة من العلماء المسلمون درست كـتبهم فى أوروبا ؟
==== ثلاثة من العلماء المسلمين درست كتبهم فى أوروبا وهو كاالرازي وإبن سينا وإبن زهر فى العلوم الطب.
٥- عن أي علم نتحدث الفقرة الأخيرة فى النص ؟
==== العلم نتحدث اللفقره الأخرة فى النص, يتحدث فى الأصول الدراسة الجغرافية بروزا واضحا, فعلت الزمن المأمون رسم الخوارزمي ومساعده للخريطة السماء والأرض.


مفردات
تدريب ١. هات جمع الكلمات التالية من النص.
١- شعب ( الشعوب ).
٢- أصل ( أصول ). (p1b3)
٣- الخليفة ( الخلفاء ).(p3b7)
٤- أثر ( اثار ).(p1b4)
٥- مبدأ ( مبادئ ).(p4b2)
٦- دليل ( الدلائل).(p5b2)
٧- نظر ( نظرية/نظاريات/أنظار).(p3b6)
٨- الأمير ( الأمر ).(p3b7)
٩- القرن ( قرون ).(p5b8)



تدريب ٢. صل بين الكلمتين اللتين معا ثم استعملهما فى جملة مفيدة.
١- كتاب . .أ- الحكمة
٢- العالم . .ب- البشري
٣- الفـكر . .ج- الإنسان
٤- سيرة . .د- القانون
٥- المنهج . .هـ- التجربية
٦- العلوم . .و- الرسول
٧- بيت . .ز- العلمي
٨- التـقدم. .ي- المتمدن




قواعد اللغة
نائب الفاعل
الأمثـلة : ادرس ولاحظ.
١- كَتب الطلاب الدرس. كُتب الدرس.
٢- أَعطى محمد الفقير درهما. أُعطي الفقير درهما.
٣- وقف الطلاب تحت الشجرة. وُقف تحت الشجرة.
٤- جلس الضيف على الأرض. جُلس على الأرض.
٥- فرح الفائز فرحا شديدا. فُرح فرح شديدا.
٦- يتسلم الناجح الشهادة. تُستلم الشهادة.
٧- يقبل المؤمن بقضاء الله. يُقبل بقضاء الله.
القائدة :
نائب الفاعل هو اسم مرفوع يحل محل الفاعل بعد حذفة, ويأخذ أحكامه, ويسمى الفعل معه مـبنيا للمجهول. وينوب عن الفاعل بعد حذفه : المفعول به الأول إذا كان الفعل متعديا, والجار والمجرور والظراف المختص, إذا كان الفعل لازما. ويبنى الماضى للمجهول بضم أوله وكسر ما قبل اخره, ويبنى المضارع للمجهول بضم أوله وفتح ما قبل اخره.

Terjemahan :

Na’ibul Fa’il
Na’ibul fa’il yaitu isim yang marfu’ dalam keadaan mahal fa’il sesudah dihilangkannya. Dan diambil akan sekalian hukumnya dan dinamai fi’il besertanya yang dibina’(bangun) bagi majhul, yang diwakili dari pada fa’il sesudah dihilangkannya: maf’ulun bih yang pertama apabila ada fi’il muta’addi, dan huruf jar beserta majrurnya, dan zharaf khususnya, dan mashdar khususnya. Apabila ada fi’il lazim dan dibina fi’il madhi majhulnya dengan dhammah awalnya dan kashrah sesuatu sebelumnya. Dan dibina fi’il mudhari’ majhul dengan dhammah awalnya dan fatah sesuatu sebelum akhirnya.


تدريب ١. ضع خطا تحت الفعل المبنى للمجهول, وعين نائب الفاعل فيما يلى :
١- ( وإذا قرئ القران فاستمعواله وأنصتوا )
٢- ( اليوم أحل لكم الطيبات )
٣- ( إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم)
٤- ( قضى الأمر الذى فيه تستـفتيان )
٥- ( شهر رمضان الذى أنزل فيه القران )
٦- ( فإذا نفخ فى الصور نفخة واحدة )
٧- ( ضرب مثـل فاستمعواله )
٨- " إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة وغلقت أبواب النار وصفدت الشياطين "
٩- ( يحذر المنافقون أن تـنزل عليهم سورة )



