View My Stats

Minggu, 26 September 2010

RASIONALISME= = = = (Filsafat Umum)

Filsafat Umum


RASIONALISME


DISUSUN

OLEH :
KELOMPOK V

MUHAMMAD TSABIRIN ( 220 818 011 )
TARMIZI ( 220 817 965 )
NURHAFNI ( 220 817 951 )
NURHADIYATI ( 220 817 957 )


DOSEN PEMBIMBING :

HARDIANSYAH, S.Th.I, M.Hum











FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN BAHASA ARAB
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JAMI’AH AR-RANIRY
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2009







KATA PENGANTAR
بِــسْـمِ اللهِ الرَّحْـمَنِ الرَّحِـيْمِ

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Kemudian shalawat dan salam kami sanjungkan ke pangkuan Nabi Besar Muhammad SAW, yang dengan izin Allah telah membawa kita dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu bahan penunjang materi pembelajaran “Filsafat Umum”. Melalui makalah ini kami mencoba memberikan gambaran mengenai “Paham Rasionalisme” dari beberapa sumber yang berbeda.

Ucapan terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Hardiansyah, S.Th.I, M.Hum, atas kesediaan beliau untuk menjadi Dosen Pembimbing kami, dan kepada teman-teman sekalian yang selalu membantu dalam proses pembuatan makalah ini.

Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca semua. Sebagai manusia biasa, kami meminta maaf atas ketidaksempurnaan makalah ini. Oleh karena itu pula, kritik dan saran dari para pakar, senior, teman sejawat, dan pembaca lainnya akan kami terima dengan senang hati.



Wassalam


(Penulis)





DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI .............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1
LATAR BELAKANG MUNCULNYA RASIONALISME....................1


BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Rasionalisme …………………........................................... 3
B. Para Tokoh Rasionalis.............................................................................4
C. Kemunculan Cabang Paham Rasionalisme di Masa Pencerahan (Renaissance)............................................................................................6
D. Pokok Ajaran Rasionalisme................................................................. 9
E. Rasionalisme Dalam pandangan islam..................................................11

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan . 14
B. Saran . 15

DAFTAR PUSTAKA . 16






BAB I
PENDAHULUAN

*LATAR BELAKANG MUNCULNYA RASIONALISME*
Renaissance yang berarti kelahiran kembali, merupakan tombak dari kemunculan filsafat modern. Pada masa Renaissance, bangsa Eropa seolah-olah terbangun dari tidur nyenyak abad pertengahan. Sedikitnya ada tiga penemuan baru yang turut mendukung renaissance pada masa itu.
Pertama, penemuan mesiu yang berarti runtuhnya kekuatan feodal karena senjata tidak hanya dapat dimiliki oleh kaum bangsawan dan orang kaya semata, namun juga bisa dimiliki oleh kaum proletar.
Kedua, seni cetak yang berarti pengetahuan tidak lagi menjadi milik segelintir elite, namun juga bisa diakses oleh umum. Yang ketiga adalah penemuan kompas yang berarti memungkinkan orang-orang Eropa untuk berlayar dan menemukan dunia baru.
Pada masa Renaissance ini pula, manusia menemukan kesadaran akan dua hal; yaitu mengenai dunia dan dirinya sendiri. Ini berarti bahwa manusia mulai sadar akan nilai-nilai pribadi dan kekuatan individual dan meletakkan nilai (value) serta martabat (dignity) manusia diatas segala-galanya serta menjadikan kepentingan manusia sebagai tolak ukur kebenaran mutlak, aliran ini dikenal dengan Humanisme.

Diantara tema-tema yang diusung oleh humanisme adalah
- Freedom, kuatnya pengaruh gereja, feodalisme, kekaisaran yang merekayasa pandangan masyarakat, merupakan salah satu faktor yang menyebabkan masa kelam yang dialami oleh Eropa pada abad pertengahan.
- Naturalisme, pandangan yang berkeyakinan bahwa manusia adalah bagian yang terpenting dari alam semesta, dan menekankan pentingnya manusia sebagai makhluk yang bertindak merdeka dan bebas serta tidak bergantung kepada kekuatan-kekuatan supernatural.
- Perspektif Sejarah, kaum humanisme pada masa Renaissance sangat mengagumi orang-orang Yunani terutama pada kehidupan mereka yang didasarkan pada akal dan keseimbangan.
- Pengagungan terhadap sains, kuatnya pengaruh dari doktrin-doktrin gereja yang tidak ilmiah dan irrasional yang mengungkung masyarakat Eropa pada abad pertengahan, menimbulkan sikap anti-pati kaum humanis terhadap institusi gereja.
Dunia rasionalis adalah kenyataan yang begitu kering dan mekanik, sebuah kenyataan yang tak kuasa menganugrahkan kesejukan pada jiwa dan eksistensi manusia. Karenanya, jiwa-jiwa romantis berkeyakinan bahwa ada cara alternatif lain yang harus ditempuh untuk bersentuhan dengan realitas secara dinamis dan lebih manusiawi. Yaitu kembali pada pemahamam (verstehen) hakekat wujud manusia dan merogoh ulang batin kehidupan. Untuk itu, keberadaan seni, perasaan, hayat, agama dan sejenisnya kudu dipeluk dan ditubuhkan ulang.
Rasionalisme kerap dipakai sebagai sebutan bagi aliran pemikiran yang bersilangan dengan Fideisme (iman-sentris). Sedang pada latar filsafat, khususnya pada tema-tema epistemologis, istilah Rasionalisme digunakan secara berseberangan dengan mazhab Empirisisme.
Epistemology madzhab Rasionalis bersandarkan kepada pendekatan deduksi dalam usahanya menguak realitas. Pendekatan deduksi melahirkan kepastian manakala ia sesuai dengan syarat-syarat logika dan bentuk yang benar. Kekuatan akal yang dominan dalam metode deduksi ini memiliki beberapa keistemewaan – sebagai komplementer dari dalil-dalil Descartes dan kaum Rasionalis di atas - menurut filsuf Islam dan Barat.
Salah satu keistimewaan kekuatan akal adalah dapat menyelami dari bentuk eksoteris hingga esoteris sesuatu benda (atau menurut Kant, penetrasi dari phenomena merembes hingga noumena). Kemampuan yang lain dari kekuatan akal adalah dapat merumuskan dan mensintesakan ma'lumat dalam dirinya. Dan akal manusia dapat melakukan tajrid (abstraksi). Dapat membuat pengenalan-pengenalan partikular menjadi pengenalan-pengenalan universal.





BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN RASIONALISME.
Rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama.
Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme dan atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul. Meskipun begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut:
Humanisme dipusatkan pada masyarakat manusia dan keberhasilannya. Rasionalisme tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya. Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi humanisme yang antroposentrik.
Atheisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan akan adanya Tuhan atau dewa-dewa; rasionalisme tidak menyatakan pernyataan apapun mengenai adanya dewa-dewi meski ia menolak kepercayaan apapun yang hanya berdasarkan iman. Meski ada pengaruh atheisme yang kuat dalam rasionalisme modern, tidak seluruh rasionalis adalah atheis.
Pada pertengahan abad ke-20, ada tradisi kuat rasionalisme yang terencana, yang dipengaruhi secara besar oleh para pemikir bebas dan kaum intelektual.
Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit kesamaan dengan rasionalisme kontinental yang diterangkan René Descartes. Perbedaan paling jelas terlihat pada ketergantungan rasionalisme modern terhadap sains yang mengandalkan percobaan dan pengamatan, suatu hal yang ditentang rasionalisme kontinental sama sekali.
Secara menyeluruh, pengertian Rasionalisme adalah pendekatan filosofis yang menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului, tunggal dan bebas (terlepas) dari pengamatan indrawi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa rasionalisme mempercayai bahwa akal (rasio) dapat mencapai kebenaran tanpa bantuan indrawi. Penganut paham rasionalis juga mempercayai bahwa rasa (sense) tidak dapat memberikan ataupun membawa kita kepada kebenaran yang universal.


B. PARA TOKOH RASIONALIS.
Para tokoh Rasionalis yang terkemuka diantaranya :
1. Rene Descartes (1596 -1650)
René Descartes (1596-1650 M), atau dikenal juga sebagai Cartesius, merupakan seorang filsuf dan pakar matematika Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637).
Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18.
Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah: "Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am) Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran
Rene Descartes (1596 – 1650) dianggap sebagai pendiri filsafat modern dan Bapak rasionalisme. Menurut Descartes, pengetahuan indrawi bersifat kabur dan samar serta tidak memberikan gambaran dan hakekat tentang dunia diluar. Karena itu (menurut Descartes) kita harus meragukan pengamatan indrawi kita.

Teori falsafi “cogito” (Cogito Ergo Sum) Descartes mempunyai dua makna penting; yaitu: Pertama; dia meletakkan pusat sistem filsafatnya pada persoalan epistimologi yang paling fundamental. Yaitu “apakah asal mula pengetahuan manusia itu?”. Kedua; Descartes menganjurkan, kita harus bergerak/memulai dengan keraguan, bukan dengan kepercayaan. (ini merupakan kebalikan sepenuhnya dari sikap St. Agustinus, dan umumnya teolog abad pertengahan yang lebih mendahulukan kepercayaan).

Pada tahun 1637, Descartes menerbitkan bukunya yang termasyhur yang berjudul “Discourse on the Method for Properly Guiding the Reason and Finding Truth in the Sciences” yang bisaanya disingkat dengan “Discourse on the Method”. Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Prancis dengan judul “Discours de la Methode” (uraian tentang metode) dan sengaja ditulis dalam bahasa Prancis (bukan dalam bahasa Latin) dengan tujuan agar semua kalangan intelegensia dapat membacanya walaupun mereka tidak mendapatkan pendidikan skolastik.

2. B. De Spinoza (1632 -1677 M)
Tokoh rasionalisme selain Descartes adalah Baruch Spinoza (1632 – 1677). Bagi Spinoza, tidak ada hal yang tidak dapat ditembus oleh rasio (akal) manusia, karena ia (akal) mencakup segalanya. Kehendak manusia adalah sama dengan pikirannya. Karena inilah rasionalisme Spinoza dianggap lebih luas dan lebih konsekuan dari Descartes.

3. Nicholas Malerbranche (1638 -1775)
4. G.W.Leibniz (1946-1716)
5. Christian Wolff (1679 -1754)
6. Blaise Pascal (1623 -1662 M)

Para tokoh Rasionalis yang lainnya :
1. Anaxagoras
2. Isaac Asimov
3. Sanal Edamaruku
4. Benjamin Franklin
5. Sigmund Freud
6. Paul Kurtz
7. Robert A. Heinlein
8. David Hume
9. Julian Huxley
10. Robert G. Ingersoll
11. Immanuel Kant
12. John Locke
13. Jim Herrick
14. H. P. Lovecraft
15. Thomas Paine
16. Plato
17. Karl Popper
18. Taslima Nasrin
19. Ayn Rand
20. Gene Roddenberry
21. Bertrand Russell
22. Abraham Kovoor
23. Joseph Edamaruku
24. Barbara Smoker
25. Elizabeth Cady Stanton
26. Voltaire