تدريب ٢. ابن الأفعال التالية للمجهول وضعها فى جمل من إنشائك.
سمع- تقدم- ينادى- فحص- مارس- حزن- يستـفهم
١- سمع المزياع فى الغرفة.
٢- تقدم امام الفصل.
٣- تنادى الأذان فى المسجد.
٤- فحص الرسالة فى الحقيبة.
٥- مورس الصوار على السبورة.
٦- حزن حزن شديد.
٧- تستـفهم النصيحة الطيبة



الإمـلاء
همزة الوصل
ترسم همزة الوصل (ألفا) سواء نطقت, أم لم تنطق, وسواء كانت حركتها الكسر, أم الفتح, أم الضم, وتحذف همزة "ال" المسبوقة بلام الجر.




Terjemahan :

Hamzah washal
Penulisan hamzah washal (alif), sesuatu yang bisa dibicarakan, atau sesuatu yang tidak bisa dibicarakan, dan sesuatu yang ada harakatnya kashrah, atau fatah, atau dhammah dan hilanglah hamzah (ال ) apabila didahului dengan (ل ) lam huruf Jar.


الأمـثـلة :
١- ما اسمك ؟
٢- وامرأته قائمة.
٣- تـكلم وادخل.
٤- لله الملك.
٥- للشمس فوائد.

تدريب. صحح الخطأ الإملائي فيما يلي :
١- صلى إبني الظهر.
==== صلى بني الظهر.
٢- إستمع إلى نصيحة طيبة.
==== استمع إلى نصيهة طيبة.
٣- إذهب يامحمد.
==== اذهب يا محمد.
٤- أنا أدرس كثيرا.
==== أنا درس كثيرا.
٥- البنت طيبة.
==== بنت طيبة.

PAHAM JABARIYAH = = = = (ilmu kalam)

Ilmu Kalam


PAHAM JABARIYAH


DISUSUN

OLEH :
KELOMPOK V

MISWAR MUHAMMAD ( 220 817 956 )
MUHAMMAD TSABIRIN ( 220 818 011 )
MUHAMMAD AZWIR ( 220 817 972 )


DOSEN PEMBIMBING :

Dra. AISYAH IDRIS, M.Ag











FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN BAHASA ARAB
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JAMI’AH AR-RANIRY
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2009





KATA PENGANTAR
بِــسْـمِ اللهِ الرَّحْـمَنِ الرَّحِـيْمِ

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Kemudian shalawat dan salam kami sanjungkan ke pangkuan Nabi Besar Muhammad SAW, yang dengan izin Allah telah membawa kita dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu bahan penunjang materi pembelajaran “Ilmu Kalam”. Melalui makalah ini kami mencoba memberikan gambaran mengenai “Paham Dalam Aliran Mazhab Jabariyah” dari beberapa sumber yang berbeda.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Ibu Dra. Aisyah Idris, M.Ag, atas kesediaan beliau untuk menjadi Dosen Pembimbing kami, dan kepada teman-teman sekalian yang selalu membantu dalam proses pembuatan makalah ini.
Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca semua. Sebagai manusia biasa, kami meminta maaf atas ketidaksempurnaan makalah ini. Oleh karena itu pula, kritik dan saran dari para pakar, senior, teman sejawat, dan pembaca lainnya akan kami terima dengan senang hati.



Wassalam

(Penulis)






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .. i

DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .. 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Singkat Paham Jabariyah …………………............................. 2
B. Para Tokoh Paham Jabariyah................................................................. 4
B. I’tiqad Kaum Jabariyah Yang Bertentangan Dengan I’tiqad Kaum
Ahlussunnah wal Jama’ah................................................................... 5
1. Tidak Ada Usaha dan Ikhtiyar Manusia............................................ 5
2. Iman Dalam Hati Saja......................................................... ............. 9