C. KEMUNCULAN CABANG PAHAM RASIONALISME DI MASA PENCERAHAN (RENAISSANCE/ AUFKLARUNG).
Dunia rasionalis adalah kenyataan yang begitu kering dan mekanik, sebuah kenyataan yang tak kuasa menganugrahkan kesejukan pada jiwa dan eksistensi manusia.
Rasionalisme abad pencerahan merupakan gerakan intelektual yang digagas untuk menghadapi kebekuan iman gerejawi, kekuasaan tradisi katolik, sakralitas khurafat, serta berupaya untuk memperluas otoritas akal di seluruh matra kehidupan manusia. Kemudian muncullah cabang paham Rasionalisme di masa pencerahan (Renaissance). Diantaranya yaitu :
1. Rasionalisme Teologis
Konflik primordial antara agama dan sains telah menelurkan sekian persoalan baru pada ranah teologi dan filsafat agama, khususnya pada dataran epistemologi agama. Pertanyaan seperti apakah hakekat agama itu hanya dapat diimani ataukah dapat dibuktikan secara rasional, menyisakan beragam jawaban yang berbeda. Sedikitnya ada dua pilihan jawaban dari pertanyaan di atas.
Pertama, jawaban para penganut Fideisme. Menurut mereka hakekat agama hanya dapat dipahami melalui iman. Artinya rasio manusia tidak akan mampu untuk menjelaskan apalagi membuktikan hakekat agama. Karena itu kontadiksi yang terjadi antara rasio dan agama harus disikapi secara imani.
Sedang yang kedua adalah jawaban Evidensialisme. Mereka menganggap kebenaran hakekat agama harus memiliki dalil dan dapat dibuktikan kebenarannya. Evidensialisme sendiri terbagi dalam dua klan pemikiran:
1) Ultra-Rasionalisme, dan
2) Rasionalisme Kritikal.
Para pendukung Ultra-Rasionalisme percaya bahwa seluruh hakekat agama dapat dijelaskan dan dibuktikan secara rasional oleh akal manusia. Sedang bagi pemikir Rasionalisme Kritikal meyakini bahwa kebenaran religi tidak dapat dibuktikan secara rasional. Akan tetapi rasio manusia mampu menjamin kebenarannya melalui kritik akli.
2. Rasionalisme Falsafi
Para filosof rasionalis meyakini bahwa pengatahuan manusia didapat secara fitri oleh akal manusia. Akan tetapi para pendukung Empirisisme menolak pandangan semacam itu, bagi mereka pengetahuan manusia bukan didapat lewat rasio namun diperoleh melalui pengalaman indrawi. Kendati demikian ada juga yang memilih jalan tengah dengan memadukan kedua pendapat di atas. Aristoteles dan mayoritas filosof muslim lebih memilih alternatif yang ketiga ini. Menurut mereka sebagian dari pengetahuan manusia diperoleh melalui pengalaman empiris, sedang sebagian yang lain didapati melalui proses kognitif akal manusia.
Kendati demikian, suatu pemahaman rasionalis bukan berarti akan menafikan begitu saja peran empiris dalam lingkup epistemik manusia. Tidak mencukupinya metode Empirisisme dalam menafsirkan hakekat realitas merupakan alasan utama para ilmuan rasionalis untuk menempatkan posisi akal secara sentral. Konsep-konsep matematika, moral dan estetika merupakan ragam pengetahuan yang tidak memiliki wujud objektif dan tidak bisa diraba oleh indra namun memiliki peran vital dalam mengelola hakekat pengetahuan. Karena itu menurut mereka lokus konsep pengatahuan semacam ini hanya dapat ditemui pada akal manusia.
Dipandang dari segi cakupan keabsahan kaidah dan konsep akli terhadap fragmentasi dual subjek-objek. Paham Rasionalisme ini dapat dipilah menjadi dua ragam pemikiran:
1) Rasionalisme Realistik, dan
2) Rasionalisme Idealistik.
Dalam anggapan Rasionalisme Realistik, P;ato mengemukakan bahwa validitas konsep dan kaidah rasio bukan hanya sah pada dataran subjektif tapi juga mencakup area objektif pengetahuan. Artinya kewujudan aturan nalar dan gambaran epistemik yang kita miliki bukan hanya berada pada wilayah subjek tetapi juga memiliki kenyataan pada realitas objektif.
Sebaliknya, Kant dengan paradigma Rasionalisme Idealistik berpendapat bahwa keberadaan konsep dan kaidah akal hanyalah terbatas pada matra subjektif, karenanya hal semacam itu tidak memiliki keabsahan dalam realitas objektif. Peran dualisme-- nomen dan fenomen-- Kant dalam memandang realitas telah memaksa Kant untuk melontarkan perspektif idealistiknya tersebut. Menurutnya apapun yang ditangkap oleh nalar kita tak lain hanyalah fenomen atau wujud eksternal dari kenyataan. Sedang hakekat sejatinya (nomen) dari kenyataan itu tidak akan pernah mampu dicerap oleh akal kita.
3. Rasionalisme Intelektual
Era pencerahan ( Aufklarung) atau kebangkitan intelektualisme abad XVIII merupakan tahapan baru bagi sejarah pemikiran di Barat. Usaha untuk menandingi otoritas gereja dan penubuhan kekudusan sains merupakan indikator utama gerakan pencerahan abad ke-18. Rasionalisme aufklarung bukan sekedar aliran pemikiran yang hanya berkutat pada bingkai filsafat epistemik abad XVII. Namun telah menjadi pandangan dunia para ilmuan abad pencerahan Eropa.
Karenanya Rasionalisme tidak lagi berhadapan dengan Empirisisme, tapi berseberangan secara frontal dengan kuasa agama. Dengan kata lain, Empirisisme pada masa ini bukan lagi rival Rasionalisme, tapi ia justru menjadi aktor utama yang melebarkan sayap Rasionalisme di segenap ranah hayati manusia. Pengalaman empiris bagi mereka tak ubahnya bahan mentah yang nantinya akan diolah dan dikelola oleh akal menjadi gugusan epistemik. Sebab itu, dalam suasana semacam ini konflik klasik antara akal dan empiris tak lagi layak untuk dimunculkan kembali.
Di sisi lain, akibat kemunduran gereja dan ketidakmampuan para teolog Kristen dalam menyikapi dan menepis munculnya hegemoni sains di tengah masyarakat Barat, semakin memantapkan peran intelektual di segala bidang. Pada ranah agama misalnya, puak-puak rasionalis menggulirkan teologi natural sebagai agama alternatif yang menggantikan posisi agama ilahi. Di bidang politik-sosial mereka melemparkan ide-ide sekularisme dan pemisahan radikal antara agama dan kekuasaan. Sedang pada lingkup etika mereka mulai merancang mazhab moral minus agama.
Dunia rasionalis adalah kenyataan yang begitu kering dan mekanik, sebuah kenyataan yang tak kuasa menganugrahkan kesejukan pada jiwa dan eksistensi manusia. Karenanya, jiwa-jiwa romantis berkeyakinan bahwa ada cara alternatif lain yang harus ditempuh untuk bersentuhan dengan realitas secara dinamis dan lebih manusiawi. Yaitu kembali pada pemahamam (verstehen) hakekat wujud manusia dan merogoh ulang batin kehidupan. Untuk itu, keberadaan seni, perasaan, hayat, agama dan sejenisnya kudu dipeluk dan ditubuhkan ulang.
Alhasil, begitu saja mencomot istilah Rasionalisme memang bukanlah jalan yang aman dalam diskursus ilmiah, mengingat istilah tersebut telah sedemikian didaku ataupun dipangkas oleh berbagai pihak. Karenanya perlu ada upaya yang lebih hati-hati untuk menggunakan istilah Rasionalisme tadi. Di samping itu, keberadaan Rasionalisme sebagai matan realitas, tentu memiliki latar hermeneutik alias “kamar” tersendiri yang amat khas Barat. Dengan demikian, ketika kita hendak mengusung terminus tersebut ke ruang yang lain semisal pada bilik pemikiran Islam, niscaya akan menuntut beberapa penyesuaian dan upaya dekonstruktif atas istilah tersebut.

D. POKOK AJARAN RASIONALISME.
Disamping mengkritik pendidikan pada masa itu yang masih didominasi oleh Scholasticism, Descartes juga memperkenalkan metode baru, yang menurutnya, harus menjadi dasar bagi seluruh pendidikan dan riset sains serta filsafat. Metode itu ialah :
a. Tidak menerima sesuatu sebagai kebenaran, jika tidak dapat dijelaskan secara rasional.
b. Menganalisa ide-ide yang kompleks dengan menyederhanakannya dalam elemen yang konstitutif, dimana rasio dapat memahaminya secara intuitif.
c. Me-rekonstruksi, dimulai dari ide yang simple dan bekerja secara sintetis kebagian yang kompleks.
d. Membuat sebuah enumerasi yang akurat dan lengkap dari data permasalahan, dengan menggunakan langkah-langkah, baik yang deduktif maupun yang induktif.

Menurut Lorens Bagus, ada beberapa pokok ajaran dari Rasionalisme, yaitu:
- Dengan proses pemikiran abstrak kita dapat mencapai kebenaran fundamental, yang tidak dapat disangkal tentang apa yang ada dan juga tentang alam semesta pada umumnya.
- Realitas dapat diketahui tanpa tergantung pada pengamatan, pengalaman ataupun empirisme.
- Pikiran mampu mendahului pengalaman tentang mengetahui realitas.
- Akal budi (rasio) adalah sumber utama pengetahuan dan Ilmu pengetahuan pada dasarnya bisa dipahami secara rasional.
- Kebenaran tidak diuji dengan prosedur verifikasi-indrawi, tetapi dengan kriteria konsistensi logis.
- Metode rasional (deduktif, logis, matematis, inferensial) dapat diterapkan pada materi apapun dan dapat memberi kita penjelasan yang memadai.
- Kepastian mutlak dapat dicapai dengan pikiran murni.
- Hanya kebenaran-kebenaran yang timbul dari akal budi (rasio) saja yang bisa dikatakan benar, pasti dan nyata. Sedangkan yang lainnya adalah keliru.
- Alam semesta (realitas) mengikuti hukum-hukum dan rasionalitas logika.
- Segala sesuatu dari alam semesta dapat dideduksi dari prinsip-prinsip atau hukum-hukum logika.





E. RASIONALISME DALAM PANDANGAN ISLAM.
Persoalan rasionalisme pada dasarnya telah banyak dijawab oleh Al Qur’an. Umat Islam sebenarnya juga tidak menafikan kebenaran Al Qur’an bahwa umat Islam dapat menggunakan pemikirannya dalam memahami berbagai fenomena di sekitarnya. Ketika kalangan intelektual Barat seringkali menemukan kebingungan dan kekacauan pemikiran dalam memahami hakekat alam semesta, hal ini tidak terjadi bagi kalangan intelektual Islam yang dengan mudah mendapatkan rujukannya di dalam Al Qur’an. Rasioanalisme sendiri adalah tak lebih dari metodologi berfikir bagi kalangan intelektual Islam dan Al Qur’an adalah sumber utamanya, sekaligus muara ilmu pengetahuan
Al Qur’an sebagai penuntun bagi rasionalisme dibagi menjadi dua kategori ayat, yaitu :
1. Ayat-ayat muhkamat, dan
2. Ayat-ayat mutasyabihat.
Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang sudah jelas arti dan maknanya sebagaimana tertulis dan mudah dipahami secara langsung ketika membacanya.
Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang belum dapat dimengerti arti dan maknanya (yakni berupa simbol-simbol dan perumpamaan-perumpamaan) ketika membacanya secara langsung.
Dari ayat-ayat mutasyabihat inilah, umat Islam diajak untuk melakukan suatu pemikiran yang mendalam dan otomatis penggunaan metode rasional dihalalkan untuk memahami ayat-ayat tersebut, dengan syarat orang yang ingin memahaminya harus sudah memiliki kapasitas keilmuan dan keyakinan akan kebenaran Al Qur’an.
Rasionalisme seringkali disinggung oleh Al Qur’an yaitu ketika mengajak agar manusia berfikir (tafakur) dalam memahami segala peristiwa kemanusiaan, gejala alam dan bahkan metafisika abstrak. Potensi akal yang dimiliki manusia dikatakan merupakan instrumen (alat) canggih untuk tidak menyia-nyiakan segala ciptaan Tuhan bagi kepentingan hidup manusia dalam membangun peradaban dunia. Meskipun akal dapat berfikir luas untuk memperoleh pengetahuan, akan tetapi Al Qur’an menegaskan bahwa terdapat banyak hal yang tidak dapat diketahui dan dijangkau oleh akal pikiran manusia.
Dalam perkataan lain Al Qur’an adalah objek berfikir luas selain mengandung ajaran pembinaan akhlak. Di dalam Al Qur’an, Allah akan memberikan penghargaan yang besar kepada para ilmuwan dan kaum yang mampu menggunakan akalnya ke dalam tingkatan derajat yang lebih tinggi.
Apabila dibandingkan dengan golongan awam, kaum berakal dapat menyatakan argumentasi rasional dan dapat melepaskan diri dari taqlid (mengekor/mengikuti) begitu saja kepada suatu prinsip atau doktrin keagamaan tanpa memikirkan lebih panjang sebelumnya.
Sedangkan ciri dari golongan awam adalah dalam banyak hal pengetahuannya terhadap masalah-masalah hakekat lebih bersifat dhahir (polos) atau membutuhkan ungkapan yang lebih sederhana. Justru dengan keyakinan jika ditambah dengan pemahaman rasional terhadap prinsip ajaran Islam akan semakin mempertebal keimanan seorang muslim dan tidak akan mendapatkan keraguan sama sekali.
Sebagai sumber utama bagi rasionalisme, tentu saja kandungan Al Qur’an tidak hanya sebatas pengetahuan tentang keagamaan saja (aqidah, Syariah dan akhlaq) akan tetapi banyak mengisyaratkan tentang filsafat dan teori-teori ilmu pengetahuan. Artinya, menempatkan Al Qur’an sebagai induk atau muara segala cabang ilmu pengetahuan, dan muatan kebenaran yang terkandung di dalamnya merupakan essensi dari segala sesuatu yang hendak dicapai oleh akal manusia. Hal ini akan memenuhi keinginan para penganut paham rasioanalisme di kalangan intelektual Islam yang tidak pernah puas akan pengetahuan yang sudah ada dan haus akan kegairahan untuk mencapai tingkatan ilmu pengetahuan yang lebih tinggi.
Bahwasannya antara Al Qur’ an dan rasionalisme tidaklah bertentangan, bahkan Al Qur’an sendiri seringkali berbicara bahwa kaum rasionalislah yang mampu mempelajari hukum-hukum alam dan filsafat, dalam usahanya mencari dan menemukan Kebenaran.
Al Qur’an pun sebenarnya menginginkan agar manusia memperhatikan segala sesuatu yang ada dan mengungkapkan yang masih rahasia di alam semesta dengan menggunakan akalnya, dan apabila pemikiran tidak mampu mencarikan jawabannya manusia sudah semestinya mengembalikannya kepada Al Qur’an. Dari segala sesuatu yang tidak dapat di cerna oleh akal manusia itulah, manusia akan mengakui adanya keterbatasan pemikiran yang dimilikinya. Al Qur’an memberikan pedoman bagi akal, hal mana yang dapat dikuasai oleh akal dan hal mana yang tidak dapat dikuasainya, khususnya pada ayat-ayat mutasyabihat.
Para Rasionalis dikalangan intelektual Islam sendiri pada dasarnya juga mengakui bahwa kebenaran yang telah dicapainya adalah kebenaran relatif dan tidak akan pernah dapat mencapai kebenaran tertinggi. Tradisi intelektual Islam sendiri hingga sekarang juga masih dalam ikhtiarnya untuk selalu membuka pintu ijtihad untuk menjawab persoalan-persoalan filsafat modern dalam rangka menemukan kebenaran.
Al Qur’an bagi mereka adalah sumber utama yang dapat menuntun akal untuk menemukan kebenaran tersebut. Hakekat segala sesuatu akan dengan mudah dapat diungkapkan apabila kaum rasionalis berlandaskan pada Al Qur’an.
Jadi, dalam hal ini rasionalisme bagi intelektual muslim merupakan metode berfikir yang canggih untuk mengungkapkan hakekat segala sesuatu, sedangkan Al Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan bagi manusia agar dapat memaknai hidupnya.







BAB III
PENUTUP

B. KESIMPULAN :

1. Rasionalisme adalah pendekatan filosofis yang menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului, tunggal dan bebas (terlepas) dari pengamatan indrawi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa rasionalisme mempercayai bahwa akal (rasio) dapat mencapai kebenaran tanpa bantuan indrawi. Penganut paham rasionalis juga mempercayai bahwa rasa (sense) tidak dapat memberikan ataupun membawa kita kepada kebenaran yang universal.

2. Tokoh-Tokoh Paham Rasionalisme :
1. Rene Descartes (1596 -1650)
2. Nicholas Malerbranche (1638 -1775)
3. B. De Spinoza (1632 -1677 M)
4. G.W.Leibniz (1946-1716)
5. Christian Wolff (1679 -1754)
6. Blaise Pascal (1623 -1662 M)
7. Dan lain-lain.

3. Menurut Lorens Bagus, ada beberapa pokok ajaran dari Rasionalisme, yaitu:
- Dengan proses pemikiran abstrak kita dapat mencapai kebenaran fundamental, yang tidak dapat disangkal tentang apa yang ada dan juga tentang alam semesta pada umumnya.
- Realitas dapat diketahui tanpa tergantung pada pengamatan, pengalaman ataupun empirisme.
- Pikiran mampu mendahului pengalaman tentang mengetahui realitas.
- Akal budi (rasio) adalah sumber utama pengetahuan dan Ilmu pengetahuan pada dasarnya bisa dipahami secara rasional. Dan lain-lain.

4. Rasionalisme seringkali disinggung oleh Al Qur’an yaitu ketika mengajak agar manusia berfikir (tafakur) dalam memahami segala peristiwa kemanusiaan, gejala alam dan bahkan metafisika abstrak. Meskipun akal dapat berfikir luas untuk memperoleh pengetahuan, akan tetapi Al Qur’an menegaskan bahwa terdapat banyak hal yang tidak dapat diketahui dan dijangkau oleh akal pikiran manusia.

B. SARAN :
Al Qur’an adalah sumber utama yang dapat menuntun akal untuk menemukan suatu kebenaran . Hakekat segala sesuatu akan dengan mudah dapat diungkapkan apabila kaum rasionalis berlandaskan pada Al Qur’an. Jadi, dalam hal ini rasionalisme bagi intelektual muslim merupakan metode berfikir yang canggih untuk mengungkapkan hakekat segala sesuatu, sedangkan Al Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan bagi manusia agar dapat memaknai hidupnya.
Dan sebagai penutup, puji syukur kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat sehingga kita dapat memperoleh hidayah untuk berjalan dijalan Allah,
Dan untuk makalah ini, didunia ini tidak ada pekerjaan yang sempurna seperti kata penyair:
إذا أتمّ الامر بدي نقصه
“jika telah selesai suatu pekerjaan maka akan tampak kekurangannya”.
Oleh karena itu kami mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan dan kesempurnaan hanya milik Allah. والله اعلم بالصّواب









DAFTAR PUSTAKA

Bagus, Lorens. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Iskandar, Teuku Safir. 2003. Falsafah Kalam. Lhokseumawe/NAD: Nadiya Foundation.
Muslim, Muhammad. 2005. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Belikar.
Poedjawijadna. 1992. Logika Filsafat Berfikir. Jakarta: Rineka Cipta.
Praja, S Juhana. 2003. Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika. Bogor: Kencana.

http://www.google.co.id/search?q=RASIONALISME&hl=id&client=firefox-a&channel=s&rls=org.mozilla:en-US:official&hs=e0W&start=10&sa=N

http://id.wikipedia.org/wiki/Rasionalisme

http://warsa.wordpress.com/2007/06/05/rasionalisme/

http://archipeddy.com/ess/rasionalisme.html

http://www.islamalternatif.net/id/article.php?story=20051026022859231

http://sassy08.blogspot.com/2008/03/rasionalisme-dalam-perspektif-bahasa.html

http://kuwatpamuji.blogspot.com/2009/01/rasionalisme.html

http://www.telagahikmah.org/id/index.php?option=com_content&task=view&id=97&Itemid=1

http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Jurnal/Arab4.html

AYAT-AYAT YANG HARUS DIPERSIAPKAN DALAM KELAS TAHFIDH (IAIN Ar-Raniry)

AYAT-AYAT YANG HARUS DIPERSIAPKAN DALAM KELAS TAHFIDH (IAIN Ar-Raniry)




“Ayat-ayat pilihan’


1. Al- baqarah 1-10
الم …. ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ…. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ.... وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ.... أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ …. إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ …. خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ .... وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ.... يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ …. فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ ....




2. Al- baqarah 183-187
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ…. أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ …. شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ …. وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ …. أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ….

3. Al- baqarah 194-200
الشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمَاتُ قِصَاصٌ فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ …. وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ…. وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ…. الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ …. لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ…. ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ…. فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ….

4. Al- baqarah 255-257
اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ…. لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ…. اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ….

5. Al- baqarah 284-286
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ …. آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ…. لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ….
6. Ali imran 26-29
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ…. تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ…. لا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ…. قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ….

7. Ali imran 102-109
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ…. وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ…. وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ…. وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ…. يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ…. وَأَمَّا الَّذِينَ ابْيَضَّتْ وُجُوهُهُمْ فَفِي رَحْمَةِ اللَّهِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ…. تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ…. وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ ….

8. Ali imran 118-121
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ …. هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الأنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ…. إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ…. وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ….

9. Ali imran 189-194
وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ …. إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ…. الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ …. رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ …. رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلإيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ …. رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ ….
10. An- Nisa’ 1-4
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا …. وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا …. وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا …. وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا ….

11. An- Nisa’ 70-71
ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا …. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا ….


12. Al- Maidah 1-4
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الأنْعَامِ إِلا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ …. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلا الْهَدْيَ وَلا الْقَلائِدَ وَلا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ …. حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ …. يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ ….

13. Al- Maidah 8-11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ …. وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ …. وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ …. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ ….

14. Al- Maidah 98-100
اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ…. مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ … قُلْ لا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ….

15. Al- an’am 1-6
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ …. هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ …. وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الأرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ …. وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ …. فَقَدْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَسَوْفَ يَأْتِيهِمْ أَنْبَاءُ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ…. أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الأنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ….


16. Al- an’am 116-117
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ …. إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ….

17. Al- Anfal 1-4
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأنْفَالِ قُلِ الأنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ …. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ…. الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ …. أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ….
18. Al- Anfal 24-29
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ …. وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ…. وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الأرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ…. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ …. وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ …. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ….

19. Al- Anfal 60-63
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ…. وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ …. وَإِنْ يُرِيدُوا أَنْ يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ…. وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ .…

20. At- Taubah 16-22
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلا رَسُولِهِ وَلا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ…. مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ…. إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ …. أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ …. الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ …. يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُقِيمٌ …. خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ ….

21. At- Taubah 71-72
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ …. وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ….

22. Yunus 109
وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ ….


23. Ar- Ra’d 1-4
المر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ …. اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الأمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ …. وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الأرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ…. وَفِي الأرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الأكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ….

24. Ibrahim 32-41
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الأنْهَارَ…. وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ …. وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ الإنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ…. وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ …. رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ…. رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ …. رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ…. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ …. رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ… رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ ….



25. An-Nahl 78-85
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ …. أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلا اللَّهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ …. وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الأنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ …. وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلالا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ…. فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ الْمُبِينُ …. يَعْرِفُونَ نِعْمَةَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ…. وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا ثُمَّ لا يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَلا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ …. وَإِذَا رَأَى الَّذِينَ ظَلَمُوا الْعَذَابَ فَلا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ وَلا هُمْ يُنْظَرُونَ ….


26. Al- Isra’ 1-12
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ…. وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلا تَتَّخِذُوا مِنْ دُونِي ‎وَكِيلا…. ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا …. وَقَضَيْنَا إِلَى بَنِي إسْرائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الأرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا…. فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولا…. ثُمَّ رَدَدْنَا لَكُمُ الْكَرَّةَ عَلَيْهِمْ وَأَمْدَدْنَاكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَجَعَلْنَاكُمْ أَكْثَرَ نَفِيرًا …. إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا …. عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يَرْحَمَكُمْ وَإِنْ عُدْتُمْ عُدْنَا وَجَعَلْنَا جَهَنَّمَ لِلْكَافِرِينَ حَصِيرًا…. إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا …. وَأَنَّ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا …. وَيَدْعُ الإنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا…. وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلا….