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 10
B. Saran 11

DAFTAR PUSTAKA 12









BAB I
PENDAHULUAN

Dalam sejarah islam telah tercatat adanya firqah-firqah (golongan) di lingkungan umat islam, yang antara satu sama lain bertentangan pahamnya secara tajam yang sulit untuk diperdamaikan, apalagi untuk dipersatukan.
Hal ini sudah menjadi fakta dalam sejarah yang tidak bisa dirubah lagi, dan sudah menjadi ilmu pengetahuan yang bermaktub dalam kitab-kitab agama, terutama dalam kitab-kitab ushuluddin. Barangsiapa yang membaca kitab-kitab ushuluddin akan menjumpai di dalamnya perkataan-perkataan: syi’ah, khawarij, mu’tazilah, jabariyah, ahlussunnah wal jama’ah (sunny), mujassimah, Bahayyah, ahmadiyah, wahabiyah, dan lain-lain sebagainya.
Umat islam khususnya yang berpengetahuan agama tidak heran melihat dan membaca hal ini, karena Nabi Muhammad Saw sudah juga mengabarkan pada masa hidup beliau. Banyak terdapat hadits-hadits yang bertalian dengan akan adanya firqah-firqah yang berselisihan paham dalam lingkungan umat islam.
Nabi Muhammad Saw bersabda :

فإنه من يعش منكم من بعدى فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتى وسنة الخلفاء المهديـين الراشدين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجد..(رواه ابو داود,الجزاء الربع صحيفة ۲٠۱ )
Artinya : “Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantaramu niscaya akan melihat perselisihan (paham) yang banyak, ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunah khalifah Rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlak itu dan gigitlah dengan gerahammu (H.R Imam Abu Daud dll. Lihat Sunan Abu Daud juzu’ IV, hal 201).

Tujuan hadits ini terang, bahwa akan ada perselisihan-perselisihan paham dalam limgkungan umat islam, dan bahwa nabi Muhammad Saw menyuruh umat islam ketika melihat perselisihan itu supaya berpegang teguh dengan sunnah Nabi dan Sunnah Khalifah Rasyidin (saidina-saidina: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Ra).





BAB II
PEMBAHASAN

A. SEJARAH SINGKAT PAHAM JABARIYAH
Ada seorang bernama Jaham bin Safwan, berasal dari khurasan, mulanya ia menjadi jurutulis dari seorang pemimpin bernama Harits bin Sureih yang memberontak terhadap kerajaan Bani umayyah di khurasan. Kemudian nama jaham bin safwan menjadi terkenal karena ia adalah orang yang sangat rajin bertabligh, menyeru manusia kepada jalan allah dan berbakti kepada-Nya.
Tetapi ada satu fatwanya yang keliru, yang bertentangan dengan ulama-ulama islam yang lain, yaitu fatwa yang mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai upaya, tidak ada ikhtiyar dan tiada ada kasab. Sekalian perbuatan manusia itu hanya majbur(terpaksa) diluar kemauannya, sebagai keadaan bulu ayam yang diterbangkan angin di udara atau sebagai sepotong kayu ditengah lautan yang dihempaskan ombak ke sana ke mari.
Mazhabnya ini dinamai mazhab jabariyah, yakni mazhab orang-orang yang berpaham tidak ada ikhtiyar bagi manusia.
I’tiqadnya pada mulanya hampir sama dengan i’tiqad kaum ahlussunnah wal Jamaah, yakni berpendapat bahwa sekalian yang terjadi dalam alam ini pada hakikatnya semuanya dijadikan tuhan, tetapi kaum jabariyah yang dikepalai oleh jaham bin safwan ini sangat radikal, sangat keterlaluan, sehingga sampai kepada i’tiqad bahwa kalau kita meninggalkan sembahyang atau berbuat kejahatan maka semuanya tidak apa-apa, karena hal itu dijadikan oleh tuhan.
Fatwa ini biasa ditariknya jauh-jauh, umpamanya dikatakan bahwa manusia tidak apa-apa kalau mencuri, kalau berzina, kalau membunuh orang karena yang menjadikan semuanya itu adalah Allah, kata mereka.
Mazhab ini dinamai mazhab Jabariyah, karena mereka beri’tiqad bahwa sekalian gerak manusia dipaksa adanya oleh tuhan.
Kadang-kadang dalam kitab ushuluddin dinamai juga mazhab jahmiyah. Karena jaham inilah yang mula-mula menyiarkannya. Fatwa Jaham ini dalam banyak hal sama dengan mu’tazilah, umpamanya ia memfatwakan bahwa sifat tuhan tidak ada, bahwa surga dan neraka tidak kekal, tuhan tak dapat dilihat dalam surga, qur’an itu makhluk, dan lain-lain.
Paham jabariyah juga disebut dengan paham mujbirah, mereka mengatakan bahwa kekuasaan Allah telah tetap (tsabit) tanpa hikmah. Dia dapat melakukan perbuatan berdasarkan hikmah-hikmah-Nya. Kemudian diantara mereka menampakkan pengingkaran syari’at secara menyeluruh dan mengingkari nubuwah. Dan diantara mereka yang mengakui nubuwah, mengingkari syara’ di dalam batin. Mengenai hal ini seorang Arif berkata “mereka tidak menganggap sesuatu yang baik sebagai kebaikan dan tidak menganggap sesuatu yang buruk sebagai keburukan jadilah mereka munafik.
Mereka menampakkan sikap yang berlawanan dengan batin mereka”. Selanjutnya diberkata: ‘syara’ itu untuk kepentingan rumah sakit jiwa”. Oleh karena itu mereka dinamakan batiniyah sebagaimana Malahidah (Atheis) sesungguhnya kedua kelompok itu menyembunyikan sesuatu dibalik apa yang dilahirkan. Mereka menyembunyikan pengingkaran terhadap apa yang dibawa nabi Saw yang berupa perintah dan larangan. Maka pada akhirnya, jahmiyah mujbirah itu boleh jadi musyrik lahir batin dan boleh jadi munafik yang menyembunyikan kemusyrikan. (juz 13:211-214).
Tetapi sangat bertentangan dengan paham qadariyah yang juga banyak dianut oleh paham mu’tazilah.
Jahmiyah; mereka menganggap bahwa qadar itu menyalahi syari’at, sehingga mereka menolak kebijaksanaan dan keadilan Allah. Mereka berkata “Tiada perbedaan antara yang diperintahkan dan yang dilarang Allah, seluruhnya sama.
Demikian juga antara para wali dan musuh-musuhNya, serta antara yang dicintai dan yang dicintai-Nya. Dia hanya membedakan antara dua hal yang serupa semata-mata berdasarkan masyi’ah (kehendak-Nya). Dia memerintahkan ini dan melarang ini.
Menurut mereka, tidak ada perbedaan antara beribadah kepada Allah dan beribadah kepada selain-Nya. Bahkan mereka membolehkan beribadah kepada selain-Nya, sebagaimana halnya mereka memperbolehkan beribadah kepada-Nya. Sehingga puncak Tauhid mereka adalah ketauhidan orang musyrik. Orang yang arif menurut mereka adalah orang yang tidak menganggap baik sesuatu yang baik, dan tidak menganggap buruk sesuatu yang buruk, mereka juga mengingkari syari’at dan nubuwwah (kenabian). Secara batin mereka adalah munafik, dan musyrik lahir dan batin.
Jaham bin Safwan akhirnya mati terbunuh dalam pertempuran dengan tentara khalifah bani umayyah yang penghabisan pada tahun 131 H.