27. Al- Isra’ 111
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا ….

28. Al- Kahfi 107-110
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلا…. خَالِدِينَ فِيهَا لا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلا…. قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا …. قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا ….

29. Al- Hajj 1-5
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ …. يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ…. وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ…. كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَنْ تَوَلاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ…. يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الأرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الأرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ ….



30. Al- Mu’minun 1-16
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ …. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ …. وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ …. وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ …. وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ…. إِلا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ …. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ …. وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ…. وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ…. أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ…. الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ…. وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ …. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ …. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ …. ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ … ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ ….



31. An- Nur 27-38
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ …. فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فِيهَا أَحَدًا فَلا تَدْخُلُوهَا حَتَّى يُؤْذَنَ لَكُمْ وَإِنْ قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا هُوَ أَزْكَى لَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ …. لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ مَسْكُونَةٍ فِيهَا مَتَاعٌ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ …. قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ …. وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ…. وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ …. وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّى يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ وَلا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَنْ يُكْرِهُّنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ…. وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَمَثَلا مِنَ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ …. اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ …. فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ…. رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ…. لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ ….

32. Al- Furqan 61-77
تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا…. وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا …. وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا …. وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا …. وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا …. إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا …. وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا …. وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا …. يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا …. إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا …. وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا …. وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا …. وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا …. وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا …. أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلامًا …. خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا …. قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا ….

33. An- Naml 17-21
وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ…. حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ …. فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ …. وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ …. لأعَذِّبَنَّهُ عَذَابًا شَدِيدًا أَوْ لأذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ ….

34. Al- Qasahsh 76-78
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ …. وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ …. قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ ….

35. Al- Qasahsh 83-88
تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ …. مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ …. إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ قُلْ رَبِّي أَعْلَمُ مَنْ جَاءَ بِالْهُدَى وَمَنْ هُوَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ …. وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ …. وَلا يَصُدُّنَّكَ عَنْ آيَاتِ اللَّهِ بَعْدَ إِذْ أُنْزِلَتْ إِلَيْكَ وَادْعُ إِلَى رَبِّكَ وَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ …. وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا إِلَهَ إِلا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ ….

36. Luqman 1-19
الم …. تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ …. هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ… الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ …. أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ …. وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ …. وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا وَلَّى مُسْتَكْبِرًا كَأَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا كَأَنَّ فِي أُذُنَيْهِ وَقْرًا فَبَشِّرْهُ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ …. إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ…. خَالِدِينَ فِيهَا وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ….. خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ …. هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ …. وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ…. وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ …. وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ …. وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ …. يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الأرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ …. يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ …. وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ….. وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الأصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ ….

37. Al- Ahzab 41-47
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا …. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا …. هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا …. تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلامٌ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا …. يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا …. وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا …. وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلا كَبِيرًا ….

38. Al- Fath 1-9
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا…. لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا …. وَيَنْصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا …. هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا …. لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِنْدَ اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا …. وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا …. وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا …. إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا…. لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلا ….

39. Al- Fath 27-29
لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا …. هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا…. مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا….

40. Al- Hujarat 6-13
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ …. وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الأمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ …. فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ …. وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ …. إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ…. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالألْقَابِ بِئْسَ الاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ …. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ …. يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ….

41. Al- Mulk 1-11
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ …. الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ …. الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ …. ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ …. وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ…. وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ …. إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ …. تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ …. قَالُوا بَلَى قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلا فِي ضَلالٍ كَبِيرٍ…. وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ …. فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لأصْحَابِ السَّعِيرِ ….

42. Al- Jumu’ah 1-11
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ …. هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ …. وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ…. ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ …. مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ …. قُلْ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا إِنْ زَعَمْتُمْ أَنَّكُمْ أَوْلِيَاءُ لِلَّهِ مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ …. وَلا يَتَمَنَّوْنَهُ أَبَدًا بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ …. قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ …. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ …. فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ …. وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ ….

SMS LEBARAN / UCAPAN SELAMAT LEBARAN

SMS
LEBARAN/UCAPAN
SELAMAT LEBARAN



Mawar berseri dipagi hari
pancaran putihnya menyapa nurani
sms dikirim pengganti diri
SELAMAT IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR BATIN

Bila idul fitri adalah lentera,
izinkan membuka tabirnya dengan maaf
agar cahayanya menembus jiwa fitrah
dari tiap khilaf
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H

Sebelum ramadhan pergi
sebelum idul fitri datang
sebelum operator sibuk
sebelum sms pending mulu
sebelum pulsa habis
dari hati ngucapin
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Sebening fiber optik,
setinggi tower BTS,
seluas jangkauan wimax,
secepet broadband access,
mohon bandwidth maaf selebar-lebarnya.
MINAL AIDIN WAL FAIDIN.

Walau hati tak sebening XL dan secerah MENTARI,
banyak khilaf yang membuat FREN kecewa,
kuminta SIMPATI- mu untuk BEBAS-kan diri dari ROAMING dosa,
kita hanya bisa angkat JEMPOL padaNnya
yang selalu membuat kita HOKI dalam mencari kartu AS dan STAR ONE selama hidup,
kita harus FLEXI-bel untuk menerima semua pemberianNya dan menjalani MATRIX kehidupan ini. . ..
dan semoga amal kita tidak ESIA-ESIA.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Anak kodok makan ketupat,
makan ketupat sambil melompat,
ngirim kartu udah ngx sempat,
pake smspun “no what-what”,
“TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM,
TETAP SEMANGAT DAN DAHSYAT.

Ramadhan membasuh hati yang berjelaga,
saatnya meraih rahmat dan ampunanNya,
untuk lisan dan sikap yang tak terjaga,
mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1427H.
Minal aidzin wal faidzin Taqabbalallahu minna wa minkum.

Faith makes all things possible,
hope makes all things work,
love makes all things beautiful,
may you have all of the three,
HAPPY IEDUL FITRI.

Sayup terdengar takbir berkumandang,
tanpa ramadahan akan lewat,
ampunan diharap, barokah didapat,
Taqabbalallahu minna wa minkum.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Bila ada langkah membekas lara,
ada kata merangkat dusta,
ada tingkah menoreh luka,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H.

Sebelum takbir berkumandang,
sebelum ajal menjemput,
sebelum jaringan over load,
ijinkan kami memohon maaf lahir dan batin.

Mata kadang salah melihat,
mulut kadang salah terucap,
hati kadang salah menduga,
maafkan segala kekhilafan,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H.

The holy and beautiful syawal will come soon,
there is no word proper to welcome it,
except no word of pray and forgiveness,
my majesty if you forgive all my fault
and hope your worship accepted by Allah,
The god of merciful and the beneficent.

Orang-orang yaang paling mulia
adalah orang-orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain,
bersihkan diri, sucikan hati di hari yang fitri ini.

Bulan ramadhan telah berlalu,
dan ari kemenangan telah datang,
untuk itu mari kita bersihkan hati dan jiwa kita,
dari gelimang dosa,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Berbuat khilaf adalah sifat,
meminta maaf adalah kewajiban,
dan kembalinya fitrah adalah tujuan,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Ramadhan telah surut,
hari yang fitri telah terbit,
maaf kumohonkan, agar hati bersih dari dosa,
MINAL AIDIN WAL FAIDIN.

Let’s write all the mistake down in the sand,
and let the wind of forgiveness erase it away,
happy idul fitri,
MINAL AIDIN WAL FAIDIN.

Jika langkahku membekas lara,
kataku merangkai dusta,
lakuku menoreh luka, dari jeritan lubuk batinku,
dengan ketulusan hatiku, kumohonkan maaf lahir bathinku.
TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM.
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H.

Andai tangan tak kuasa menjabat,
setidaknya kata masih dapat terungkap,
setulus hati mengucapkan SELAMAT IDUL FITRI,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
RIDHA ALLAH DAN BERKAHNYA.

Menyertai hambanya,
yang saling ucapkan maaf,
dan memberi maaf.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H.
MAAF LAHIR BATIN.

Ijinkan saya bersajak,
untuk LISAN yang tak terJAGA, untuk JANJI yang terABAIKAN,
untuk HATI yang berPRASANGKA, untuk SIKAP yang meNYAKITKAN,
dihari yang FITRI ini, denagan TULUS HATI,
saya mengucapkan MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN,
semoga ALLAH selalu membimbing kita bersama di jalanNya.

Sepuluh jari kutangkupkan,
maaf lahir bathin kupohonkan,
TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM.
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN.

Gema takbir bergumpal didalam dada,
idul fitri seratus meter lagi.

Ramadhan akan berlalu,
jiwa bersih membalut qalbu,
dengan kerendahan hati,
mohon diberi maaf yang suci,
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H.
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN.

Sejalan dengan berlalunya ranadhan tahun ini,
kemenangan akan kita gapai,
dalam kerendahan hati ada ketingian budi,
dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa,
dalam kesempatan hidup ada keluasan ilmu,
hidup ini indah juka segala karena ALLAH SWT,
kami sekeluarga mernghaturkan selamat HARI RAYA IDUL FITRI 1430H.
TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Tiada embun yang lebih bening selain beningnya hati,
tulusnya jiwa membuka pintu maaf,
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN.
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Mata bisa salah lihat,
kuping bisa salah dengar,
mulut bissa salah bicara,
hati bisa salah sangka,
di hari yang fitri ini,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

Jika aku memberi maaf,
bukan karena engkau meminta maaf,
tetapi karena sepenuh maaf aku berikan,
setulus hati, seikhlas niatku,
meski tanpa engkau minta.

Jika aku meminta maaf,
bukan karena hari ini lebaran,
tetapi kare ridho Allah Swt,
yang telah membukakan pintu kejujuran hati nurani,
untuk mengakui segala khilaf dan alpa,
dengan segenap cemas dan sesal,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.

SEKILAS SEJARAH ACEH

Wednesday, January 7, 2009
KERAJAAN ACEH DARUSSALAM 407 TAHUN ( 1496 - 1903 M )

Bendera Alam Peudeung - Bendera Kerajaan Aceh Darussalam

Kerajaan Aceh Darussalam berdiri menjelang keruntuhan Samudera Pasai. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, pada tahun 1360 M, Samudera Pasai ditaklukkan oleh Majaphit, dan sejak saat itu, kerajaan Pasai terus mengalami kemudunduran. Diperkirakan, menjelang berakhirnya abad ke-14 M, kerajaan Aceh Darussalam telah berdiri dengan penguasa pertama Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil Awal 913 H (1511 M) . Pada tahun 1524 M, Mughayat Syah berhasil menaklukkan Pasai, dan sejak saat itu, menjadi satu-satunya kerajaan yang memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut. Bisa dikatakan bahwa, sebenarnya kerajaan Aceh ini merupakan kelanjutan dari Samudera Pasai untuk membangkitkan dan meraih kembali kegemilangan kebudayaan Aceh yang pernah dicapai sebelumnya.

Pada awalnya, wilayah kerajaan Aceh ini hanya mencakup Banda Aceh dan Aceh Besar yang dipimpin oleh ayah Ali Mughayat Syah. Ketika Mughayat Syah naih tahta menggantikan ayahnya, ia berhasil memperkuat kekuatan dan mempersatukan wilayah Aceh dalam kekuasaannya, termasuk menaklukkan kerajaan Pasai. Saat itu, sekitar tahun 1511 M, kerajaan-kerajaan kecil yang terdapat di Aceh dan pesisir timur Sumatera seperti Peurelak (di Aceh Timur), Pedir (di Pidie), Daya (Aceh Barat Daya) dan Aru (di Sumatera Utara) sudah berada di bawah pengaruh kolonial Portugis. Mughayat Syah dikenal sangat anti pada Portugis, karena itu, untuk menghambat pengaruh Portugis, kerajaan-kerajaan kecil tersebut kemudian ia taklukkan dan masukkan ke dalam wilayah kerajaannya. Sejak saat itu, kerajaan Aceh lebih dikenal dengan nama Aceh Darussalam dengan wilayah yang luas, hasil dari penaklukan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya.

Sejarah mencatat bahwa, usaha Mughayat Syah untuk mengusir Portugis dari seluruh bumi Aceh dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil yang sudah berada di bawah Portugis berjalan lancar. Secara berurutan, Portugis yang berada di daerah Daya ia gempur dan berhasil ia kalahkan. Ketika Portugis mundur ke Pidie, Mughayat juga menggempur Pidie, sehingga Portugis terpaksa mundur ke Pasai. Mughayat kemudian melanjutkan gempurannya dan berhasil merebut benteng Portugis di Pasai.

Kemenangan yang berturut-turut ini membawa keuntungan yang luar biasa, terutama dari aspek persenjataan. Portugis yang kewalahan menghadapi serangan Aceh banyak meninggalkan persenjataan, karena memang tidak sempat mereka bawa dalam gerak mundur pasukan. Senjata-senjata inilah yang digunakan kembali oleh pasukan Mughayat untuk menggempur Portugis.

Ketika benteng di Pasai telah dikuasai Aceh, Portugis mundur ke Peurelak. Namun, Mughayat Syah tidak memberikan kesempatan sama sekali pada Portugis. Peurelak kemudian juga diserang, sehingga Portugis mundur ke Aru. Tak berapa lama, Aru juga berhasil direbut oleh Aceh hingga akhirnya Portugis mundur ke Malaka. Dengan kekuatan besar, Aceh kemudian melanjutkan serangan untuk mengejar Portugis ke Malaka dan Malaka berhasil direbut. Portugis melarikan diri ke Goa, India. Seiring dengan itu, Aceh melanjutkan ekspansinya dengan menaklukkan Johor, Pahang dan Pattani. Dengan keberhasilan serangan ini, wilayah kerajaan Aceh Darussalam mencakup hampir separuh wilayah pulau Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya hingga Pattani.

Demikianlah, walaupun masa kepemimpinan Mughayat Syah relatif singkat, hanya sampai tahun 1528 M, namun ia berhasil membangun kerajaan Aceh yang besar dan kokoh. Ali Mughayat Syah juga meletakkan dasar-dasar politik luar negeri kerajaan Aceh Darussalam, yaitu: (1) mencukupi kebutuhan sendiri, sehingga tidak bergantung pada pihak luar; (2) menjalin persahabatan yang lebih erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara; (3) bersikap waspada terhadap negara kolonial Barat; (4) menerima bantuan tenaga ahli dari pihak luar; (5) menjalankan dakwah Islam ke seluruh kawasan nusantara. Sepeninggal Mughayat Syah, dasar-dasar kebijakan politik ini tetap dijalankan oleh penggantinya.

Dalam sejarahnya, Aceh Darussalam mencapai masa kejayaan di masa Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1590-1636). Pada masa itu, Aceh merupakan salah satu pusat perdagangan yang sangat ramai di Asia Tenggara. Kerajaan Aceh pada masa itu juga memiliki hubungan diplomatik dengan dinasti Usmani di Turki, Inggris dan Belanda. Pada masa Iskandar Muda, Aceh pernah mengirim utusan ke Turki Usmani dengan membawa hadiah. Kunjungan ini diterima oleh Khalifah Turki Usmani dan ia mengirim hadiah balasan berupa sebuah meriam dan penasehat militer untuk membantu memperkuat angkatan perang Aceh.

Hubungan dengan Perancis juga terjalin dengan baik. Pada masa itu, Perancis pernah mengirim utusannya ke Aceh dengan membawa hadiah sebuah cermin yang sangat berharga. Namun, cermin ini ternyata pecah dalam perjalanan menuju Aceh. Hadiah cermin ini tampaknya berkaitan dengan kegemaran Sultan Iskandar Muda pada benda-benda berharga. Saat itu, Iskandar Muda merupakan satu-satunya raja Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen (Aula Kaca) di istananya yang megah, Istana Dalam Darud Dunya. Konon, menurut utusan Perancis tersebut, luas istana Aceh saat itu tak kurang dari dua kilometer. Di dalam istana tersebut, juga terdapat ruang besar yang disebut Medan Khayali dan Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah, dan aliran sungai Krueng yang telah dipindahkan dari lokasi asal alirannya.

Sebelum Iskandar Muda berkuasa, sebenarnya juga telah terjalin hubungan baik dengan Ratu Elizabeth I dan penggantinya, Raja James dari Inggris. Bahkan, Ratu Elizabeth pernah mengirim utusannya, Sir James Lancaster dengan membawa seperangkat perhiasan bernilai tinggi dan surat untuk meminta izin agar Inggris diperbolehkan berlabuh dan berdagang di Aceh. Sultan Aceh menjawab positif permintaan itu dan membalasnya dengan mengirim seperangkat hadiah, disertai surat yang ditulis dengan tinta emas. Sir James Lancaster sebagai pembawa pesan juga dianugerahi gelar Orang Kaya Putih sebagai penghormatan. Berikut ini cuplikan surat Sulta Aceh pada Ratu Inggris bertarikh 1585 M:

I am the mighty ruler of the Regions below the wind, who holds sway over the land of Aceh and over the land of Sumatra and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset.

(Hambalah Sang Penguasa Perkasa Negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh, tanah Sumatera dan seluruh wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam).

Ketika Raja James berkuasa di Inggris, ia pernah mengirim sebuah meriam sebagai hadiah kepada sultan Aceh. Hubungan ini memburuk pada abad ke 18, karena nafsu imperialisme Inggris untuk menguasai kawasan Asia Tenggara. Selain itu, Aceh juga pernah mengirim utusan yang dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid ke Belanda, di masa kekuasaan Pangeran Maurits, pendiri dinasti Oranye. Dalam kunjungan tersebut, Abdul Hamid meninggal dunia dan dimakamkan di pekarangan sebuah gereja dengan penuh penghormatan, dihadiri oleh para pembesar Belanda. Saat ini, di makam tersebut terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Pangeran Bernhard, suami Ratu Juliana.

Ketika Iskandar Muda meninggal dunia tahun 1636 M, yang naik sebagai penggantinya adalah Sultan Iskandar Thani Ala‘ al-Din Mughayat Syah (1636-1641M). Di masa kekuasaan Iskandar Thani, Aceh masih berhasil mempertahankan masa kejayaannya. Penerus berikutnya adalah Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675 M), putri Iskandar Muda dan permaisuri Iskandar Thani. Hingga tahun 1699 M, Aceh secara berturut-turut dipimpin oleh empat orang ratu. Di masa ini, kerajaan Aceh sudah mulai memasuki era kemundurannya. Salah satu penyebabnya adalah terjadinya konflik internal di Aceh, yang disebabkan penolakan para ulama Wujudiyah terhadap pemimpin perempuan. Para ulama Wujudiyah saat itu berpandangan bahwa, hukum Islam tidak membolehkan seorang perempuan menjadi pemimpin bagi laki-laki. Kemudian terjadi konspirasi antara para hartawan dan uleebalang, dan dijustifikasi oleh pendapat para ulama yang akhirnya berhasil memakzulkan Ratu Kamalat Syah. Sejak saat itu, berakhirlah era sultanah di Aceh.

Memasuki paruh kedua abad ke-18, Aceh mulai terlibat konflik dengan Belanda dan Inggris yang memuncak pada abad ke-19. Pada akhir abad ke-18 tersebut, wilayah kekuasaan Aceh di Semenanjung Malaya, yaitu Kedah dan Pulau Pinang dirampas oleh Inggris. Pada tahun 1871 M, Belanda mulai mengancam Aceh atas restu dari Inggris, dan pada 26 Maret 1873 M, Belanda secara resmi menyatakan perang terhadap Aceh. Dalam perang tersebut, Belanda gagal menaklukkan Aceh. Pada tahun 1883, 1892 dan 1893 M, perang kembali meletus, namun, lagi-lagi Belanda gagal merebaut Aceh. Pada saat itu, Belanda sebenarnya telah putus asa untuk merebut Aceh, hingga akhirnya, Snouck Hurgronye, seorang sarjana dari Universitas Leiden, menyarankan kepada pemerintahnya agar mengubah fokus serangan, dari sultan ke ulama. Menurutnya, tulang punggung perlawanan rakyat Aceh adalah para ulama, bukan sultan. Oleh sebab itu, untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Aceh, maka serangan harus diarahkan kepada para ulama. Saran ini kemudian diikuti oleh pemerintah Belanda dengan menyerang basis-basis para ulama, sehingga banyak masjid dan madrasah yang dibakar Belanda.

Saran Snouck Hurgronye membuahkan hasil: Belanda akhirnya sukses menaklukkan Aceh. J.B. van Heutsz, sang panglima militer, kemudian diangkat sebagai gubernur Aceh. Pada tahun 1903, kerajaan Aceh berakhir seiring dengan menyerahnya Sultan M. Dawud kepada Belanda. Pada tahun 1904, hampir seluruh Aceh telah direbut oleh Belanda. Walaupun demikian, sebenarnya Aceh tidak pernah tunduk sepenuhnya pada Belanda. Perlawanan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh masyarakat tetap berlangsung. Sebagai catatan, selama perang Aceh, Belanda telah kehilangan empat orang jenderalnya yaitu: Mayor Jenderal J.H.R Kohler, Mayor Jenderal J.L.J.H. Pel, Demmeni dan Jenderal J.J.K. De Moulin.

Kekuasaan Belanda berlangsung hampir setengah abad, dan berakhir seiring dengan masuknya Jepang ke Aceh pada 9 Februari 1942. Saat itu, kekuatan militer Jepang mendarat di wilayah Ujong Batee, Aceh Besar. Kedatangan mereka disambut oleh tokoh-tokoh pejuang Aceh dan masyarakat umum. Hubungan baik dengan Jepang tidak berlangsung lama. Ketika Jepang mulai melakukan pelecehan terhadap perempuan Aceh dan memaksa masyarakat untuk membungkuk pada matahari terbit, maka, saat itu pula mulai timbul perlawanan. Di antara tokoh yang dikenal gigih melawan Jepang adalah Teungku Abdul Jalil. Kekuasaan para penjajah berakhir ketika Indonesia merdeka dan Aceh bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

2.Silsilah
Berikut ini daftar para sultan yang pernah berkuasa di kerajaan Aceh Darussalam:
1. Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M)
2. Sultan Salahuddin (1528-1537).
3. Sultan Ala‘ al-Din al-Kahhar (1537-1568).
4. Sultan Husein Ali Riayat Syah (1568-1575)
5. Sultan Muda (1575)
6. Sultan Sri Alam (1575-1576).
7. Sultan Zain al-Abidin (1576-1577).
8. Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589)
9. Sultan Buyong (1589-1596)
10. Sultan Ala‘ al-Din Riayat Syah Sayyid al-Mukammil (1596-1604).
11. Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607)
12. Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636).
13. Iskandar Thani (1636-1641).
14. Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam (1641-1675).
15. Sri Ratu Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678)
16. Sri Ratu Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688)
17. Sri Ratu Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699)
18. Sultan Badr al-Alam Syarif Hashim Jamal al-Din (1699-1702)
19. Sultan Perkasa Alam Syarif Lamtui (1702-1703)
20. Sultan Jamal al-Alam Badr al-Munir (1703-1726)
21. Sultan Jauhar al-Alam Amin al-Din (1726)
22. Sultan Syams al-Alam (1726-1727)
23. Sultan Ala‘ al-Din Ahmad Syah (1727-1735)
24. Sultan Ala‘ al-Din Johan Syah (1735-1760)
25. Sultan Mahmud Syah (1760-1781)
26. Sultan Badr al-Din (1781-1785)
27. Sultan Sulaiman Syah (1785-…)
28. Alauddin Muhammad Daud Syah.
29. Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (1795-1815) dan (1818-1824)
30. Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818)
31. Sultan Muhammad Syah (1824-1838)
32. Sultan Sulaiman Syah (1838-1857)
33. Sultan Mansur Syah (1857-1870)
34. Sultan Mahmud Syah (1870-1874)
35. Sultan Muhammad Daud Syah (1874-1903)
Catatan: Sultan Ala‘ al-Din Jauhar al-Alam (sultan ke-29) berkuasa pada dua periode yang berbeda, diselingi oleh periode Sultan Syarif Saif al-Alam (1815-1818).