B. PARA TOKOH PAHAM JABARIYAH.
Tokoh dan paham Jabariyah ekstrim adalah sebagai berikut :
1. Bernama jahmiyah yang dikepalai oleh Jaham bin safwan.
Nama lengkapnya adalah Abu Mahrus Jaham bin Safwan, ia berasal dari khurasan, bertempat tinggal di khufah, ia seorang Da’i yang fasih dan lincah (orator);. Pendapat Jaham yang berkaitan dengan persoalan teologi adalah :
a. Manusia tidak mampu unutk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak sendiri, dan tidak mempunyai pilihan.
b. Surga dan neraka tidak kekal. Tidak ada yang kekal selain tuhan.
c. Iman dan ma’rifat atau membenarkan dalam hati. Konsep ini sama seperti yang dikemukakan oleh kaum murji’ah.
d. Kalam tuhan adalah makhluk.

2. Ja’d bin Dirham.
Dia adalah seoarang maulana Bani Hakim, tinggal di Damaskus, ia dibesarkan dalam lingkungan orang kristen yang senang membicarakan teologi. Semula dia dipercaya untuk mengajar dilingkungan pemerintahan bani umayyah, tetapi setelah tampak kontroversional, Bani umayyah menolaknya. Doktrin pokok ja’d secara umum sama dengan pikiran Jahm, Al-ghurabi menjelaskan sebagai berikut :
a. Al-qur’an adalah makhluk.
b. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk.
c. Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya.

Tokoh dan paham Jabariyah Moderat adalah sebagai berikut :
1. Najjariyah yang dikepalai oleh Husein bin Muhammad An-Najjar.
Nama lengkapnya adalah Husain bin Muhammad an-najjar (wafat 230 H). Para pengikutnya disebut An-najjariyah atau Al-husainiyah. Diantara pendapat-pendapatnya yaitu :
a. Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu.
b. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat. Akan tetapi an-najjar menyatakan bahwa tuhan dapat saja memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada mata sehingga manusia dapat melihat tuhan.

2. Dlirariyah yang dikepalai oleh Dlirar bin Umar.
Pendapatnya tentang perbuatan manusia sama dengan Husein An-najjar. Mengenai ru’yat Tuhan di akhirat, ia mengatakan bahwa tuhan dapat dilihat di akhirat melalui indera keenam. Ia juga berpenapat bahwa hujjah yang dapat diterima setelah Nabi adalah ijtihad. Hadits ahad tidak dapat dijadikan sumber dalam menetapkan hukum.

Keempat aliran jabariyah berkembang sekitar akhir abad ke II dan separuh yang pertama abad ke III H.
Baik juga diketahui bahwa Jaham bin Safwan, imam kaum jabariyah ini adalah murid Ja’ad bin Dirham, yaitu pelopor fatwa yang mengatakan bahwa qur’an itu makhluk dan bahwa tuhan tidak mempunyai sifat.
Ja’ad bin Dirham ini dihukum mati oleh penguasa pada tahun 124 H, tersebab fatwa-fatwanya yang sangat ilhad dan zendiq (Al Milal wan Nihal 1. hal. 82).


C. I’TIQAD KAUM JABARIYAH YANG BERTENTANGAN DENGAN I’TIQAD KAUM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
1. Tidak Ada Usaha dan Ikhtiyar Manusia.
Sebagai diterangkan dalam pasal yang lalu bahwa kaum jabariyah yang dikepalai oleh Jaham bin Safwan beri’tiqad bahwa manusia itu “majbur”(terpaksa) dalam gerak geriknya, seperti bulu ayam di udara yang dipermainkan angin atau kayu dalam laut yang dipermainkan ombak.
Manusia tidak mempunyai daya, upaya, ikhtiyar atau “kasab”.
Sekalian hasil perbuatan manusia dijadikan oleh tuhan, bukan oleh manusia.
Dasar fatwa ini sama dengan dasar paham Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai yang diterangkan pada bagian qadariyah, yakni i’tiqad bahwa sekalian yang terjadi adalah dijadikan oleh tuhan semata. Akan tetapi, yang buruknya, paham ini ditarik-tarik menjadi panjang keluar dari batas, sehingga dii’tiqadkan oleh mereka bahwa tiada dosa kalau memperbuat kejahatan karena yang memperbuat itu pada hakikatnya adalah tuhan.
Ditariknya lebih panjang lagi, bahwa kalau mereka mencuri maka tuhan yang mencuri, kalau berzina maka tuhan yang berzina, begitu juga sebaliknya kalau ia sembahyang maka tuhan yang sembahyang, kalau mereka naik haji maka tuhanm yang naik haji dan begitu seterusnya.
Sebahagian mereka menarik lebih jauh lagi, sehingga disatukan dirinya dengan tuhan, wujudnya dan wujud Tuhan satu, kata penganut paham ini. Disinilah pangkal paham “wahdatul wujud”, yakni paham bahwa yang ada hanya satu, yaitu DIA.
Kaum Ahlussunnah wal jama’ah berpendapat; bahwa memang semuanya dijadikan oleh tuhan, tetapi tuhan pula yang menjadikan adanya “ikhtiyar” atau “kasab’ bagi manusia.

Manusia berikhtiyar dan manusia berusaha.
Sebagai contoh dikemukakan tentang gerak orang yang jatuh dengan gerak orang yang melompat ke bawah. Yang satu adalah majbur(terpaksa) sedang yang kedua jatuh bersama ikhtiyar. Hasilnya berlainan juga. Kelanjutan bagi paham ahlussunnah wal jama’ah, bahwa sesuatu yang diperbuat oleh manusia adalah pertemuan ikhtiyar manusia dengan takdir tuhan atau dengan kata lain “pertamuan usaha dengan takdir”.
Ikhtiyar dan usaha itu hanya sebagai sebab saja, bukanlah ia mengadakan atau menciptakan sesuatu. Soal mencipta adalah hak tunggal tuhan.
Umpamanya, kalau bersentuh api dengan sesuatu maka terbakarlah ia, kalau bersentuhan makanan dengan mulut maka kenyanglah perut, kalau bersentuh pisau tajam dengan daging, lukalah ia dan begitulah seterusnya. Tetapi bukan nasi yang menciptakan kenyang, buka api yang menciptakan terbakar, bukan pisau yang menciptakan luka, bukan obat yang menciptakan sembuh, tidak , tidak yang, menciptakan itu semuanya adalah tuhan semata-mata.