3. Periode Pemerintahan

Kerajaan Aceh Darussalam berdiri sejak akhir abad ke-15 hingga awal abad ke-20 M. Dalam rentang masa empat abad tersebut, telah berkuasa 35 orang sultan dan sultanah.

4. Wilayah kekuasaan

Di masa kejayaannya, wilayah kerajaan Aceh Darussalam mencakup sebagian pulau Sumatera, sebagian Semenanjung Malaya dan Pattani.

5. Struktur pemerintahan

Pada masa Sultan Ala‘ al-Din Mansur Syah (1577-1589) berkuasa, kerajaan Aceh sudah memiliki undang-undang yang terangkum dalam kitab Kanun Syarak Kerajaan Aceh. Undang-undang ini berbasis pada al-Quran dan hadits yang mengikat seluruh rakyat dan bangsa Aceh. Di dalamnya, terkandung berbagai aturan mengenai kehidupan bangsa Aceh, termasuk syarat-syarat pemilihan pegawai kerajaan. Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa, walaupun Aceh telah memiliki undang-undang, ternyata belum cukup untuk menjadikannya sebagai sebuah kerajaan konstitusional.

Dalam struktur pemerintahan Aceh, sultan merupakan penguasa tertinggi yang membawahi jabatan struktural lainnya. Di antara jabatan struktural lainnya adalah uleebalang yang mengepalai unit pemerintahan nanggroe (negeri), panglima sagoe (panglima sagi) yang memimpin unit pemerintahan Sagi, Kepala Mukim yang menjadi pimpinan unit pemerintahan mukim yang terdiri dari beberapa gampong, dan keuchiek atau geuchiek yang menjadi pimpinan pada unit pemerintahan gampong (kampung). Jabatan struktural ini mengurus masalah keduniaan (sekuler). Sedangkan pemimpin yang mengurus masalah keagamaan adalah tengku meunasah, imam mukim, kadli dan para teungku.

6. Kehidupan Sosial Budaya

a. agama

Dalam sejarah nasional Indonesia, Aceh sering disebut sebagai Negeri Serambi Mekah, karena Islam masuk pertama kali ke Indonesia melalui kawasan paling barat pulau Sumatera ini. Sesuai dengan namanya, Serambi Mekah, orang Aceh mayoritas beragama Islam dan kehidupan mereka sehari-hari sangat dipengaruhi oleh ajaran Islam ini. Oleh sebab itu, para ulama merupakan salah satu sendi kehidupan masyarakat Aceh. Selain dalam keluarga, pusat penyebaran dan pendidikan agama Islam berlangsung di dayah dan rangkang (sekolah agama). Guru yang memimpin pendidikan dan pengajaran di dayah disebut dengan teungku. Jika ilmunya sudah cukup dalam, maka para teungku tersebut mendapat gelar baru sebagai Teungku Chiek. Di kampung-kampung, urusan keagamaan masyarakat dipimpin oleh seseorang yang disebut dengan tengku meunasah.

Pengaruh Islam yang sangat kuat juga tampak dalam aspek bahasa dan sastra Aceh. Manuskrip-manuskrip terkenal peninggalan Islam di Nusantara banyak di antaranya yang berasal dari Aceh, seperti Bustanussalatin dan Tibyan fi Ma‘rifatil Adyan karangan Nuruddin ar-Raniri pada awal abad ke-17; kitab Tarjuman al-Mustafid yang merupakan tafsir Al Quran Melayu pertama karya Shaikh Abdurrauf Singkel tahun 1670-an; dan Tajussalatin karya Hamzah Fansuri. Peninggalan manuskrip tersebut merupakan bukti bahwa, Aceh sangat berperan dalam pembentukan tradisi intelektual Islam di Nusantara. Karya sastra lainnya, seperti Hikayat Prang Sabi, Hikayat Malem Diwa, Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, merupakan bukti lain kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Aceh.

b. Struktur social

Lapisan sosial masyarakat Aceh berbasis pada jabatan struktural, kualitas keagamaan dan kepemilikan harta benda. Mereka yang menduduki jabatan struktural di kerajaan menduduki lapisan sosial tersendiri, lapisan teratasnya adalah sultan, dibawahnya ada para penguasa daerah. Sedangkan lapisan berbasis keagamaan merupakan lapisan yang merujuk pada status dan peran yang dimainkan oleh seseorang dalam kehidupan keagamaan. Dalam lapisan ini, juga terdapat kelompok yang mengaku sebagai keturunan Nabi Muhammad. Mereka ini menempati posisi istimewa dalam kehidupan sehari-hari, yang laki-laki bergelar Sayyed, dan yang perempuan bergelar Syarifah. Lapisan sosial lainnya dan memegang peranan sangat penting adalah para orang kaya yang menguasai perdagangan, saat itu komoditasnya adalah rempah-rempah, dan yang terpenting adalah lada.

c. Kehidupan sehari-hari

Sebagai tempat tinggal sehari-hari, orang Aceh membangun rumah yang sering disebut juga dengan rumoh Aceh. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, mereka bercocok tanam di lahan yang memang tersedia luas di Aceh. Bagi yang tinggal di kawasan kota pesisir, banyak juga yang berprofesi sebagai pedagang. Senjata tradisional orang Aceh yang paling terkenal adalah rencong, bentuknya menyerupai huruf L, dan bila dilihat dari dekat menyerupai tulisan kaligrafi bismillah. Senjata khas lainnya adalah Sikin Panyang, Klewang dan Peudeung oon Teubee.

Sumber :http://history.melayuonline.com

Negeri Meureudu pernah dicalonkan sebagai ibu kota Kerajaan Aceh. Namun konspirasi politik kerajaan menggagalkannya. Sampai kerajaan Aceh runtuh, Meureudu masih sebuah negeri bebas.

Negeri Meureudu sudah terbentuk dan diakui sejak zaman Kerajaan Aceh. Ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa (1607-1636) Meureudu semakin diistimewakan. Menjadi daerah bebas dari aturan kerajaan. Hanya satu kewajiban Meureudu saat itu, menyediakan persediaan logistik (beras) untuk kebutuhan kerajaan Aceh.

Dalam perjalanan tugas Iskandar Muda ke daerah Semenanjung Melayu (Malaysia¬-red) tahun 1613, singgah di Negeri Meureudu, menjumpai Tgk Muhammad Jalaluddin, yang terkenal dengan sebutan Tgk Ja Madainah. Dalam percaturan politik kerajaan Aceh negeri Meureudu juga memegang peranan penting.

Hal itu sebegaimana tersebut dalam Qanun Al-Asyi atau Adat Meukuta Alam, yang merupakan Undang-Undang (UU) nya Kerajaan Aceh. Saat Aceh dikuasai Belanda, dan Mesjid Indra Puri direbut, dokumen undang-undang kerajaan itu jatuh ke tangan Belanda. Oleh K F van Hangen, dokumen itu kemudian diterbitkan dalam salah satu majalah yang terbit di negeri Belanda.

Dalam pasal 12 Qanun Al-Asyi disebutkan, “Apabila Uleebalang dalam negeri tidak menuruti hukum, maka sultan memanggil Teungku Chik Muda Pahlawan Negeri Meureudu, menyuruh pukul Uleebalang negeri itu atau diserang dan Uleebalang diberhentikan atau diusir, segala pohon tanamannya dan harta serta rumahnya dirampas.”

Kutipan Undang-Undang Kerajaan Aceh itu, mensahihkan tentang keberadaan Negeri Meureudu sebagai daerah kepercayaan sultan untuk melaksanakan segala perintah dan titahnya dalam segala aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan Kerjaan Aceh Darussalam.

Malah karena kemampun tersebut, Meureudu pernah dicalonkan sebagai ibu kota kerajaan. Caranya, dengan menimbang air Krueng Meureudu dengan air Krueng Aceh. Hasilnya Air Krueng Meureudu lebih bagus. Namun konspirasi elit politik di Kerajaan Aceh mengganti air tersebut. Hasilnya ibu kota Kejaan Aceh tetap berada di daerah Banda Aceh sekarang (seputar aliran Krueng Aceh). Untuk mempersiapkan pemindahan ibu kota kerajaan tersebut, sebuah benteng pernah dididirkan sultan Iskandar Muda di Meureudu. Benteng itu sekarang ada di tepi sungai Krueng Meureudu.

Peranan Negeri Meureudu yang sangat strategis dalam percaturan politik Pemerintahan Kerajaan Aceh. Ketika Sultan Iskandar Muda hendak melakukan penyerangan (ekspansi) ke semenanjung Melayu (Malaysia-red). Ia mengangkat Malem Dagang dari Negeri Meureudu sebagai Panglima Perang, serta Teungku Ja Pakeh-juga putra Meureudu-sebagai penasehat perang, mendampingi Panglima Malem Dagang.

Setelah Semenanjung Melayu, yakni Johor berhasil ditaklukkan oleh Pasukan pimpinan Malem Dagang, Sultan Iskandar Muda semakin memberikan perhatian khusus terhadap negeri Meureudu. Kala itu sultan paling tersohor dari Kerajaan Aceh itu mengangkat Teungku Chik di Negeri Meureudu, putra bungsu dari Meurah Ali Taher yang bernama Meurah Ali Husein, sebagai perpanjangan tangan Sultan di Meureudu.

Negri Meureudu negeri yang langsung berada dibawah kesultanan Aceh dengan status nenggroe bibeueh (negeri bebas-red). Dimana penduduk negeri Meureudu dibebaskan dari segala beban dan kewajiban terhadap kerajaan. Negeri Meureudu hanya punya satu kewajiban istimewa terhadap Kerajaan Aceh, yakni menyediakan bahan makanan pokok (beras-red), karena Negeri Meureudu merupakan lubung beras utama kerajaan.

Keistimewaan Negeri Meureudu terus berlangsung sampai Sultan Iskandar Muda diganti oleh Sultan Iskandar Tsani. Pada tahun 1640, Iskandar Tsani mengangkat Teuku Chik Meureudu sebagai penguasa defenitif yang ditunjuk oleh kerajaan. Ia merupakan putra sulung dari Meurah Ali Husein, yang bermana Meurah Johan Mahmud, yang digelar Teuku Pahlawan Raja Negeri Meureudu.

Sejak Meurah Johan Mahmud hingga kedatangan kolonial Belanda, negeri Meureudu telah diperintah oleh sembilan Teuku Chik, dan selama penjajahan Belanda, Landscap Meureudu telah diperintah oleh tiga orang Teuku Chik (Zelfbeestuurders).

Kemudain pada zaman penjajahan Belanda, Negeri Meureudu dirubah satus menjadi Kewedanan (Orderafdeeling) yang diperintah oleh seorang Controlleur. Selama zaman penjajahan Belanda, Kewedanan Meureudu telah diperintah oleh empat belas orang Controlleur, yang wilayah kekuasaannya meliputi dari Ulee Glee sampai ke Panteraja.

Setelah tentara pendudukan Jepang masuk ke daerah Aceh dan mengalahkan tentara Belanda, maka Jepang kemudian mengambil alih kekuasaan yang ditinggalakan Belanda itu dan menjadi penguasa baru di Aceh. Di masa penjajahan Jepang, masyarakat Meureudu dipimpin oleh seorang Suntyo Meureudu Sun dan Seorang Guntyo Meureudu Gun.

Sesudah melewati zaman penjajahan, sejak tahun 1967, Meureudu berubah menjadi Pusat Kewedanan sekaligus Pusat Kecamatan. Selama Meureudu berstatus sebagai Kewedanan, telah diperintah oleh tujuh orang Wedana. Pada tahun 1967, Kewedanan Meureudu dipecah menjadi empat kecamatan yaitu Ulee Glee, Ulim, Meureudu dan Trienggadeng Penteraja, yang masing-masing langsung berada dibawah kontrol Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie.