Kadang-kadang bisa terjadi sebaliknya, kalau Tuhan menghendaki.
Berapa banyaknya orang yang makan obat tetapi dia tidak sembuh, barapa banyaknya benda yang bersentuh api tetapi tidak terbakar, berapa banyaknya orang berusaha ini dan itu tetapi tidak mendapatkan rizki, dan begitulah seterusnya. Kalau umpamanya obat dapat menyembuhkan orang sakit, sudah barang tentu tak akan ada orang yang mati didunia sekarang ini, karena bermacam-macam obat untuk bermacam-macam penyakit sudah ada.
Yang lucunya anak seorang dokter yang dikasihinya atau istri seorang dokter yang disayanginya mait juga, walaupun diobati sebanyak mungkin sesuai dengan ilmu pengetahuan si Dokter tadi.
Pendeknya :
لاحَوْل وَلاقُـوَّةَ إِِلا بِااللهِ الْعَلِـيِّ الْـعَظِيْـمِ
Artinya :
“Tiada daya dan upaya, kecuali dengan daya dan upaya Tuhan yang
Tinggi lagi Besar’.

Dan lagi kalau kita ikuti paham jabariyah, maka tidak ada gunanya syari’at nabi, tadak ada gunanya, lagi hukum-hukum fiqih dan bahkan tidak ada gunanya Rasu-rasul diutus Tuhan. Manusia harus dihukum kalau berbuat kesalahan dan harus diberi pahala dari tuhan kalau berbuat berbuat kebaikan. Mencuri, berzina, meninggalkan sembahyang dan puasa dilarang dalam syari’at agama islam.

I’tiqad persatuan antara khaliq dan makhluk adalah i’tiqad yang keliru. Tuhan tidak serupa dengan sekalian yang ada dalam alam ini. Paha “wahdatul wujud”yang berasal dan berpangkal dari kaum jabariyah adalah paham yang sesat lagi menyesatkan, harus dijauhi oleh seluruh orang mu’min dan muslim.
Manusia akan dapat hukuman – menurut paham ahlussunnah wal jama’ah – dengan keadilan tuhan karena ikhtiyar atau usahanya yang tidak baik dan akan diberi pahala dengan kurnia Tuhan atas ikhtiyar dan usahanya yang baik.

Allah menyatakan hal ini dengan firman-Nya:
لَهَا مَاكْتَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَاكْتَسَبَتْ. ﴿البقرة : ٢٨٦﴾
Artinya :
“Bagi manusia (upah) apa yang diusahakannya dan atas manusia
(hukuman) apa yang diusahakannya” (Al-baqarah: 286).


Maksudnya: manusia akan dapat pahala kalau ia mengusahakan pekerjaan yang baik dan akan diberi azab (hukuman) kalau ia mengusahakan yang buruk (keduniaan). Dan Allah Swt berfirman :
الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ﴿المؤمن : ۱٧﴾
Artinya :
“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya”(Al mu’min: 17).

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ .
﴿الروم : ٤۱ ﴾
Artinya :
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,” (Ar rum : 14).


Sesuai dengan ayat ini maka menurut i’tiqad kaum Ahlussunnah wal jama’ah adalah tidak baik menyandarkan sesuatu pekerjaan yang buruk bagi Tuhan, umpamanya dikatakan “Tuhan mencuri”, walaupun pada hakikatnya semua, yang terjadi didunia adalah dijadikan Tuhan.
Perkataan macam ini sangat kurang sopan untuk dialamatkan kepada Tuhan Azza wa jalla yang sangat Tinggi dan sangat Mulia. Selalin dari pada itu, walaupun Tuhan yang menjadikan sesuatu, tetapi ia bukan ikut mengerjakan sesuatu. Ibarat seorang tukang membuat rumah, apakah situkang itu ikut menjadi rumah, ibarat seorang wanita membuat kue, apakah wanita itu ikut menjadi kue, tidak, tidak.