Kini daerah kewedanan Meureudu akan dijadikan sebagai Kabupaten Baru (Pidie Jaya) yang membawahi delapan Kecamatan, yakni Kecamatan Bandar Dua, Kecamatan Jangka Buya (pacahan Bandar Dua), Kecamatan Ulim, Kecamatan Meureudu, kecamatan Meurah Dua (Pecahan Meureudu), Kecamatan Trienggadeng, Kecamatan Panteraja (Pecahan Trienggadeng) dan Kecamatan Bandar Baru. Delapan kecamatan di bagian timur kabupaten Pidie ini ditetapkan sebagai Kabupaten Pidie Jaya, dengan Meureudu sebagai ibu kotanya.***
Iskandar Norman

PEMBAGIAN HADITS MENURUT SANDARANNYA===== ULUMUL HADITS=

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Hadits adalah pensyarah yang menjelaskan kemujmalan (keglobalan) Al-qur’an. Misalnya di dalam Al-qur’an ada perintah untuk mengerjakan sholat, akan tetapi di dalamnya tidak dijelaskan bagaimana cara mengerjakan sholat. Semua hukum-hukum yang berkaitan dengan sholat seperti waktu sholat, rukun-rukun sholat, gerakan-gerakan sholat, pembatal-pembatal sholat, dan hukum-hukum lainnya dapat kita temukan penjelasannya di dalam Hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.
Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad SAW, maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut. Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. Ada yang melihat atau mendengar, ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera, misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. Disamping itu, dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu.


B. Tujuan pembahasan
Melalui pembuatan makalah ini, diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan untuk lebih memahami pengertian istilah-istilah hadits marfu’, mauquf dan maqthu’.
Setelah mahasiswa mempelajari dan memahami materi tersebut, penulis mengharapkan agar mahasiswa dapat menjadikannya sebagai bahan bacaan atau ilmu yang bermanfaat. Baik bagi diri sendiri maupun bagi yang memerlukannya


BAB II
PEMBAHASAN

PEMBAGIAN HADITS MENURUT SANDARANNYA
Hadits menurut sandarannya terbagi menjadi dua: maqbul (diterima) dan mardud (ditolak). Dan berdasarkan pembagian ini terbagi lagi menjadi empat macam yaitu:
1. Hadits Qudsi (sudah dijelaskan pada pembahasan yang lalu)
2. Marfu’
3. Mauquf
4. Maqthu’
Berikut ini penjelasan tiga macam hadits terakhir yang disebutkan diatas:

A. HADITS MARFU’
1. Definisi
Al-Marfu’ menurut bahasa: isim maf’ul dari kata rafa’a (mengangkat), dan ia sendiri berarti “yang diangkat”. Dinamakan demikian karena disandarkannya ia kepada yang memiliki kedudukan tinggi, yaitu Rasulullah SAW. Taqrir (penetapan), atau sifat yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik yg bersifat jelas ataupun secara hukum, baik yang menyandarkan itu sahabat atau bukan, baik sanadnya muttashil (bersambung) atau munqathi’(terputus).

Hadits marfu’ adalah:

Artinya:
Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dalam bentuk perkataan, perbuatan, taqrir(pengakuan), ataupun sifat.
2. Hukum hadits Marfu’.
Hukum hadits marfu’ tergantung pada kualitas dan bersambung atau tidaknya sanad, sehingga dengan demikian memungkinkan suatu hadits marfu’ berstatus shahih, hasan, dhaif.
3. Macam-macamnya
Dari definisi diatas, jelaslah bahwa hadits marfu’ ada delapan macam, yaitu: berupa perkataan, perbuatan, taqrir, dan sifat. Masing-masing dari empat macam ini mempunyai bagian lagi, yaitu: marfu’ secara tashrih (tegas dan jelas), dan marfu’ secara hukum.


Contohnya:
1. Marfu’ secara tashrih: perkataan seorang sahabat, “aku telah mendengar rasulullah bersabda begini”, atau “ rasulullah telah menceritakan kepadaku begini”, “Rasulullah bersabda begini”, atau “Dari rasulullah bahwasanya bersabda begini”, atau yang semisal dengan itu.
2. Marfu’ dari sabda secara hukum: perkataan dari sahabat yang tidak mengambil dari cerita Isra’iliyat berkaitan dengan perkara dengan perkara yang terjadi dimasa lampau seperti: awal penetapan makhluk, barita tentang para nabi, atau berkaitan dengan masalah yang akan datang, seperti: tanda-tanda hari kiamat, dan keadan di akhirat. Di antaranya perkataan sahabat; “ kami diperintahkan seperti ini”, atau “kami dilarang untuk begini”, atau “termasuk sunnah melakukan begini”.
3. Perbuatan yang Marfu’ secara tashrih: seperti perkatan seorang sahabat: “Aku telah melihat Rasulullah SAW melakukan begini”.
4. perbuatan yang Marfu’ secara hukum: seperti perbuatan sahabat yang btidat ada celah untuk berijtihad didalamnya, menunjukkan bahwa hal itu bukan dari sahabat, melainkan dari Nabi SAW, sebagaiman disebutkan dalam riwayat Bukhari: “Adakah Ibnu Umar dan Ibnu Abbas berbuka puasa dengan mengqashar shalat pada perjalanan empat Burud” ( jamak dari bard, salah satu satuan jajrak yang digunakan di zaman itu, sekitar 80 km).
5. Penetapan (taqrir) yang marfu’ tashrih: seperti perkataan shahabat, “Aku telah melakukan perbuatan demikian di hadapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam”; atau “Si Fulan telah melakukan perbuatan demikian di hadapan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” - dan dia (shahabat tersebut) tidak menyebutkan adanya pengingkaran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam terhadap perbuatan itu.
6. Penetapan yang dimarfu’kan secara hukum: seperti perkataan sahabat, “Adalah para sabat melakukan begini pada zaman Nabi SAW”.
7. sifat yang dimarfu’kan secara tashrih: seperti perkatan sahabat menyebutkan sifayt Rasulullah seperti dalam hadits Ali ra, “Nabi SAW itu tidak tinggi dan tidak pula pendek”, “Adalah Nabi SAW berkulit cerah, peramah dan lemah lembut”.
8. Sifat yang dimarfu’kan secara hukum: seperti perkataan sahabat: “Dihalalkan untuk kami begini”, atau “telah diharamkan atas kami demikian’. Ungkapan seperti secera zhahir menunjukkan bahwa Nabi SAW yang menghalalkan dan mengharamkan. Ini dikarenakan sifat yang secara hukum menunjukan bahwa perbuatan adalah sifat dari pelakunya, dan Rasulullah SAW adalah yang menghalalkan dan mengharamkan, maka penghalalan dan pengharaman itu sifat baginya. Poin ini sebenarnya banyak mengandung unsur tolerir yang tinggi, meskipun bentuk seperti ini dihukumi sebagai sesuatu yang marfu’.



B. HADITS MAUQUF
1. Pengertian
Al-Mauquf berasal dari Waqf yang berarti berhenti. Seakan-akan parawi menghentikan sebuah hadits pada sahabat.
Hadits Mauquf menurut istilah adalah: perkataan, atau perbuatan, atau taqrir yang disandarkan kepada seorang sahabat Nabi SAW , baik bersambung sanadnya kepada nabi maupun tidak bersambung.
Ajjaj Al- Khattib mengemukakan definisi sebagai berikut:


Yaitu: segala yang diriwayatkan dari sahabat dalam bentuk perkataan beliau, perbuatan, atau taqrir, baik sanadnya muttashil atau munqathi’.
At-Thahhan memilih definisi yang lebih ringkas, yaitu:

Sesuatui yang disandarkan kepada sahabat berupa perkataan, perbuatan, ataupun taqrir.
Dari definisi diatas dappat disimpullkan bahwa, segala sesuatu yang diriwayatkan dari, atau dihubungkan kepada, seorang sahabat atau sejumlah sahabat, baik berupa perkataan, dan pengakuan disebut hadits mauquf. Dan sanadnya boleh jadi muttashil, atau munqathi’.




2. Macam-macam hadits mauquf:
1. Mauquf Qauli (perkataan). Seperti perkataan seorang perawi, telah berkata Ali bin abi thalib ra, “Berbicaralah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui, apakah kalian ingin mereka mendustakan Allah dan RasulNya ?”
Contoh lain:


Bukhari berkata, “Ali ra berkata,’berbicaralah dengan manusia tentang apa yang diketahui/dipahaminya, apakah kamu ingin bahwa Allah dan rasulNya didustai.”.


Artinya:Dari ‘Abdullah (ibn Mas’ud), ia berkata:”janganlah hendaknya salah seorang dari kamu taqlid Agamanya dari orang, karena kalau orang ini beriman, ia juga turut beriman; tetapi kalau orang itu kufur, iapun ikut kufur”.
2. Mauquf Fi’li (perbuatan). Seperti perkataan Imam Bukhari,:

“Ibnu Abbas menjadi imam sedangkan dia (hanya) bertayamum.”.


Artinya:Dari ‘Abdillah bin Ubaid bin ‘Umair, ia berkata: Umar menyuruh kepada seorang anak laki-laki memilih antara ayah dan ibunya. Maka anak itu memilih ibunya, lalu ibunya bawa dia.
3. Mauquf Taqriri: seperti perkataan seorang taba’in, “ Aku telah melakukan begini didepan seorang sahabat dan dia tidak mengingkari atasku”.
Para fuqaha khurasan menamai hadits mauquf dengan atsar, dan hadits marfu’, yaitu sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW dengan khabar. Namun, para ahli hadits menamai keduanya dengan atsar, karena kata atsar pada dasarnya berarti riwayat atau sesuatu yang diriwayatkan.
Riwayat Mauquf sanadnya ada yang shahih, atau hasan, atau dha’if. Hukum asal pada hadits Mauquf adalah tidak boleh dipakai berhujjah dalam agama, karena perkataan dan perbuatan sahabat, tetapi jika dia kuat maka dapat menguatkansebagian hadits-hadits dha’if.
Hadits mauquf yang berstatuskan marfu’
Di antara hadits mauquf terdapat hadits yang lafadh dan bentuknya mauquf, namun setelah dicermati hakikatnya bermakna marfu’, yaitu berhubungan dengan Rasul SAW. Hadits yang demikian dinamai oleh para ulama hadits dengan Al-mauquf Lafzhan Al-marfu’ ma’nan, yaitu: secara lafaz berstatus mauquf namun scara makna berstatus marfu’.
Di antara bentuk-bentuk hadits mauquf yang dihukumkan, atau berstatus marfu’, adalah:
1) Perkataan sahabat mengenai masalah-masalah yang bukan merupakan lapangan ijtihad dan pula dapat ditelusuri melalui pemahaman secara kebahasaan, serta tidak pula bersumber dari ahli kitab, umpamanya:
a. Berita tentang masa lalu, seperti tentang awal kejadian manusia.
b. Berita tentang masa yang akan datang, seperti huru-hara dan kedahsyatan keadaan yang akan dialami pada hari kiamat.
2) Perbuatan sahabat mengenai masalah yang bukan merupakan lapangan ijtihad, seperti shalat kusuf yang dilakukan oleh Ali ra dengan cara melakukan lebih dari dua ruku’ pada setiap raka’atnya.
3) Berita dari sahabat mengenai perkataan atau perbuatan mereka tantang sesuatu serta tidak adanya sikap keberatan yang muncul mengenai perkataan/ perbuatan tersebut. Terhadap hal ini ada dua keadaan, yaitu:
a. Apabila perkataan atau perbuatan sahabat tersebut disandarkan kepada masa Nabi SAW, maka hukumnya adalah Marfu’, seperti perkataan Jabir ra.:

Adalah kami berazal pada masa Rasulullah SAW (H.R.Bukhari Muslim)
b. Namun,apabila perkataan atau perbuatan sahabat tersebut tidak disandarkan lepada masa Nabi SAW, maka jumhur ulama berpendapat bahwa Hadits tersebut statusnya adalah Mauquf.
4) Perkataan sahabat: “umirna bikadza.”(kami diperintahkan untuk melakukan itu) ,dan lain-lain.
5) Perawi hadis tersebut ketika menyebutkan nama sahabat mengatakan, “ yarfa’uhu”,” dia me-rafa’kannya”.
6) Penafsiran sahabat yang berhubungan sebab Nuzul ayat Al-Qur’an, seperti perkataan Jabir:


Orang-orang Yahudi berkata,”siapa yang menggauli istrimya dari arah belakangnya, maka akan lahir anak yang juling matanya,”maka setelah itu turunlah ayat Al-Qur’an yang mengatakan,”istri-istri kamu ádalah ibarat lahan perkebunan kamu,….(H.R. Muslim)
3. Hukum Hadits Mauquf
Apabila suatu Hadits Mauquf berstatus hukum Marfu’,sebagaimana diuraikan di muka, dan berkualitas shahih atau Hasan maka hukumnya sama seperti hadits marfu’’ yaitu dapat dijadikan hujjah.
Namun, apabila status hukumnya tidak Marfu’, maka para Ulama berbeda pendapat tentang ke-hujjahan-nya. Apabila fatwa sahabat tersebut diterima dengan suara bulat oleh para sahabat melalui suatu konsensus, maka para Ulama sepakat bahwa fatwa tersebut bersifat mengikat dan diterima sebagai Ijma’. Akan tetapi, terhadap fatwa seorang sahabat yang tidak didukung oleh para sahabat, para Ulama berbeda pendapat. Perbedaan tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
a) Imam Malik, menyatakan bahwa fatwa seorang sahabat adalah dalil yang sah dan harus didahulukan dari qiyas, baik fatwa tersebut señalan dengan qiyas atau tidak. Pendukung pendapat ini juga mendasarkankan pendapat mereka kepada beberapa Hadits Nabi, seperti:

Sahabatku adalah seperti bintang, siapa saja yang kamu ikuti di antara mereka, kamu akan memperoleh petunjuk.
b) Pendapat lain dari Ahmad ibn Hanbal, ulama Hanafiyah Abu al-Hasan al-Karkhi, menyatakan bahwa ijtihad seorang sahabat tidaklah merupakan dalil hukum, serta tidak mengikat para mujtahid yang datang kemudian dan tidak juga yang lain. Lebih lanjut ulama kelompok ini menyatakan bahwa seorang mujtahid haruslah mendasarkan ijtihadnya langsung kepada sumber syariah dan bukan bertaklid kepada orang lain, termasuk kepada sahabat.
c) Pendapat yang ketiga menyatakan bahwa fatwa sahabat adalah hukum dan dalil yang mengikat apabila fatwa tersebut bertentangan, atau tidak sejalan dengan qiyas. Karena hal ini mengindikasikan lemahnya qiyas dlam masalah tersebut. Namun, apabila pendapat sahabat sejalan dengan qiyas, maka pendapat tersebut diterima sebagai dalil hanya karena kesejalanannya dengan qiyas yang sudah merupakan dalil yang sah. Jadi, fatwa sahabat disini bukanlah dalil yang berdiri sendiri.



C. HADIST MAQTHU’
1. Pengertian
Al-Maqthu’ artinya yang diputuskan atau yang terputus. Hadits Maqthu’ menurut istilah yaitu perkataan dan perbuatan yang disandarkan kepada tabi’i atau orang dibawahnya, baik bersambung sanadnya atau tidak bersambung.
Dan perbedaan antara Al-Maqthu’ dan Al- Munqathi’, bahwasanya Al-Maqthu’adalah bagian dari sifat matan, sedang Al-Munqathi’ bagian dari sanad. Hadits yang Maqthu’ itu dari perkataan tabi’i dan orang yang dibawahnya, dan bisa jadi sanadnya bersambung sampai kepadanya, sedang yang munqathi’ sanadnya tidak bersambung dan tidak ada kaitannya dengan matan.
Sebagian ulama hadits , seperti Imam As-Syafi’I dan At-Thabarani menamakan Al-Maqthu’ dengan Al-Munqathi’ yang tidak bersambung sanadnya, ini adalah istilah yang tidak populer, hal itu terjadi sebelum adanya penetepan istilah-istilah dalam ilmu hadits, kemudian menjadi istilah Al- Maqthu’ sebagai pembeda dalam istilah Al- Munqathi’.
Contohnya:
1. Al-maqthu’ al-qauli(yang berupa perkataan):seperti perkataan Hasan Al-Basri tentang shalat dibelakang ahli bid’ah,”shalatlah dan dialah yang menanggung bid’ahnya.
2. Al-maqthu’ al-fi’li (yang berupa perbuatan)

Artinya: dari Qatadah, ia berkata: Adalah Sa’id bin Musaiyib pernah shalat dua rakaat sesudah ‘Ashar.
3. Al-maqthu’ at-taqriri


Artinya: dari Hakam bin ‘Utaibah, ia berkata: Adalah seorang hamba mengimami kami dalam mesjid itu, sedang syuraih (juga) shalat disitu.
2. Status hukum hadits Maqthu’
Hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah dalam menetapkan sesuatu hukum, karena status dari percatan Tabi’in sama dengn perkataan Ulama lainnya.
Tempat yang diduga terdapat hadits Mauquf dan Maqthu’:
a. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah
b. Mushannaf Abdurrazzaq
c. Kitab-kitab tafsir: Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Al-Mundzir.











BAB III
PENUTUP

Kesimpulan :
1. Hadits marfu’ secara istilah adalah Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW dalam bentuk perkataan, perbuatan, taqrir(pengakuan), ataupun sifat.
2. Hadits marfu’ ada delapan macam, yaitu: berupa perkataan, perbuatan, taqrir, dan sifat. Masing-masing dari empat macam ini mempunyai bagian lagi, yaitu: marfu’ secara tashrih (tegas dan jelas), dan marfu’ secara hukum.
3. Hadits mauquf secara istilah adalah perkataan, atau perbuatan, atau taqrir yang disandarkan kepada seorang sahabat Nabi SAW , baik bersambung sanadnya kepada nabi maupun tidak bersambung.
4. Hadits maqthu’ secara istilah adalah perkataan dan perbuatan yang disandarkan kepada tabi’i atau orang dibawahnya, baik bersambung sanadnya atau tidak bersambung.
5. Setiap hadits mempunyai status hukum tersendiri berdasarkan ketetapan atau pendefinisian hadits tersebut.




DAFTAR PUSTAKA


Al-Qaththan, Syeikh Manna. 2004. Pengantar Study Ilmu Hadits. Cetakan IV. Jakarta Timur. Maktabah Wahdah.

Hasan, Abdul Qadir. 2002. Ilmu Mushthala’ah Hadits. Bandung. CV.Diponegoro.

Yuslem, Nawir. 2001. Ulumul Hadits. Cetakan I. Jakarta Selatan PT.Mutiara Sumber Widya.

http://waii-hmna.blogspot.com/2007/06/012-klasifikasi-hadits-marfu’-mauquf-maqthu’.html


http://www.tokoyasin.com/blog/?p=59

SHALAT JENAZAH DAN TATA CARANYA

SHALAT JENAZAH



1. Syarat-syarat shalat jenazah
a. Shalat jenazah sama halnya dengan shalat yang lain, yaitu harus menutup aurat, suci dari hadats besar maupun kecil, suci badan, pakaian dan tempatnya serta menghadap qiblat.
b. Mayit sudah dimandikan dan dikafani.
c. Letak mayit sebelah qiblat orang yang menyalatinya, kecuali kalau shalat dilakukan diatas kubur atau shalat ghaib.

2. Rukun dan cara mengerjakan shalat jenazah
Shalat jenazah tidak dengan ruku’ dan sujud serta tidak dengan azan dan iqamat, dan caranya sebagai berikut :
Setelah berdiri sebagaimana mestinya akan mengerjakan shalat, maka :

a. Niat, menyengaja melakukan shalat atas mayit dengan empat takbir, menghadap qiblat karena Allah.
Lafadh niatnya :
Untuk mayit laki-laki :

اصلى على هذا الميت اربع تكبيرات فرض الكفاية مأموما لله تعالى

Artinya :
“Aku niat shalat atas mayit ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah ta’ala”.

Untuk mayit perempuan :
اصلى على هذه الميتة اربع تكبيرات فرض الكفاية مأموما لله تعالى
b. Setelah takbiratul ihram, yakni setelah mengucapkan “Allahu Akbar” bersamaan dengan niat, sambil meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri diatas perut (sedakep), kemudian membaca surat fatihah (tidak membaca surat yang lain), etalah membaca fatihah terus takbir membaca “Allahu Akbar”.
c. Setelah takbir yang kedua, terus membaca shalawat atas nabi dengan sempurna, yaitu sebagai berikut :

اللهم صلى على محمد وعلى ال محمد كما صليت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم وبارك على محمد وعلى ال محمد . كما بركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم فى العالمين انك حميد مجيد.

Artinya :
“Ya allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad dan atas keluarganya , sebagaimana tuhan pernah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad dan para keluarganya, sebagaimana tuhan pernah membarikan berkah kepada Nabi Ibrahim dan para keluarganya. Di selurah alam ini Tuhanlah yang Terpuji lagi yang maha Mulia”.

d. Setelah takbir yang ketiga, kemudian membaca doa sekurang-kurangnya (dan lebih baik sempurna), yaitu sebagai berikut :

اللهم اغفر له (لها) وارحمه (ها) وعافه (ها) واعف عنه (ها) واكرم نزله (ها) ووسع مدخله (ها) واغسله (ها) باالماء والثلج والبرد ونقه (ها) من الخطاي كما ينقى الثوب البيض من الدنس وابدله (ها) دار خيرا من داره (ها) واهلا خيرا من اهله (ها) وزوجا خيرا من زوجه (ها) وقه (ها) فنتة القبر وعذاب النار.

Artinya :
“ya Allah ampunilah dia, dan kasihanilah dia, sejahterakan dia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, hormatlah kedatangannya, dan luaskanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan embun, bersihkanlah ia dari segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran, dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya yang dahulu, dan gantikanlah baginya ahli keluarga yang lebih baik dari pada ahli keluarganya yang dahulu, dan peliharalah (hindarkanlah) ia dari siksa kubur, dan azab api neraka.

Keterangan :
Jika mayit perempuan lafadh lahu menjadi lahaa dan seterusnya.
Jika mayit anak-anak doanya sebagai berikut :

اللهم اجعله فرط لأبويه وسلفا وذخرا وعظة واعتبارا وشفيعا وثقل به موازينهما وافرغ الصبر على قلوبهما ولا تفتنهما بعده ولا تحرمنا اجره.
Artinya :
“Ya Allah jadikanlah ia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bundanya, dan sebagai titipan, kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran ibarat serta syafa’at bagi orang tuanya. Dan beratkanlah timbangan ibu bapaknya karenanya, serta berilah kesabaran dalam hati kedua ibu bapaknya. Dan janganlah menjadikan fitnah bagi ayah bundanya sepeninggalannya, dan janganlah tuhan menghalangi pahala kepada dua orang tuanya”.

e. Selesai takbir keempat, membaca dengan sempurna doa, yaitu sebagai berikut :

اللهم لاتحرمنا اجره ولاتفتنا بعده واغفرلنا وله ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولاتجعل فى قلوبنا غلا للذين امنوا ربنا انك رؤف رحيم.
Artinya :
“Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan janganlah engkau memberi kami fitnah sepeniggalnya, dan ampunilah kami dan dia, dan bagi saudara-saudara kita yang mendahului kita dengan iman, dan janganlah engakau menjadikan kegelisahan dalam hati kami dan bagi orang-orang yang beriman. Wahai tuhan kami, sesungguhnya engkaulah maha pengampun lagi maha penyayang”.

f. Kemudian (selesai) memberi salam sambil memalingkan muka kekanan dan kekiri dangan ucapan sebagai berikut :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
Artinya :
“keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian”.