2. Iman Dalam Hati Saja.
Kaum jabariyah berfatwa bahwa “Iman” itu cukup kalau sudah mengakui dalam hati saja, walaupun tidak diikrarkan dengan lisan.
Hal ini tidadk seuai dengan paham kaum Ahlussunnah wal jama’ah yang berpendapat bahwa iman itu ialah membenarkan dalam hati dan mengakui dengan lisan. Adalah tidak cukup – menurut ahlussunnah – pengakuan dalam hati saja, tetapi harus diucapkan dengan lisan :

أَشْهَدُ اَنْ لااِلَهَ اِلا اللهُ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدَ الرَّسُوْلُ اللهِ.
Artinya :
“(Saya mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad itu Rasulnya)”.

Juga – menurut Ahlussunnah – tidak cukup kalau hanya mengakui adanya Tuhan saja, tetapi tidak mengakui ke-Esaan-Nya. Yang penting selain mengakui adaNya, juga, ke-Esaan-Nya.

Tiada, Tuhan selain Ia.
Di sini terbayang perbedaan, antara orang-orang islam dan nasrani.
Orang Nasrani biasanya mengatakan “Tuhan yang maha Kuasa”, sedang orang Islam `biasanya menyebut “Tuhan yang maha Esa”.











BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN :

1. Jahmiyah; mereka menganggap bahwa qadar itu menyalahi syari’at, sehingga mereka menolak kebijaksanaan dan keadilan Allah. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya seorang hamba memiliki perbuatan dan kekuasaan sama sekali yang berbuat dan berkuasa hanyalah Allah semata-mata, oleh karena itu, allah hanya mempunyai sifat kuasa (qadir) tanpa sifat-sifat lainnya.

2. Mereka mengingkari perbedaan dan pembagian antara tauhid dan syirik, antara iman dan kufur, antara ketaatan dan kemaksiatan, serta antara halal dan haram. Mereka menjadi iman hanya sebagai pengetahuan semata-mata.

3. Menurut mereka, tidak ada perbedaan antara beribadah kepada Allah dan beribadah kepada selain-Nya. Bahkan mereka membolehkan beribadah kepada selain-Nya, sebagaimana halnya mereka memperbolehkan beribadah kepada-Nya. Sehingga puncak Tauhid mereka adalah ketauhidan orang musyrik

4. Orang yang arif menurut mereka adalah orang yang tidak menganggap baik sesuatu yang baik, dan tidak menganggap buruk sesuatu yang buruk, mereka juga mengingkari syari’at dan nubuwwah (kenabian). Secara batin mereka adalah munafik, dan musyrik lahir dan batin.

3. Para tokoh paham jabariyah :
a. Jaham bin safwan.
b. Ja’d bin dirham.
c. Dlirar bin umar.
d. Husein bin muhammad an-najjar.



B. SARAN :

Umat Islam haruslah mempererat tali silaturahim dan selalu waspada terhadap segala sesuatu yang dapat menghancurkan ideologi, keyakinan, dan syari’at Islam, dimana dia menyembunyikan dirinya dalam suatu tameng paham/tarekat untuk niatnya yang buruk, dan sangat mudah untuk menghancurkan. Umat islam harus memiliki pikiran kritis dan tindakan-tindakan yang berguna untuk kebaikan dirinya dan untuk kemaslahatan Umat Islam sedunia.
Dan sebagai penutup, puji syukur kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat sehingga kita dapat memperoleh hidayah untuk berjalan dijalan Allah,
Dan untuk makalah ini, didunia ini tidak ada pekerjaan yang sempurna seperti kata penyair:
إذا أتمّ الامر بدي نقصه
“jika telah selesai suatu pekerjaan maka akan tampak kekurangannya”.
Oleh karena itu kami mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dan kesempurnaan hanya milik Allah. والله اعلم بالصّواب
















DAFTAR PUSTAKA


Abbas, Siradjuddin. 2006. I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah.Jakarta Selatan: Pustaka Tarbiyah.
Al Misri, Abdul Hadi Muhammad. 1994. Manhaj dan Aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Jakarta : Gema Insani Press.

Rozak, Abdul dan Anwar, Rosihon. 2006. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia.